Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #216

Chapter #216

“Tegar, aku tau kamu sangat menyayangi Mim.” Lam mengatakan itu dengan terbata-bata. “Aku tau, kau sangat menyayangi Mim.”

“Kak, tapi bagaimanapun juga, Kak Mim akan aman kalo sama kamu. Tidak ada orang yang bisa memahami Kak Mim, seperti kamu.” Tegar tersenyum dan Lam menggeleng. Lam tau sesuatu. Dia tau sesuatu tentang Tegar.

“Tegar, aku tau kalo kamu sangat menyayangi kami. Maaf sudah meragukankmu. Aku minta maaf, sudah sempat meragukanmu selama ini. Sekarang, aku tau kalo kamu dalah orang yang memang ditakdirkan untuk menemani adikku dan melindunginya suatu saat nanti.” Lam tersenyum dan menggengam tangan Tegar.

“Kak Lam, aku cuma orang luar. Aku bukan keluarga kalian. Kak Mim bisa melindungi dirinya sendiri walau kondisinya seperti ini. Kak Lam, aku tidak pernah meragukan Kak Mim walau kondisinya tidak sempurna bagi orang lain. Bagiku, Kak Mim bukan orang yang lemah.” Tegar membalas apa yang Lam katakan.

“Tidak banyak orang luar yang mau memandang kami. Kamu bahkan mau tinggal di rumah ini sama kami. Kamu mau tinggal sama kami saja, itu sudah luar biasa.” Lam terdiam beberapa saat. “Tidak banyak orang yang mau menganggap kami ada, apalagi tinggal sama kami. Aku tau alasan itu karena rumah ini sudah penuh dengan aura ghaib.”

“Aura ghaib?” tanya Tegar dan menoleh ke arah Mim. Mim menggeleng dan tidak membenarkan apa yang baru Tegar sampaikan.

“Gak ada aura ghaib di sini. Hanya saja, ada sesuatu yang berefek dari kekuatan ghaib yang kami miliki, membuat semua orang bilang kalo tempat ini punya aura gak baik. Ini lebih ke efek dari kekuatan yang kami miliki.” Mim menjelaskan semuanya dan Tegar hanya bisa diam menatap Lam.

“Kak Lam, gak ada yang namanya aura ghaib seperti yang baru kau katakan. Aku tidak merasakan apapun di rumah ini.” Tegar menatap Lam yang masih berbaring.

“Kau serius tidak merasakan sesuatu aneh yan ada di rumah ini?” tanya Lam. Tegar menggeleng.

“Kak Mim, memang apa yang terjadi?” tanya Tegar yang melihat Mim juga heran dengan apa yang baru saja Tegar isyaratkan.

“Aku pernah dengar, kalo siapapun yang pernah ke sini akan merasa gak nyaman, dan itu bukan sekedar omongan biasa. Itu sudah terjadi.” Mim akhirnya menceritakan apa yang terjadi selama bertahun-tahun.

“Gak nyaman? Kenapa harus gak nyaman? Aku, Pak Hisyam dan Mbah Yani pernah ke sini dan gak ada sesuatu yang membuat kami gak nyaman. Memang apa yang membuat rumah ini gak nyaman?” tanya Tegar dan membuat kedua orang itu hanya saling pandang.

“Tegar, tidak perlu dipikirkan masalah itu. Kau merasa nyaman di sini saja, sudah luar biasa buatku. Aku merasa masih ada orang yang peduli dengan kami.” Mim tersenyum dan tidak bisa menyembunyikan air matanya.

Tegar akhirnya tetap di rumah tu hingga semuanya dirasa baik-baik saja. Lam yang melihat Tegar yang memilih bertahan dan tidak kemanapun malam ini, hanya bisa tersenyum dan semakin yakin dengan apa yang baru dia katakan. Tegar adalah orang yang ditakdirkan untuk menemani adiknya setelah dia pergi.

Di luar rumah, Yani hanya bisa terdiam dan menatap sesuatu yang berada di atap rumah. Dia menatap apa yang terjadi di atas rumah Lam dan Mim sembari merapalkan doa. Yani hanya bisa berdoa untuk keselamatan Lam dan Mim.

“Mbah Yani, apa yang terjadi? Kenapa Njenengan sepertinya sedang khawatir?” tanya Hisyam.

“Hisyam, tidak ada yang baik-baik saja. tidak ada yang baik-baik saja. Semua sudah terjadi dan mereka harus segera diselamatkan, terutama Mim.”

“Mbah apa yang terjadi? Aa yang terjadi sama mereka?” tanya Hisyam yang sangat khawatir.

“Hisyam, bersiaplah besok pagi. Besok pagi, ada sesuatu yang besar terjadi di tempat ini. Aku harap kau tetap di sini dan bantu mereka saat kejadian itu.” Hisyam hanya bisa terdiam.

“Sesuatu yang besar? Apa itu? Apa yang Mbah Yani maksud?” tanya Hisyam dan Yani terdiam beberapa saat. Yani tau sesuatu. Dia tau, jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan, terjadi esok hari. “Apa ada sebah musibah yang akan mereka hadapi?”

Lihat selengkapnya