Ketika mereka meninggalkannya sendiri di keramaian mal terbesar di Kuwait, Abriella hanyalah gadis kecil berusia delapan tahun. Belum mampu mengantisipasi rasa takut. ia dan keluarganya baru empat bulan pindah ke negara di Teluk Persia ini. Tempat di mana orang-orang berwajah Arab bercakap dengan kata yang tak ia pahami. Tulisan-tulisan melengkung di jalan-jalan, toko-toko, juga di sekolah tak bisa ia baca. Kanan ke kiri. Seperti membaca kitab suci tanpa baris. Segala masih asing.
Papa mengatakan mereka butuh tambahan beberapa perabot untuk apartemen yang mereka huni, juga beberapa peralatan dapur. Bunda tak mau menunggu di apartemen. Berkeras ingin ikut meski harus membawa dua bayi yang baru lahir. Bayi kembar itu juga masih asing. Baru dua bulan berada di antara mereka, setelah sebelumnya perut Bunda Shofiya tampak sangat besar. Keduanya gemar sekali menangis. Tangisan yang membuat Bunda Shofiya sangat sibuk. Hanya tangis mereka yang Bunda dengar, hanya keberadaan mereka yang Bunda perhatikan Jumat itu.
“Selera kita sering berbeda. Aku yang akan lebih sering di rumah. Perabotan yang kita beli haruslah pilihanku,” kata Bunda Shofiya yang Abriella dengar malam sebelumnya ketika diminta Papa untuk tidak ikut.
Mal The Avenue membujur sepanjang satu kilometer setengah. Dengan 1200 toko, outlet, restoran, dan kafe menjadikannya sebagai mal terbesar di Kuwait. Jumat adalah akhir pekan di sini. Terlalu ramai orang berbelanja atau sekedar jalan-jalan membuang waktu. Abriella tertatih-tatih mengikuti langkah besar Papa. Papa berhenti di depan sebuah toko, bertanya arah ke bagian furniture pada seorang laki-laki yang menjawab dengan bahasa Inggris bernada India. Abriella lengah, melihat pada etalase toko yang memajang boneka teddy bear bewarna ungu yang sangat besar. Hanya sekejap dan ketika ia sadar, Papa tak lagi ada di depan, telah berjalan menyusul Bunda Shofiya yang mendorong kereta bayi. Mereka menjauh.
“Pa, tunggu!” serunya. Papa tak berhenti. Abriella mengejar.