Salju menjadi simbol malapetaka, sekaligus kebahagiaan dalam hidup Ansar. Kepingan-kepingan putih, lembut, dan dingin itu memang terkadang terlihat begitu menyeramkan saat Ansar memandangnya terlalu lama, dan membuatnya teringat akan kejadian yang tak menyenangkan, tapi, tak bisa dipungkiri, kalau salju sudah menjadi sesuatu yang paling berharga bagi anak itu.
Di malam natal, saat semua keluarganya berkumpul untuk makan bersama, Ansar pasti selalu menyendiri di luar rumah sambil mengamati salju yang berjatuhan dari angkasa. Kebiasaannya itu sudah ia lakukan sejak SD kelas empat, dan tak pernah terlewatkan setiap natal.
Alasan dia melakukan hal seperti itu sebenarnya cukup sederhana. Sejak awal, Ansar sedikit berbeda dari kebanyakan anak-anak, dan baginya, itu adalah perasaan yang aneh. Dan karena itulah, dia jadi merasa tak cocok dengan satupun anggota keluarganya. Cara pandangnya dan cara pandang mereka, benar-benar berbanding terbalik.
Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu, akhirnya perasaan aneh itu telah berubah menjadi amarah yang membara, dan kebencian terhadap keluarganya.
“Hah... “ Nafas Ansar mengepul di udara. Remaja itu duduk sendirian di pinggir dermaga dan masih menikmati pemandangan di kejauhan. Di depannya saat ini ada beberapa perahu dan kapal yang tertambat.
Atmosfernya sangat dingin kala itu, tapi untung saja cahaya keemasan dari tiang lampu yang berdiri di samping tempat duduknya, membuatnya merasa sedikit hangat di tengah cuaca yang ekstrem ini.
Meski begitu, lautnya benar-benar terlihat sangat tenang sampai-sampai permukaan airnya tampak seperti cermin, dan salju-salju terus berjatuhan dari angkasa seakan dan tak ada habisnya. Sungguh pemandangan yang damai, dan tak ada yang bisa menyangkalnya.
Ansar menoleh sedikit ke belakang, dan mendapati sebuah kastil besar bercat kecoklatan yang sudah terselimuti salju di beberapa bagian. Cahaya kuning keemasan terpancar dari jendela-jendelanya, dan dari jendela yang paling besar dan lebar di sebelah kiri, tepatnya di ruang makan, Ansar bisa melihat ada bayangan-bayangan dari keluarganya yang tampaknya sedang bersenang-senang di situ.
“Kamu ini kayaknya emang hobi banget sendirian seperti ini.” Kata satu suara yang terdengar akrab di telinga Ansar. Suara itu datang dari sesosok peri kecil bercahaya hijau yang tubuhnya seukuran jari jempol, dan peri itu langsung terbang mengitari kepala Ansar bak orang gila.