“Mbah Yani? Kenapa dengan Mbah Yani? Mbah Yani tau semuanya?” tanya Mim.
“Mim, Beliau punya kemampuan khusus seperti kamu. Kita akan tau semuanya saat bertemu Beliau. Sekarang, kamu di sini saja dulu. Aku akan siapkan semuanya buat kamu.”
“Pak Hisyam, gak ada yang kalian sembuyikan kan?” tanya Mim.
“Mim, kita semua akan tau saat Mbah Yani mengatakan apa yang Beliau ketahui. Aku tidak berhak mengatakan semua ini karena ada yang lebih tau masalah ini dariku. Lebih baik, Mbah Yani yang menjelaskan semuanya secara langsung sama kamu.” Hisyam tersenyum dan Mim hanya bisa menatap langit.
“Pak Hisyam, memangnya kenapa?”
“Mim, aku minta maaf sebelumnya. Aku memang tidak seperti Mbah Yani. Aku gak bisa lancang menjelaskan semua ini sama kamu. Hanya Beliau yang layak menjelaskan semua ini sama kamu, karena Beliau yang lebih tau.” Mim akhirnya terdiam dan menatap Tegar.
“Kak Mim, gak perlu khawatir. Kami di sini untuk membantu kamu. kita akan berjuang bareng-bareng. Kamu gak akan sendiri.” Tegar hanya bisa tersenyum.
“Tegar, kenapa semua ini harus terjadi? Bagaimana dengan Kak Lam?” tanya Mim dan Tegar hanya bisa diam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Kak, aku juga gak tau harus menjawab apa. Tapi, aku hanya bisa berdoa semoga semua ini gak akan berujung pada kondisi yang paling buruk.” Tegar hanya bisa terseyum. Mim terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun.
***
“Hisyam, mana Mas Yani? Beliau ingin bertemu denganku kan?” tanya Kyai Rosyid yang tidak menemukan keberadaan Mbah Yani di tempat dia berada.
“Ngapunten, Kyai. Beliau sepertinya harus melakukan sesuatu terlebih dahulu. Beliau akan ke sini gak lama lagi.” Hisyam tampak sungkan dengan pertanyaan Lelaki yang ada di hadapannya.
“Gak perlu sungkan begitu dong. Aku hanya tanya. Lagian, Mas Yani juga sudah terlihat.” Apa yang Kyai Rosyid katakan membuat Hisyam langsung menoleh ke salah satu tempat dan terlihat jelas, Mbah Yani berjalan dengan senyuman.
“Sudah lama menunggu? Ngapunten kalo menunggu lama.” Mbah Yani tersenyum dan Kyai Rosyid hanya bisa menyambut Lelaki itu dengan senyum.
“Mas Yani, gak apa-apa. Aku juga baru sampai kok.”
“Mas Rosyid, aku baru saja dari rumah Lam dan Mim. Rumah itu sesuai dengan prediksi, terbakar secara misterius. Sama sekali gak ada yang bisa dijelaskan secara logika manuisa untuk kebakaran itu.” Mbah Yani mengatakan semua itu di hadapan kedua orang yang sekarang bersamanya.
“Mas Yani, Njenengan sepertinya tau sesuatu tentang ini. Bisa njenengan jelaskan semuanya?” tanya Kyai Rosyid dan Mbah Yani terdiam beberapa saat. Langit yang begitu cerah khas musim kemarau membuat Mbah Yan mengingat kejadian itu.
“Ini semua mengingatkanku dengan kejadian hari itu.” Mbah Yani menatap kedua orang yangv ada di sampingnya.
“Kejadian apa? Apa kejadian yang berhubungan dengan kebakaran rumah mereka?” tanya Kyai Rosyid.
“Aku belum tau hubungannya apa, karena kekuatan benda yang sekarang berada di tangan Mim, sebenarnya sedang tidur dan tidak bisa muncul secara maksimal. Nyai Kaligeni yang bertanggung jawab untuk kekuatan itu, sengaja menidurkan kekuatan itu dan menyisakan sedikit kekuatan untuk bisa Mim gunakan, dan hanya Nyai Kaligeni yang bisa membangunkan kekuatan itu dan membuatnya pulih seperti sedia kala.” Mbah Yani menatap kedua orang yang ada bersamanya.
“Mbah, Mim sempat beberapa kali melumpuhkan makhluk ghaib dan salah satunya yang berada di depan rumah. Apa itu punya hubungan dengan semua ini?” tanya Hisyam. Mbah Yani terdiam beberapa saat dan memberi isyarat pada Hisyam. Hisyam yang mengerti isyarat itu hanya bisa diam. “Berarti, itu memang kekuatan Mustika?”