Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #222

ending

Mim terus terdiam dan tidak kuasa menahan tangis. Tegar hanya bisa terdiam di samping Mim yang sangat terpukul dengan kepergian Lam dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Mereka gagal menyelamatkan nyawa Lam.

“Kak Mim, ini semua berat. Ini semua berat untuk kita hadapi.” Tegar mengatakan itu semua dengan air mata yang terus mengalir. “Aku minta maaf kalo selama ini tidak bisa menemanimu seperti yang kau harapkan. Aku hanya ingin Kak Mim tau, kalo kita sama-sama menghadapi sesuatu yang tidak kita inginkan.”

Mim tidak menjawab dan terus menunduk. Tegar memilih tidak kembali menanyakan sesuatu. Kesedihan Mim tidak bisa diutarakan dan dia butuh waktu untuk menenangkan diri.

Tegar akhirnya memilih pergi dan membiarkan Mim berdua saja dengan jenazah Lam yang mulai diurus. Mbah Yani hanya bisa meneteskan air mata melihat Mim yang kondisinya sedang tidak baik.

“Mim, kau gak apa-apa?” tanya Mbah Yani. “Maaf kalo aku menyinggung. Tapi aku minta maaf tidak bisa berbuat apapun.”

“Mbah, kenapa kita gak bisa menyembuhkan Kak Lam? Kenapa kita gak bisa membiarkan Kak Lam hidup? Kenapa, Mbah? Kenapa Kak Lam harus mati seperti sekarang ini?” tanya Mim sambil menangis. Mbah Yani hanya bisa tersenyum walau air matanya terus saja keluar.

“Mim, kadang hidup ini gak adil untuk kita. Tapi, kita dipaksa menjalaninya. Gak semua yang terjadi dalam hidup ini harus sesuai dengan apa yang kita mau. Aku gak tau, kenapa takdir meminta Kakak kamu kembali di usianya yang sangat muda. Tapi, aku yakin jika suatu saat nanti kamu yang akan tau apa yang menjadi maksud dari takdir ini.” Mbah Yani menggenggam tangan Mim.

“Mbah, aku harus mencari tau sendiri?” tanya Mim.

“Iya. Karena, hanya yang menjalani takdir yang bisa menjawa kenapa semua ini harus seperti sekarang. Aku tidak bisa mencari jawaban untuk takdir yang kau jalani.” Mbah Yani terdiam dan Mim tidak bisa berkata-kata.

“Mbah Yani, lalu setelah ini aku harus tinggal di mana?” tanya Mim.

“Mim, kalo aku boleh menawarkan, tinggallah di tempat Kyai Rosyid. Aku sempat mendengar, kau ingin belakar mengaji kan?” tanya Mbah Yani dan disambut anggukan oleh Mim. “Mim, kalo memang itu maumu, tempat Kyai Rosyid piihan yang mungkin terbaik buat kamu. Nanti, aku sendiri dan Hisyam yang akan mengajarimu. Kamu, juga bertemu banyak teman baru. Mungkin, seperti di Bintang Gemilang, kalian tinggal rame-rame. Tegar dan kedua adiknya akan tinggal di sana juga. Mulai malam ini, kedua adik Tegar sudah bermalam di sana, karena tiga hari lagi mereka harus sekolah.”

Mbah, apa di sana mau menerimaku?” tanya Mim.

“Lho, kenapa harus tidak menerima kamu? Apa yang jadi alasan mereka tidak menerima kamu?” tanya Mbah Yani.

“Aku cacat dan aku mengidap HIV.”

“Mim, bahkan sekelas preman saja sekaang ada yang tinggal di sana dan belajar ngaji di sana. Jadi, buat apa kamu takut ditolak? Gak ada alasan untuk kamu ditolak di sana.” Mim terdiam dengan apa yang aru Mbah Yani katakan.

Kyai Rosyid yang sedari tadi mendengar pembicaran Mim dan Mbah Yani tampak tersenyum dan mendekat. “Mim, gak perlu khawatir masalah diterima atau enggak. Apa yang dikatakan Mbah Yani, semuanya benar. Ada sekelompok Preman, anak jalanan dan orang yang mungkin dianggap berandal yangb ikut belajar di sana dan sampai sekarang masih belajar di tempat kami.”

“Jadi, aku bisa belajar di sana?”

“Mim, kamu lho bukan berandal. Kamu, hanya salah arah saja. Jadi, kamu sangat berhak untuk belajar di sana. Kamu berhak untuk tinggal di sana, apalagi Tegar juga akan ke sana.” Kyai Rosyid hanya tersenyum.

“Tegar, juga akan di sana?” tanya Mim.

“Lebih tepatnya, bekerja dan mengaji di sana. Untuk tempat tinggal, dia akan tinggal di rumah keluarganya Hisyam.” Mbah Yani menjawab apa yang jadi pertanyaan Mim. Mim hanya bisa diam.

Tidak butuh waktu lama, Jenazah Lam akhirnya selesai dirawat dan siap untuk dikuburkan. Mim, Tegar, Hisyam, Alif dan semua orang yang berada di sekitar rumah itu ikut mengantar jenazah Lam ke tempat pemakaman yang sudah disediakan. Makam persis berada di sebelah makan Mbak Kasih, Ibu dari Lam dan Mim.

Lihat selengkapnya