Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #1

Tamu di Pagi Kelabu

Langit masih muram sejak semalam. Gerimis turun seperti tidak pernah benar-benar berniat berhenti. Bukan deras, tapi cukup untuk membuat udara terasa berat, lengket di kulit, dan diam-diam menekan dada siapa pun yang menghirupnya.

Pagi itu, ketika ambulans merapat ke halaman sebuah rumah besar di kawasan Kambang Iwak, kawasan yang oleh orang-orang Palembang kerap disebut sebagai “Menteng”-nya kota ini, suasana seolah ikut menahan napas.

Pintu belakang ambulans dibuka perlahan. Bunyi engselnya pelan, tapi cukup terdengar di tengah sunyi yang tidak biasa itu.

Seorang lelaki dengan koko putih turun lebih dulu. Tubuhnya tegap, tapi langkahnya tidak sepenuhnya mantap. Retinanya memerah, bukan sekadar karena kurang tidur, tapi karena sesuatu yang lebih dalam dari itu. Beberapa tetes air hujan jatuh dari ujung pintu ambulans ke bahunya, meresap ke kain putih yang ia kenakan, tapi ia tidak peduli.

“Pelan… pelan…” suaranya rendah, serak, seperti ditahan agar tidak pecah di depan banyak orang.

Raga.

Tangannya ikut masuk ke bawah keranda, membantu mengangkat. Gerakan itu ia lakukan tanpa ragu, seperti refleks, seperti sesuatu yang sudah ia siapkan sejak semalam, meski pada kenyataannya, tidak ada satu pun dari ini yang benar-benar siap ia jalani.

Keranda itu diangkat perlahan, dipanggul bersama beberapa orang lain. Mereka berjalan masuk melewati pintu utama rumah.

Rumah itu. Rumah yang selama ini tidak pernah benar-benar sunyi. Rumah yang selalu terbuka untuk banyak hal dari rapat, diskusi, perdebatan panjang, bahkan keputusan-keputusan besar yang berdampak pada banyak orang. Rumah yang pintunya hampir selalu terbuka, yang lampunya sering kali tetap menyala hingga larut malam, yang langkah kaki di dalamnya tak pernah benar-benar berhenti. Rumah yang Raga kenal sejak ia bahkan belum mengerti apa-apa tentang dunia.

Namun pagi ini, rumah itu membuka pintunya untuk sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Ayahnya. Tidak berjalan. Tidak berdiri di depan, menyambut setiap tamu dengan suara berat yang hangat. Tidak lagi memanggil namanya dari teras  bahkan ketika mesin mobilnya belum benar-benar dimatikan. Tidak akan pernah lagi.

Keranda itu dibawa masuk ke ruang keluarga. Ruang yang selama ini menjadi pusat dari segala percakapan penting, hari itu berubah fungsi menjadi tempat peristirahatan terakhir sebelum doa-doa dilantunkan.

Jenazah Riady Mulyawan dipindahkan perlahan ke atas tilam yang sudah disiapkan di tengah ruangan. Raga mundur satu langkah. Menarik napas. Lalu mengangguk kecil pada orang-orang yang membantu.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Suaranya tidak tinggi. Tidak pula rendah. Hanya cukup untuk didengar, tanpa harus benar-benar diperhatikan. Seperti ada sesuatu yang ia tahan kuat-kuat agar tidak runtuh di depan semua orang. Padahal sejak subuh tadi, sejak dokter menutup mata ayahnya di rumah sakit setelah empat malam koma, tidak ada lagi yang benar-benar utuh di dalam dirinya.

Dari sisi lain ruangan, Zara mengamati semuanya. Ia duduk di samping Alina, ibunya Raga. Punggungnya tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan, tapi matanya tidak pernah benar-benar diam. Dari tempatnya, ia bisa melihat pintu utama, cukup jelas untuk menangkap satu hal yang tidak berubah sejak mereka tiba di Palembang kemarin petang.

Raga. Berdiri di ambang pintu. Menyambut setiap pelayat yang datang. Satu per satu. Susul menyusul. Lalu semakin banyak.

Karangan bunga duka mulai memenuhi halaman. Nama-nama besar dari pejabat daerah, relasi bisnis di Jakarta, vendor, subkontraktor, hingga orang-orang yang Zara sendiri tidak kenali. Tapi semuanya datang dengan satu tujuan yang sama.

Raga menyambut mereka semua. Tangannya tidak berhenti bergerak. Menyalami, menerima ucapan duka, membalas dengan kalimat yang sama, berulang, sederhana.

“Terima kasih sudah datang…”

“Terima kasih doanya…”

Zara tahu Raga tidak baik-baik saja. Tapi ia juga tahu ini bukan hari untuk bertanya. Ia hanya paham, bahwa setiap kalimat yang singkat yang Raga ucapkan, pasti terasa sepat dan kelat di lidah. Karena setiap kali diucapkan, itu seperti pengakuan ulang bahwa ayahnya Raga benar-benar sudah tidak ada.

Lihat selengkapnya