“Mas, aku mengakui semuanya. Aku ikhlas kalo kamu tidak mau memaafkanku. Aku akan mengembalikan semua nafkah yang kamu berikan selama ini. Aku ikhlas kalo kamu meminta apa yang kamu berikan, karena aku merasa tidak layak untuk menerima kebaikan apapun sejak kematian anak kita. Aku tidak layak menerima semua itu.”
“Lesti, aku ikhlas dengan apa yang aku berikan padamu, toh itu kewajibanku sebagai suami.” Lesti terdiam dan hanya bisa menangis mengetahui apa yang baru Hisyam ucapkan. “Patuhi hukuman apapun yang diberikan hakim. Itu yang aku mau darimu. Anggap saja permintaan terakhir dariku. Setelah ini, aku tidak aka meminta apapun. Surat cerai kita sudah keluar dan kita bukan lagi siapa-siapa.”
“Mas, aku hanya mau maaf darimu. Aku mencintaimu, walau kau sudah menjatuhkan talak padaku. Aku masih mencintaimu.”
“Andai tidak ada kejadian ini, aku tidak akan pernah bisa menjatuhkan talak padamu. Kau tau, perceraian adalah hal yang paling dibenci oleh Allah, dan aku sebenarnya tidak mau menjatuhkan talak pada siapapun wanita yang menjadi istriku, tapi aku harus melakukannya karena Ummi juga gak akan marah seperti sekarang. Semarah-marahnya Ummi sama keluarganya, dia tidak pernah semarah sekarang.” Hisyam terdiam mengingat Ibunya yang menolak menemui Lesti dengan alasan apapun. “Aku minta maaf kalo masalah Ummi. Beliau bahkan tidak pernah mau menemuimu sampai kapanpun. Beliau tidak akan pernah bisa menemui seseorang yang dengan keji membunuh cucunya, walaupun itu keluarganya sendiri.”
Lesti terdiam dan memilih pergi. Bukan tanpa alasan dia pergi. Lesti pergi karena pihak pengawal terdakwa sudah memersilahkan mereka untuk memasuki ruang sidang dan duduk di kursi yang semestinya.
Sidang dimulai dan Hakim membacakan hasil persidangan sebelumnya. Semua hadirin mendengar putusan hakin dengan khidmat. Tegar hanya bisa terdiam dan berdebar menantikan hukuman apa yang akan orang tuanya laksanakan.
“Tegar, kau baik?” tanya Hisyam.
“Sebenarnya enggak. Aku harus mendengar langsung vonis dari hakim untuk orang tuaku sendiri.”
“Semuanya berat, tapi ini yang harus dihadapi.” Tegar hanya bisa mencoba tersenyum. “Tegar, kita harus ikhlas.”
“Aku mencoba ikhlas. Aku harus mencoba ikhlas walau berat.” Tegar terdiam dan mendengar apa yang hakim akan bacakan.
Tegar terdiam dan melihat terdakwa berdiri dan siap dengan vonisnya.
“Dengan keterangan saksi yang sudah diberikan dan bukti yang ada, para terdakwa dinyatakan sah bersalah dan dijatuhi hukuman seumur hidup.” Vonis yang diberikan hakim membuat ruang sidang seketika riuh. Tangis Tegar seketika pecah. “Terdakwa, apakah akan mengajukan banding?” tanya Hakim.
“Saya mewakili rekan-rekan terdakwa, menyatakan menerima putusan ini dan tidak akan banding.” Lamdi mengatakan hal itu dengan begitu yakin. Keyakinan Lamdi membuat Tegar hanya bisa menangis. Hisyam hanya bisa menenangkannya.
“Tegar, ini berat buat kita semua. Aku tau keputusan ini berat buat kamu dan adik-adik kamu.”
“Pak Hisyam, aku akan tetap menyayangi mereka walaupun harus berada di penjara. Aku akan mengunjungi mereka walau mereka harus dipenjara sampai akhir hayat mereka. Mereka tidak bisa melihat momen bahagia kami bertiga.” Tegar terus saja menangis.
“Yang penting kamu tetap menyayangi mereka. Itu sudah luar biasa.” Hisyan tersenyum dan meminta Tegar menemui kedua orang tuanya yang akan kembali le Lapas.
“Tegar, kami minta maaf. Kami akan menjalani hukuman ini.” Lamdi tersenyum melihat anaknya yang hadir saat ini.
“Ayah, aku akan rutin menngunjungi Njenengan berdua. Aku tetap sayang Njenengan berdua.” Tegar langsung memeluk kedua orang tuanya.
“Terimakasih ya, Le. Terima kasih sudah mau menyayangi kami. Titip adik-adik kamu. Ayah yakin, kami bisa melindungi mereka.” Lamdi hanya bisa menahan kesedihan saat anak sulungnya menangis. Baginya, Tegar tetaplah anaknya yang sangat dia banggakan.