ALLURA

Mirna Anata
Chapter #5

05-Rencana Mama Daniel

Adhy masih duduk termenung di kursi yang ada di sebuah cafe. Dia bukan hanya termenung dengan ucapan dosen pembimbingnya yang mengatakan kalau Adhy bisa segera seminar setelah melakukan penelitian yang cukup panjang yang menguras tenaga dan biaya. Dia bisa langsung seminar hanya dengan satu kali revisi. Ini benar-benar di luar dugaan.

Seharusnya Adhy senang, seharusnya dia lega. Selangkah lagi, dia akan menyelesaikan pendidikannya selama ini. Adhy sudah selangkah lebih cepat untuk mendapatkan gelar sarjana. Namun, ini juga berarti tantangannya semakin besar. Apalagi kalau bukan tantangan dari papanya sendiri untuk membuktikan bahwa Adhy juga bisa mandiri dengan penghasilannya sendiri sebagai seorang psikolog.

Papanya tidak seharusnya meremehkan kemampuan putranya yang sudah terbukti sejak kecil. Adhy selalu mendapat juara kelas juga juara di berbagai perlombaan. Dia juga anak yang mandiri dan pekerja keras. Kalau kata ibu-ibu di komplek rumahnya, Adhy itu multitalenta dan calon menantu idaman. Dengan banyaknya kemampuan yang dia punya, Adhy bisa menjadi apa saja. Tentu saja Adhy percaya akan hal itu. Kerja kerasnya selama ini tidak akan mengkhianati dirinya. Hasil bagus dan nyata itu akan indah pada waktunya.

Namun, ternyata ada hal lain yang masih mengganggu pikirannya. Adhy masih penasaran dengan senyuman seseorang yang dilihatnya tadi. Sekilas, rasanya senyuman itu tidak asing. Dia yakin dirinya pernah melihat senyum khas itu. Dia merasa heran, kenapa dia susah sekali mengingatnya. Padahal, seharusnya Adhy bisa dengan mudah mengingat senyuman itu dengan otaknya yang pintar. Tapi, kenapa rasanya sulit sekali? Mendadak rasa ini menganggu perasaannya. Adhy merasa harus tahu siapa pemilik senyuman itu.

Hanya saja, rasa penasaran itu tidak seharusnya membuat Adhy termenung seperti ini. Dia pun segera membuyarkan lamunannya dan bergegas pergi untuk menemui Gracia. Pacarnya itu pasti sedang mencarinya. Gracia pasti rindu dengan Adhy yang sudah beberapa hari ini pergi ke Singapura dan meninggalkannya sendirian.

***

Daniel segera berjalan ke sebuah restoran yang ada di dalam bandara. Tak lupa, dia memakai topi dan kacamata hitam agar tidak banyak orang yang mengenalinya dan membuatnya repot hanya untuk sekedar melayani permintaan tanda tangan atau foto bersama. Daniel segera melihat lambaian tangan mamanya. Wajahnya sumringah membuat Daniel merasa heran. Dia tidak pernah melihat mata mamanya berbinar-binar seperti itu selama tiga tahun ini. Terakhir kali dia melihatnya begitu adalah saat Daniel diterima menjadi model di sebuah agensi.

"Mama udah lama banget di sini? Disuruh pulang duluan nggak mau sih," kata Daniel yang melihat beberapa piring dan gelas yang sudah kosong. Sepertinya mamanya menghabiskan banyak makanan dan minuman sambil menunggu Daniel.

"Lumayan lama sih..." kata mama Daniel yang bernama Distya itu sambil melihat jam tangannya yang mahal, "...tapi gapapa. Mama lapar, jadi makan duluan. Kamu udah makan, sayang?"

"Tadi cuma makan snack aja sih waktu perjalanan ke sini," kata Daniel yang sekarang melihat-lihat daftar menu. Dia segera memanggil pelayan dan memesan makanan.

"Mau ngomong penting apa sih, Ma?" tanya Daniel setelah selesai memesan makanan dan minuman. Tak lama setelah itu, minuman pesanan Daniel datang.

Lihat selengkapnya