“Mbah, tapi hari sudah malam. Jalanan ke arah bukit akan sangat berbahaya. Kalo kita memaksakan ke sana malam-malam sepeti sekarang, kemungkinan kita akan kena bahaya.” Tegar meminta agar kepergian Mim ke Bukit ditunda sampai pagi hari.
“Tegar, kita akan ke sana. Gak perlu menunggu pagi, karena gak akan sempat. Kita ke sana malam ini dan harus memastikan kondisi Lam malam ini juga. Kita lupakan bahaya yang mengintai, karena Lam juga dalam kondisi bahaya.” Mbah Yani meminta agar Mim diantar ramai-ramai ke tempat Lam. Tegar akhirnya diam dan tidak bisa menentang keputusan Mbah Yani.
Mereka menyusuri jalanan desa yang gelap dan begitu sepi. Tidak ada orang yang berani melintasi jalanan itu sampai cahaya muncul esok hari. Dari kejauhan, tampak cahaya aneh. Cahaya itu berasal dari wilayah dekat Telaga.
“Kak Lam.” Mim mempercepat laju kursi rodanya. Tegar dan Hisyam yang khawatir dengan kondisi Mim, ikut mempercepat langkah mereka. Tidak ada yang baik-baik saja kali ini. Ada sesuatu yang menjadi alasan kuat mereka harus khawatir.
“Mim, pelan-pelan!” pinta Hisyam. Mim tidak begitu menggubris apa yang dikatakan Hisyam. Baginya, kondisi Lam saat ini adalah hal yang begitu penting.
“Kak.” Mim terdiam dan melihat Telaga yang begitu bersinar. Ada sebuah api yang menyala di salah satu sisi Teaga dan membuat tempat itu begitu terang. “Kak Lam.”
Mim yang melihat Lam yang kondisinya sudah tidak sadar, langsung saja mendekat.
“Kak Lam.” Tegar juga ikut mendekat dan membantu Mim memindahkan tubuh itu ke tempat yang dirasa aman.
“Ya Allah, kenapa semua jadi seperti ini?” tanya Hisyam yang melihat tubuh Lam kodisinya tidak begitu baik. “Le, kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa kamu kondisinya jadi seperti ini?”
“Pak, kenapa sama Kak Lam?” tanya Mim. Dia terus meminta penjelasan dari Hisyam dan Mbah Yani.
“Mim, kita gagal menyelamatkan kakak kamu. Ritual tadi tidak bisa dikatakan berhasil.” Mbah Yani mengatakan itu dan Mim hanya menggeleng.
“Mbah, tolong Kak Lam. Tolong selamatkan Kak Lam.” Mim hanya bisa menangis. Mereka terdiam beberapa saat sebelum Lam terbatuk. Tangan Lam menggenggam tangan Mim dengan begitu kuat. “Kak Lam?”
“Kak Lam? Kak Lam masih hisup?” tanya Tegar yang melihat ada nafas di dadanya.
“Kak Lam. Kau kasih dengar suaraku kan?” tanya Mim dan Lam tidak merespon sama sekali. Mim hanya bisa diam dan Tegar meminta agar Lam bisa dibawa ke tempat yang lebih aman.
Sepanjang perjalanan, tangan Lam terus berpegangan dengan Mim. Ada sesuatu yang hangat mengalir ke tubuhb Mim. Mim hanya tertegun dengan apa yang terjadi hari ini.
“Mim, kau baik-baik saja?” tanya Mbah Yani.
“Mbah, kenapa sama Kak Lam? Kenaa semuanya jadi seperti ini?” tanya Mim yang menangis.
“Mim, aku minta maaf ya kalo semua ini mengecewakanmu. Tapi, kau harus tau sesuatu tentang Kakak kamu.” Mim terdiam dan menungu apa yang ingin dikatakan Mbah Yani padanya. “Mim, kakak kamu kuat. Kakak kamu sebenarnya bukan orang yang lemah. Dia mewarisi kekuatan Nenek kamu. Nenek kamu dulu, juga kuat seperti ini. Kekuatan ini sangat mematikan, tapi kakak kamu sampai sekarang masih bertahan walau kondisinya tidak sadar. Gak banyak orang yang bisa bertahan dengan kondisi seperti ini.”
“Nenek.” Mim hanya bia menangis. “Bagaimana aku bisa mencari mereka, kalo aku sendirian? Aku tidak bisa mencari mereka seorang diri.”
“Mim, kau tidak akan pernah sendiri. Kau tidak akan sendiri untuk mencari mereka. Kau akan punya banyak teman.” Mbah Yani tersenyum dan Mim hanya bisa menatap kakaknya yang tengah tidak berdaya.
“Kak Lam, kenapa semuanya jadi seperti ini?” tanya Mim. Dia akhirnya ingin sendirian. Dia ingin punya waktu sendiri.