ALLURA

Mirna Anata
Chapter #7

07-Nice to Meet You

Daniel sedang menikmati cappucino favoritnya di sebuah mall besar di daerah Depok. Seperti biasa, dia tidak lupa memakai topi dan kacamata hitam untuk menyamarkan dirinya yang terkenal. Daniel dan Dona sedang menunggu seseorang. Entah seorang atau berapa orang. Manajernya yang sebenarnya membuat janji dengan orang itu. Daniel tidak tahu-menahu. Dona hanya mengatakan ini akan menjadi sebuah kesempatan emas. Akhirnya, Daniel pun mengiyakan saja tanpa pikir panjang.

"Sabar, ya, Dan. Kamu nggak akan nyesel nunggu lama kok," kata Dona sambil melirik jam tangannya dan kembali menyeruput cappuccino-nya.

Daniel hanya mengangguk. Dia kemudian membuka mulut karena teringat perkataan manajernya dulu. "Mbak, ingat nggak omongan Mbak Dona soal calon Papa baru waktu aku mau jemput Mama di Bandara?"

Dona mengangguk dan tersenyum penuh arti. Namun, Daniel tak melihat senyuman Dona.

"Sepertinya Mbak Dona benar. Cuma aku masih ragu aja," kata Daniel yang kelihatan ragu sambil melihat donat di depannya.

"Ragu kenapa?" tanya Dona dengan nada yang sepertinya apa pun jawaban Daniel terhadap pertanyaannya itu, dia sudah punya jawaban lain untuk menyanggahnya.

"Ya, ragu aja. Mereka kan baru ketemu. Ya... walaupun mereka adalah teman lama, sahabat, atau apalah, tapi tetap aja kan mereka udah lama nggak ketemu. Kata Mama sih, pengusaha kenalannya itu udah cerai dari istrinya. Justru kenapa mereka cerai itulah yang harusnya diselidiki dulu. Bukan langsung bikin rencana mau nikah. Kesel banget deh. Mau marah sama Mama tapi nggak bisa," kata Daniel berapi-api.

Dona tertawa cekikikan. Baru kali ini modelnya kesal, sampai menurut Dona wajahnya sangat menggemaskan dan dia ingin sekali mencubitnya. Daniel jarang bersikap seperti ini. Menurut Dona, ini sangat lucu dan membuatnya gemas sendiri.

"Udahlah, santai aja. Percaya aja sama Mama kamu. Mama kamu pasti punya rencana yang baik. Kamu hanya perlu mendukungnya. Demi kebaikan kalian juga," kata Dona meyakinkan dan kini mulai memakan donat cokelatnya.

Daniel merasa aneh sendiri. Sejak kapan manajernya ini mulai peduli dengan kehidupan pribadinya? Dona memang menjadi manajer Daniel sejak tiga tahun yang lalu. Namun, selama ini dia jarang ikut campur urusan pribadi Daniel.

"Oke, oke. Nggak pahamlah sama jalan pikiran kalian," kata Daniel dan mulai memakan donatnya dengan lahap. Dia sebenarnya sudah sarapan. Tapi melihat donat yang nikmat itu, dia tidak tahan untuk tidak memakannya.

"Gimana kabar, Al? Sejak fashion show waktu itu, aku jadi jarang ngelihat Al nemenin kamu kalau ada acara. Kalian bertengkar?" tanya Dona mengganti topik. Dia tahu Daniel mulai tidak nyaman dengan bahasan tentang Mamanya dan calon suami barunya.

"Nggak kok, aku nggak bertengkar sama dia. Al lagi sibuk ngurusin seminar dan skripsinya. Di kampus aja, aku cuma ketemu sekali dua kali. Kalau kangen, ya… aku ke rumahnya. Itu pun ada aja yang dikerjain sama Al. Sibuk bangetlah akhir-akhir ini. Kesannya aku kayak dicuekin," jawab Daniel yang menunjukkan wajah kesal.

"Ya… biasanya juga Al sibuk, kan?" tanya Dona lagi.

Daniel hanya mengangguk.

Lihat selengkapnya