All The Places We Call Home

Haya Nufus
Chapter #2

There were we, happy! #1

Namanya Abriella, yang artinya wanita pembawa kebahagiaan. Papa memberi nama berbahasa Italia itu karena ia lahir di Roma dan Papa ingin ia memiliki sepotong kenangan tentang Italia di dirinya. Meski sumpah, tak ada yang bisa ia ingat dari negara cantik di Eropa itu. She was just a newborn back then! Apa yang bisa diharap dari ingatan bayi baru lahir? Oke, Abriella di sana sampai umur tiga tahun, tapi jatuhnya sama saja kan? 

Yang bisa ia lakukan untuk memancing memori yang telah hilang tentang kedekatan dirinya dengan Italia hanyalah dengan menghidupkan adegan dari foto-foto lama yang bisa ia temukan. Setiap kali Abriella ke apartemen Mama di kawasan Sudirman, tangannya serupa terkena jampi-jampi. Ia tak bisa menahan diri untuk tak bergerak ke lemari buku dan menarik album-album lama. Lalu ia akan betah melihat ragam ekspresi bayi miliknya dulu. Foto Abriella dalam kereta dorong berpakaian tebal dengan seringai lebar. ‘Itu lagi musim dingin, suhu bisa jatuh hingga beberapa minus derajat. Beku dan dingin. Tapi kamu nggak betah di rumah, jadi Mama mengajakmu jalan-jalan. Kamu senang banget!’ Memang di belakang bayi itu tampak selimut salju putih yang tebal menutupi taman.

Di foto-foto lain, ada Abriella bayi dengan wajah belepotan bubur, Abriella bayi yang hanya memakai diapers sedang berbaring di kasur, ia dalam bathtub bermain busa sabun, ia mengacak mainan kayu, ia di taman bermain dengan sepeda roda tiga dan banyak foto lain dalam ragam polah. Masa-masa itu mama dan papa rajin sekali mendokumentasikan setiap kelakuannya. 

Melalui foto-foto itu Abriella bisa melihat ia bayi berubah menjadi gadis kecil. Makin ia tumbuh besar makin banyak aksesoris lucu ala anak cewek yang dipakaikan Mama. Foto yang paling sering Mama perlihatkan kepadanya adalah Abriella usia dua tahun dengan kebaya putih kecil yang menggemaskan, kain batik selutut dan konde kecil di kepala. 

Lihat selengkapnya