Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #4

Secercah Harap

Ruang prosedur itu lebih sunyi dari yang Zara bayangkan. Lampunya terang, putih, tanpa bayangan. Di sisi kanan ruangan, layar monitor USG sudah menyala. Di sisi lain, inkubator laboratorium kecil berdiri dengan lampu indikator hijau yang stabil. Suhu ruangan dijaga konstan. Tidak dingin, tidak hangat. Netral. Seperti berusaha tidak memihak siapa pun.

Zara berbaring di meja tindakan dengan kaki ditopang penyangga, mengenakan gaun rumah sakit biru muda. Rambutnya diikat rapi. Sebagai dokter, ia tahu setiap tahap yang akan dilakukan. Ia tahu istilahnya. Ia tahu statistiknya. Tapi pagi itu, ia bukan dokter. Ia pasien.

Di balik kaca laboratorium, embriologis sedang mempersiapkan satu tabung kateter transparan yang sangat tipis. Di dalamnya, hampir tak kasat mata, ada satu embrio hasil pertemuan sel telur Zara dan sperma Raga lima hari sebelumnya. Satu-satunya yang bertahan.

Dari beberapa sel telur yang berhasil dibuahi pada IVF ketiga ini, hanya satu yang berkembang hingga tahap blastokista dengan kualitas layak transfer. Yang lain berhenti di hari ketiga, atau tidak berkembang sempurna.

Satu.

Raga berdiri di sisi kepala Zara, mengenakan pakaian steril dan penutup sepatu biru. Tangannya menggenggam tangan istrinya pelan, tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk memberi tahu bahwa ia ada.

Dua kali sebelumnya, mereka berdiri di ruangan yang sama. Dua kali embrio dipindahkan dengan prosedur yang sama rapi dan penuh harap. Dua kali testpack tetap satu garis. Tanpa drama. Tanpa tanda-tanda. Hanya hening.

"Siap ya, Dok?" suara dr. Ariando Anwar, Sp.OG, yang mereka panggil Dokter Nando, terdengar tenang.

Zara mengangguk kecil. Dokter Nando duduk di kursi prosedur. Spekulum dimasukkan perlahan untuk membuka akses ke serviks. Adila menarik napas dalam. Tidak sakit, hanya tidak nyaman. Ia sudah menjalani ini sebelumnya. Tubuhnya hafal.

Perawat membersihkan area serviks dengan cairan steril. Di layar USG, rahim Zara terlihat sebagai ruang kosong berbentuk segitiga putih abu-abu.

"Endometriumnya bagus," ujar Dokter Nando pelan. "Tebal dan rata."

Kalimat itu sederhana, tapi bagi mereka, seperti doa kecil.

Embriologis masuk membawa kateter transfer yang sudah terisi. Tabung itu nyaris transparan. Mustahil membayangkan di dalamnya ada sesuatu yang kelak, jika berhasil, bisa memiliki jantung, tangan, dan wajah.

Dokter Nando memasukkan kateter luar terlebih dahulu, perlahan melewati serviks. Di layar USG, garis tipis bergerak masuk ke dalam rongga rahim.

Raga menahan napas. Zara merasakan tekanan ringan di perut bawahnya. Tidak sakit. Hanya sensasi penuh.

"Kateter dalam," ucap Dokter Nando.

Kateter kedua yang lebih halus dimasukkan melalui selongsong pertama. Di ujungnya, embrio itu berada dalam setitik cairan kultur.

"Transfer sekarang," perintah terlontar dari Dokter Nando yang masih begitu fokus.

Di layar USG, terlihat kilatan kecil seperti cahaya samar, gelembung mikro cairan yang dilepaskan di tengah rongga rahim. Itu saja.

Proses yang memakan waktu berminggu-minggu dari stimulasi hormon, suntikan harian di perut, kontrol berkala, pengambilan sel telur, pembuahan di laboratorium yang berujung pada satu momen hening selama beberapa detik.

Kateter ditarik perlahan. Embriologis segera memeriksa di bawah mikroskop untuk memastikan embrio benar-benar telah terlepas dari kateter.

"Clear," tutup spesialis kandungan yang sekaligus sejawat Zara di rumah sakit ini.

Lihat selengkapnya