Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #5

Es Krim Manggis

Dua minggu setelah embrio transfer selalu menjadi fase paling paradoks dalam program IVF. Secara medis, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Embrio sudah dipindahkan. Rahim sudah disiapkan. Hormon sudah diberikan. Proses biologis berjalan di luar kendali manusia. Namun secara psikologis, justru di fase inilah segalanya terasa paling aktif.

Zara menghitung hari. Bukan dengan kalender biasa, tapi dengan istilah yang hanya dipahami mereka yang pernah berada di titik ini: DPT-days post transfer.

DPT 1.

DPT 2.

DPT 3.

Tubuhnya terasa seperti medan eksperimen kecil yang ia amati sendiri. Sebagai dokter, ia tahu betul efek progesteron. Payudara nyeri, kembung, sensasi ditarik di perut bawah, perubahan mood. Ia hafal. Masalahnya, kehamilan dini juga memberikan gejala yang hampir identik. Itulah kejamnya dua minggu ini, hormon dan harapan berbagi gejala yang sama.

"Perut kamu kenapa?" tanya Raga pada hari keempat, ketika melihat Zara duduk terlalu lama memegang bagian bawah perutnya.

"Biasa," jawabnya cepat. "Efek obat."

Ia tidak mau membuka pintu diskusi itu. Dua IVF sebelumnya sudah mengajarkannya satu hal: jangan terlalu cepat memberi arti pada tubuh sendiri.

Pada IVF pertama, ia sempat merasa mual ringan dan yakin itu tanda baik. Pada IVF kedua, ia merasakan kram samar dan sudah mulai membayangkan tanggal perkiraan lahir. Keduanya berakhir pada satu garis di testpack dan angka Beta HCG yang tidak pernah naik.

Kali ini, ia ingin rasional. Namun tubuhnya mulai bertingkah. Hari keenam, menjelang pulang dari rumah sakit, ia berkata dengan nada yang bahkan membuatnya sendiri heran.

"Aku pengen es krim."

Raga mengangguk. "Mau rasa apa?"

Zara terdiam, lalu menjawab tanpa ragu, "Manggis."

Raga menoleh tajam. "Manggis?"

"Iya. Nggak tahu kenapa. Lihat seliweran musim manggis di Instagram jadi kepikiran. Tapi maunya versi es krim."

Permintaan itu terdengar sepele, tapi pada jam segitu di Jakarta, es krim rasa manggis bukan hal mudah ditemukan. Mereka berhenti di dua gerai modern. Tidak ada rasa manggis. Hanya rasa-rasa standar seperti cokelat, stroberi, matcha, pistachio. Rasa yang terlalu biasa untuk memenuhi hasrat aneh yang tiba-tiba muncul itu.

Zara mulai terlihat frustrasi. Bukan marah, lebih seperti kecewa pada dirinya sendiri karena menginginkan sesuatu yang tak masuk akal. Raga akhirnya menelepon Abhiyasa Candra, asisten pribadinya yang sudah terbiasa menerima permintaan mendadak dari atasannya, meski biasanya terkait proyek triliunan, bukan dessert musiman.

"Can, pernah nemu es krim rasa manggis nggak?"

Di seberang sana terdengar tawa kecil. "Pak, random banget."

"Serius."

Candra terdiam sebentar, lalu terdengar suara keyboard cepat.

"Kayaknya saya pernah makan rasa aneh-aneh di Pasar Baru, Pak. Toko es krim lama. Yang jual kakek-nenek keturunan China. Mereka punya rasa Malaga juga, yang ada alkoholnya itu."

"Malaga?" Trian mengernyit. "Ada-ada aja."

"Tapi legit, Pak. Saya kirim lokasi."

Pasar Baru malam itu tidak terlalu ramai. Toko es krim itu kecil, lampunya kekuningan, etalase kaca tua dengan daftar rasa ditulis tangan. Dan Candra benar. Di antara durian, tape, rum raisin ... tertulis: manggis.

"Masih ada?" tanya Raga.

Penjual lansia itu mengangguk pelan. "Ada. Musiman."

Ketika sendok pertama menyentuh lidahnya, Zara menutup mata. Rasanya asam-manis lembut dengan sedikit pahit khas kulit manggis. Dingin, segar, entah kenapa menenangkan.

"Ini enak banget," gumamnya.

Di dalam mobil, Raga meliriknya berkali-kali.

"Ini tanda nggak sih?" tanyanya hati-hati.

Zara langsung menggeleng. "Jangan mikir aneh-aneh."

Ia tidak mau memberi nama pada apa pun.

Namun malam berikutnya, tanda-tanda semakin sulit diabaikan. Seperti ritual tak tertulis, selepas magrib Raga menjemput Zara dari rumah sakit. Mereka mencoba menjaga rutinitas tetap normal. Makan malam sederhana di luar sebelum pulang.

Malam itu mereka memilih Menteng. Kawasan kuliner yang sudah jadi tempat aman sejak masa pacaran. Dekat nasi goreng gila favorit Zara dan sate taichan kesukaan Raga.

Asap sate mengepul, aroma bawang dan cabai bercampur hangat di udara. Zara menyuap nasi gorengnya. Suapan pertama biasa saja. Suapan kedua membuat perutnya berputar. Ia berhenti.

"Mual," keluhnya pelan.

Raga langsung waspada. Zara mencoba bertahan. Tapi aroma minyak panas tiba-tiba terasa terlalu tajam. Dunia seperti berputar sedikit. Ia berdiri dan berjalan cepat menjauh dari keramaian. Raga menyusul.

Di dekat mobil, Zara muntah cukup banyak. Bukan sekadar mual ringan. Tubuhnya benar-benar bereaksi. Raga mengusap punggungnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Kita bungkus aja. Pulang."

Di mobil, Zara bersandar lemah.

"Mungkin cuma masuk angin," katanya cepat, defensif sebelum Raga sempat menyimpulkan apa pun. Ia tahu arah pikiran suaminya.

Lihat selengkapnya