ALLURA

Mirna Anata
Chapter #4

04-Saran

Daniel keluar dari ruang make up dan mencari Allura yang tak segera kembali setelah pamit karena mamanya tadi sedang meneleponnya. Matanya berkeliling. Allura yang cantik passti mudah ditemukan. Namun, hampir beberapa menit Daniel membiarkan matanya melihat berkeliling, dia tak bisa menemukan Allura. Daniel mendongakkan kepalanya ke atas. Dia menemukan manajernya yang sedang berada di food court menikmati makan siangnya.

Daniel segera pergi naik ke lantai atas dan berjalan dengan cepat untuk menghampiri manajernya. "Mbak Dona, lihat Al nggak?"

"Tadi..." Dona berhenti sejenak karena menelan makanannya, "...Al bilang mau ke toilet sebentar. Nunggu kamu lama banget sih. Sini duduk dulu! Katanya nggak lama kok ke toiletnya," kata Dona yang kemudian melahap kembali makanannya dengan lahap.

"Mbak, nanti anterin Al pulang ya. Dia nggak bawa mobil tadi. Ini juga mamaku udah nge-chat dari tadi. Katanya udah dari tadi sampai di bandara. Aku suruh mama pulang dulu naik taksi malah nggak mau. Katanya ada berita penting. Entah apaan," kata Daniel agak menggerutu.

"Iya, nanti aku antar Al pulang. Mama kamu nemu yang baru kali," gurau Dona.

"Nemu yang baru apaan?" tanya Daniel bingung.

"Calon baru. Calon papa baru buat kamu," jawab Dona.

"Papa baru?" tanya Daniel yang masih bingung dan mendadak perutnya terasa mules.

"Iya, kalau kamu punya papa baru, kan mamamu nggak perlu kerja. Kamu juga nggak perlu susah payah ikut ini itu. Cukup kerja yang sekarang aja honornya udah cukup. Ya kan?" jelas Dona yang kini sudah selesai makan dan mulai minum.

Daniel tidak menjawab karena dia memang tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini, dia tidak pernah berpikir kemungkinan mamanya akan menikah lagi. Ada perasaan tidak menyenangkan saat membayangkan bagaimana rasanya mempunyai papa tiri.

Lalu, muncul bayangan-bayangan mengenai papa tiri yang jahat seperti dalam cerita atau dongeng, meskipun kebanyakan bercerita soal ibu tiri. Memangnya ada perbedaan, pikir Daniel. Lamunannya buyar ketika Daniel melihat Allura melambaikan tangannya. Allura tersenyum dan berjalan ke arahnya dan Dona.

"Maaf ya, Dan. Tadi mama mau pamit ke Surabaya. Ada urusan mendadak," kata Allura menjelaskan.

"Gapapa, darling," kata Daniel. Dia mau melanjutkan kalimatnya tapi mendadak perhatiannya terfokus pada Allura yang terlihat seperti sedang tidak baik-baik saja.

"Kamu kenapa, darling? Kok berkeringat gitu? Wajah kamu juga pucat..." kata Daniel mulai memperhatikan Allura dengan seksama, "...tangan kamu juga gemetaran."

"Aku... aku gapapa kok, sayang. Cuma... tadi... tadi aku agar buru-buru kesini. Ya... agak lari-lari, makanya aku berkeringat," jawab Allura. Entah kenapa dia belum ingin menceritakan kondisi yang sebenarnya. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Daniel yang hari ini mendapatkan honor paling tinggi.

"Beneran kamu gapapa?" ulang Daniel. Sementara itu, Dona hanya memperhatikan mereka berdua. Dia juga merasa kalau ada yang aneh dengan Allura.

"Iya, aku gapapa kok," jawab Allura kemudian tersenyum.

"Ya udah kalau gitu. Mau pulang sekarang? Mbak Dona udah siap ngantar kamu," kata Daniel yang sekarang menatap Dona dengan tatapan 'ayo-buruan-pulang'.

Lihat selengkapnya