Tegar hanya bisa diam dengan apa yang mejadi keinginan Mim. Tapi, Tegar juga melihat ada keraguan dalam keputusan Mim sekarang ini. Tegar tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang terjadi. Dia hanya bisa berharap Mim yakin dengan keputusan yang dia ambil.
“Tegar, kau gak apa-apa?” tanya Mim. Tegar hanya bisa memberikan senyum kepada Mim.
“Kak Mim, aku hanya mau kamu yakin dengan setiap keputusan yang akan kau ambil. Aku ingin kau yakin dengan keputusan apapun yang kau ambil.”
“Tegar, aku gak siap dengan konsekuensinya.”
“Kak, bukanah setiap keputusan yang kita ambil ada konsekuensinya? Bahkan, aku sendiri punya konsekuensi ketika memutuskan bergabung denga kalian.” Tegar hanya menatap Mim dan Mim diam untuk beberapa saat.
“Tegar, aku gak siap kalo kehilangan Kak Lam.”
“Kak, apakah itu sudah pasti? Apakah Kak Lam sudah pasti meninggal?” tanya Tegar dan Mim hanya bisa diam. “Kak Mim, kita gak tau apa yang akan terjadi. Jangan pernah berpikiran yang buruk tentang apa yang akan terjadi. Kak, yang aku tau, kalo pikiran kita punya peluang untuk jadi kenyataan. Jadi, berpikirlah yang baik-baik.”
“Tegar, kekuatan ini meminta tumbal. Kekuatan ini akan terus meminta tumbal dan aku selama ini tidak pernah menyerahkan aapun sebagai tumbal. Aku bahkan baru tau kalo kekuatan ini minta tumbal akhir-akhir ini.”
“Kak, kenapa Kak Mim sampai gak tau kalo kekuatan ini meminta tumbal? Apakah saat menerima, Kak Mim tidak ikut menyetujui perjanjian itu?” tanya Tegar.
“Tegar, mungkin kedengarannya aneh. Tapi aku memang gak tau. Aku sama sekali gak tau kalo kekuatan ini minta tumbal.” Mim menatap Tegar denga air mata yang mulai keluar. “Tegar, aku takut. Aku takut kehilangan orang yang aku sayangi.”
“Kak Mim.” Tegar langsung memeluk Mim yang tengah menangis.
“Tegar, aku takut.”
“Aku tau apa yang kau takutkan. Aku mengerti apa yang kau takutan sekarang.”
“Tegar, apa yang harus aku lakukan?” tanya Mim dan Tegar hanya bisa diam. Tegar terdiam beberapa saat dan mencoba tersenyum walau hatinya terus saja menangis.
“Kak, aku hanya bisa berdoa untuk kalian. Aku hanya bisa berdoa, semoga kalian baik-baik saja.” Tegar mengatakan itu dan Mim hanya bisa diam.
Tidak lama, Alif datang dan menghampiri mereka. Alif tau jika ada pembicaraan serius di antara mereka.
“Maaf kalo mengganggu. Tapi, ada apa ini? Sepertinya ada hal serius yang tengah dibicarakan?” tanya Alif dan membuat mereka diam. Tegar terenyum dan meminta Alif untuk menunggunya sebentar.
“Mas Alif, kita bicara di Gazebo saja. Kak Mim, kita ke Gazebo saja, hari sudah mulai terik. Gak baik kalo terus panas-panasan.” Alif terdiam dan melihat Tegar tengah mengarahkan kursi roda itu ke Gazebo.
“Tegar, ada sesuatu yang mungkin bisa aku bantu?” tanya Alif.
“Mas, aku gak tau ini bisa kau bantu apa enggak. Tapi, boleh aku cerita tentang pembicaraan kami tadi? Ini, masalah Kak Mim. Masalah ini sebenarnya hanya Pak Hisyam dan Mbah Yani yang lebih tau.” Tegar menatap Alif yang menunggunya cerita semuanya.
“Boleh. Ada apa sebenarnya?”