Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #215

Chapter #215

Tidak lama, Tegar melihat sebuah benda aneh yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Benda itu berbentuk aneh dan tidak pernah dia jumpai sebelumnya.

“Apa ini? Aku gak pernah jumpa ini sebelumnya.” Tegar mengambil benda itu dan memperlihatkannya kepada Yani dan Hisyam. Yani mendekat dan mengambil benda itu dari tangan Tegar. Hisyam yang tahu terkait benda itu, hanya bisa terkejut.

“Benda ini? Bukankah benda ini adalah benda….” Hisyam tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Pak Hisyam, Njenengan tau sesuatu? Apa yang Njenenga tau dari benda ini?” tanya Tegar yang melihat Hisyam seperti orang yang begitu shock.

“Mbah, Lam dan Mim beneran dalam bahaya.” Hisyam mentap Yani dengan air mata yang tidak bisa ditahan.

“Hisyam, aku tau semua itu. Makanya aku datang ke tempat ini untuk memastikan mereka aman dan tidak perlu menghadapi bahaya ini.” Yani menatap Hisyam yang sedang menangis. Yani tau, jika Hisyam sangat mengkhawatirkan Lam juga Mim. “Hisyam,

“Kenapa sama Kak Lam? Kenapa sama Kak Mim?” tanya Tegar. Hisyam dan Yani terdiam dan memandang rumah yang kedua lelaki itu tempati. Yani terdiam dan tampak ada sesuatu yang tengah melindungi rumah itu.

“Hambali sepertinya sudah sampai di lokasi dan apa yang dia lakukan sudah mulai punya efek ke rumh ini.” Yani menatap Hisyam dan Tegar.

“Mbah, apa yanb terjadi? Apa yang sudah terjadi dengan rumah ini?” tanya Tegar.

“Aku melihat jika rumah ini telah dilindungi sesuat ghaib mirip sebuah payung. Tapi, di saat yang sama ada kekuatan yang terus mengintai. Kekuatan itu akan terus berperang selama beberapa hari mendatang.” Yani menatap rumah itu sambil meneteskan air mata.

“Mbah Yani, semuanya akan baik-baik saja kan?” tanya Tegar.

“Kalian berdoa saja, semoga tidak ada hal yang buruk yang akan menimpa mereka berdua.” Hisyam dan Tegar hanya bisa meneteskan air mata dan saling pandang.

Tidak lama, Mim berteriak. Mendengar teriakan Mim, Tegar dan Hisyam langsung menuju rumah. Jelas terlihat, Lam tengah tidak sadarkan diri.

“Kak Lam.” Tegar menggotongnya ke ranjang dan memberikan beberapa obat-obatan yang tersedia.

“Kak Lam kenapa?” tanya Mim sambil menangis. Tegar memberikan bantuan sebisa yang dia lakukan.

“Kak Mim, tolong pegang tangan Kak Lam.” Mim hanya bisa diam dan menuruti apa yang Tegar katakan.

Tegar melakukan sesuatu dan dia tidak bisa mengatakan sebuah hal yang dia ketahui dari tangan Lam. Salah satu tanganLam ada luka yang menurutnya aneh.

“Tegar, kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Hisyam yang melihat ada sesuatu yang tengah disembuyikan oleh Tegar.

“Pak Hisyam, aku gak bisa mengatakannya di sini.” Tegar terdiam dan Mim tidak bisa diam begitu saja. Dia terus memaksa Tegar mengatakan apa yang diketahuinya.

Lihat selengkapnya