Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #2

Raga Avraham Mulyawan: Transformasi Buana Karya Nusa Pasca Generasi Pendiri

Raga Avraham Mulyawan: Transformasi Buana Karya Nusa Pasca Generasi Pendiri

Oleh : Redaksi Majalah Business


"Kalau semua orang sudah melihatnya sebagai milik saya, berarti saya tidak punya pilihan selain menjalankannya,” ujar Raga Avraham Mulyawan suatu sore, tanpa nada dramatis. Ia tidak sedang berbicara di ruang rapat atau forum bisnis, melainkan di dalam mobil yang bergerak pelan meninggalkan kawasan Sudirman, setelah seharian menghadiri rangkaian pertemuan pasca penawaran saham perdana Buana Karya Nusa.

Nada bicaranya datar, terukur, seperti seseorang yang terbiasa memilah kata agar tidak menyisakan ruang tafsir. Namun justru di situlah letak daya tariknya. Tidak ada euforia, tidak ada pernyataan ambisius tentang ekspansi besar-besaran, padahal perusahaan konstruksi yang kini ia pimpin baru saja mencatatkan diri di bursa. IPO Buana Karya Nusa bukan sekadar langkah bisnis; bagi Raga, itu adalah garis tegas yang ia tarik sendiri -dua tahun setelah kepergian ayahnya- untuk memisahkan apa yang dulu diwariskan dan apa yang kini sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.

Buana Karya Nusa bukan nama baru dalam industri konstruksi nasional. Perusahaan ini tumbuh dari proyek-proyek infrastruktur skala menengah di Palembang, Sumatera Selatan, hingga menjadi pemain yang diperhitungkan dalam pembangunan jalan tol, kawasan industri, pelabuhan logistik, hingga proyek di Ibu Kota Nusantara. Semua itu dibangun oleh Riady Mulyawan, sosok yang oleh banyak koleganya disebut sebagai “arsitek lapangan” bukan hanya karena kemampuannya membaca proyek, tetapi juga karena instingnya dalam mengambil risiko dan menjaga reputasi. Lulusan Teknik Sipil Universitas Sriwijaya dengan gelar Insinyur dari Institut Teknologi Bandung itu dikenal sebagai sosok yang keras pada standar, hemat pada kata.

Raga tumbuh di tengah ritme itu. “Saya tidak pernah benar-benar ‘diperkenalkan’ ke bisnis keluarga. Saya hanya ada di dalamnya sejak awal,” katanya.

Sejak remaja, ia sudah terbiasa ikut ke lokasi proyek, berdiri di bawah terik matahari, mendengarkan percakapan teknis yang belum sepenuhnya ia pahami. Tidak ada seremoni khusus yang menandai peralihan peran. Semuanya berjalan seperti aliran yang pelan tapi pasti. Persis seperti prinsip yang dipegang Riady Mulyawan sejak awal Buana Karya Nusa berdiri, tidak ada ekspansi agresif di awal. Tidak ada lompatan yang dipaksakan. Perusahaan tumbuh dengan ritme yang disiplin, pelan, tapi pasti.

Namun, menjadi bagian dari sesuatu sejak awal tidak serta-merta membuat seseorang siap ketika harus memimpin sepenuhnya. Momentum itu datang lebih cepat dari yang ia bayangkan. Kepergian Riady Mulyawan mengubah struktur yang selama ini terasa kokoh. Dalam waktu singkat, Raga tidak lagi berada di posisi belajar atau mendampingi. Ia berdiri di depan, menjadi wajah sekaligus penentu arah. Bedanya, arah itu kini tidak lagi bisa sekadar mengikuti jejak yang sudah ada.

Dua tahun setelahnya, ia mengambil keputusan yang tidak pernah dilakukan generasi sebelumnya. Raga membawa perusahaan keluarga itu menjadi perusahaan terbuka.

“IPO bukan cuma soal ekspansi,” ujarnya. “Ini juga soal pengamanan.”

Sebagai perusahaan keluarga, Buana Karya Nusa selama ini berada dalam lingkar kendali yang sempit. Namun semakin besar skala bisnis, semakin besar pula kepentingan yang ingin masuk. Dengan menjadi perusahaan publik, struktur berubah. Ada transparansi, ada pengawasan, ada batas yang tidak bisa dilanggar.

Bagi Raga, itu bukan pembatas, melainkan pelindung. Terlebih ketika, seperti yang ia sadari, keberlanjutan perusahaan ini masih berhenti di satu nama, dirinya.

“Kalau strukturnya kuat, perusahaan tidak bergantung pada satu orang,” katanya.

Di sisi lain, langkah itu juga membuka akses yang sebelumnya tidak sepenuhnya tersedia. Proyek konstruksi pemerintah, proyek strategis nasional, hingga pengembangan infrastruktur skala besar menuntut tata kelola yang setara dengan perusahaan publik. IPO menjadi pintu masuk sekaligus legitimasi.

Namun keputusan itu tidak lahir dari ambisi pribadi semata. Raga menempuh pendidikan S1 Teknik Arsitektur di Universitas Indonesia, lalu melanjutkan Master of Science in Advanced Architectural Design di Columbia University, New York. Di sana, ia sempat bekerja di beberapa studio arsitektur, mengerjakan proyek mixed-use, revitalisasi kawasan waterfront, hingga desain bangunan dengan pendekatan efisiensi energi.

“Waktu itu saya pikir hidup saya akan di situ,” katanya. “Kerja di studio, ngerjain desain, pulang.”

Ia sempat membayangkan hidup yang sederhana dengan tinggal di New York, bekerja di biro arsitektur, hidup berdua dengan istrinya tanpa membawa nama besar keluarga. Tidak ada perusahaan besar, tidak ada ekspektasi lintas generasi, tidak ada ribuan orang yang bergantung pada satu keputusan.

Namun rencana itu tidak pernah benar-benar terjadi. Kepulangannya ke Indonesia awalnya hanya sementara. Hingga akhirnya, satu per satu tanggung jawab datang tanpa bisa ditunda. Ketika ayahnya tiada, tidak ada lagi ruang untuk kembali.

Lihat selengkapnya