“Kenapa sama Kak Lam?” tanya Mim. Mbah Yani hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Mim, aku bukan gak tau apa yanb terjadi kemarin. Aku sebenarnya ada di lokasi saat rumah kalian terbakar. Aku tau, kamu shock saat kakak kamu melakukan ritual itu. Tapi, aku juga gak berdaya. Aku gak bisa melakukan appaun.” Mbah Yani terdiam beberapa saat. “Mim, aku sejak kemarin ada di dekat rumahmu, karena khawatir dengan apa yang akan terjadi. Aku khawatir dengan apa yang pernah Ayah kalian ceritakan.”
“Ayah? Ayah cerita apa?” tanya Mim.
“Aku gak bisa menyembunyikan ini sama kalian. Kalian, menanam kekuatan ini atas permintaan Ayah kalian?” tanya Mbah Yani.
“Iya. Kami menanam kekuatan itu atas permintaan dari Beliau, dan Beliau juga yang membantu kelancaran ritual hari itu.” Apa yang Mim katakan membuat Mbah Yani terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi. “Mbah, Ayah pernah bilang apa?”
“Beberapa hari yang lalu, Mas Hambali pernah bilang kalo permintaan itu adalah keputusannya yang paling bodoh. Keputusan itu yang akan mempercepat apa yang pernah dikatakan oleh orang pintar di masa lalu.” Mbah Yani menatap Mim dengan air mata yang terus saja keluar.
“Perkataan orang pintar? Perkataan seperti apa itu?” tanya Mim. Mbah Yani terdiam dan Hisyam yang tau jika ada sesuatu yang megganjal dalam diri Mbah Yani, langsung menggenggam tangan Lelaki itu.
“Mbah, ada apa?” tanya Hisyam. Mbah Yani memberi isyarat pada Hisyam untuk mewakilinya cerita tentang hal itu. “Mbah, apa aku harus mewakili Njenengan?”
“Hisyam, tolong ya! Kau tau kana pa yang dikatakan Mas Hambali?”
“Kenapa ini? Apa yang terjadi?” tanya Mim.
“Mim, mungkin ini kedengarannya pahit, tapi aku harus menceritakan ini. Pak Hambali pernah bilang kalo ada orang pintar yang memberi tahunya jika umur kakak kamu gak bakal lama. Umur kakak kamu akan berhenti saat keadilan Ibu kamu tercapai.” Apa yang dikatakan Hisyam membuat Mim terdiam. Dia tidak bisa mengatakan apapun mendengar apa yang baru saja dikatakan Hisyam.
“Kalian gak bohong kan?” tanya Mim.
“Mim, ini yang membuat Ayah kamu harus pergi. Beliau juga tidak mau semua itu terjadi. Beliau gak mau sampai ada hal buruk menimpa kalian. Jadi, beliau pergi bukan karena tidak menyayangi kalian. Justru, Beliau pergi karena rasa sayangnya sama kalian.” Mim terdiam dan tidak kuasa menahan tangis.
“Ayah.”
“Kak Mim.” Tegar mendekat setelah melihat Mim hampir tidak sadarkan diri.
“Kak Lam.” Mim menyebut nama kakaknya beberapa kali. Mim meminta untuk kembali ke Bukit dan melihat apa yang terjadi pada Lam.
“Mim, jangan memaksakan diri! Kumohon, jangan memaksakan diri.” Hisyam merasa begitu bersalah telah mengatakan itu, tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengatakan itu pada Mim.
“Mim, ini berat buat kamu. Ini berat buat kalian. Tapi, memang kami harus mengatakan semua itu. Kami harus mengatakan semua itu walau pahit bagimu.” Mbah Yani juga sangat bersedih. “Aku juga sangat sedih melihat apa yang akan terjadi, tapi kita punya cara untuk mengubahnya. Kita bisa mencegahnya.”
“Kita bisa mencegahnya? Bagaimana caranya?” tanya Mim.
“Mim, malam purnama hanya sampai besok. Mungkin, malam ini kita harus berdiam dulu. Mim, ini harus kita lakukan ritualnya. Semuanya harus kita lakukan malam ini juga.” Mbah Yani mengatakan itu dan Mim berharap jika apa yang akan dilakukan oleh Mbah Yani bisa berhasil.