Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #6

Cerita dari Semangkuk Tekwan Udang

Restoran Sumatera Selatan di Cempaka Putih siang itu penuh, seperti biasa setiap akhir pekan. Aroma pindang, asap ikan bakar, dan kuah tekwan yang gurih menyambut begitu pintu kaca didorong terbuka.

Interiornya sederhana tapi bersih. Meja-meja bundar dengan taplak putih, lukisan Jembatan Ampera di dinding, dan deretan botol sirup markisa di rak kayu dekat kasir.

Zara baru saja melangkah masuk ketika suara familiar memanggil.

"Raaagaaa ... Zaarrraa ..."

Adinda Mulyawan, sepupu Raga yang akrab disapa dengan Ayuk Adin itu berdiri lebih dulu, membuka tangan lebar. Cipika-cipiki berlangsung cepat dan riuh. Sepupu-sepupu lain menyusul, saling rangkul, saling tepuk bahu. Tidak ada jarak canggung. Tidak ada formalitas berlebihan. Meski sebagian besar dari mereka datang dengan mobil-mobil mahal dan jam tangan yang tak murah, di meja itu mereka hanya keluarga, anak-anak Palembang yang kebetulan tumbuh sukses di Jakarta.

"Macet dak?" tanya Cik Arie, sepupu bungsu Raga, putra dari adik bungsu Riady Mulyawan.

"Macet bae. Jakarta ini kalau dak macet, bukan Jakarta namonyo," jawab Raga enteng. Semua tertawa.

Pempek datang lebih dulu. Kuah cuko dituang, sendok bergerak cepat. Obrolan berkelindan dari proyek, showroom mobil, sampai rencana liburan. Di tengah obrolan, ponsel Ayuk Adin berdering. Nama suaminya muncul. Ia langsung mengangkat.

"HALO?! IYO?! AKU DI CEMPAKA PUTIH!" Suaranya otomatis naik satu oktaf.

"IYO, MAKAN! HALO?! KEDENGERAN DAK?!"

Beberapa meja sebelah mulai melirik. Raga menahan senyum, lalu menyeletuk santai, "Ayuk... pelan bae. Macam neriaki copet di pasar 16 Ilir."

Semua langsung tergelak. Cik Arie sampai batuk kecil karena tertawa sambil minum. Ayuk Adin menutup sebagian speaker dengan tangan, melotot pura-pura kesal.

"Abang kau tu, speaker HP-nyo rusak!" katanya cepat dalam logat kental. "Dak jugo dibenerin. Jadi bini secantik Miss Universe ini terpakso neriak macam jual pempek di bawah Jembatan Ampera, baru dio denger apo kato biniknyo!"

Tawa pecah makin keras. Zara tertawa lepas, sampai matanya menyipit.

Ayuk Adin lanjut mengomel manja, "Kalau velg mobil lecet sikit bae, langsung ke bengkel. Tapi speaker HP rusak, dibiarke bae. Apo kabar?"

"Prioritasnyo jelas," sahut Raga enteng.

Meja kembali riuh oleh tawa dan suara sendok beradu mangkuk. Zara tersenyum melihat dinamika mereka. Ia selalu menyukai momen seperti ini. Persepupuan yang hangat, yang terasa tulus. Bukan kumpul keluarga besar yang penuh tatapan menilai, melainkan lingkar kecil yang benar-benar dekat.

Pelayan datang membawa pempek kapal selam, lenjer, dan kulit sebagai pembuka. Sambal cuko dituangkan, aromanya tajam manis asam.

"Eh, Yuk, showroom kau jadi buka cabang?" tanya salah satu sepupu.

"Jadi dong. Doain lancar," jawab Ayuk Adin, matanya berbinar bangga.

Obrolan mengalir ringan. Tentang ekspansi bisnis. Tentang proyek baru. Tentang liburan singkat ke Singapura. Tentang anak-anak yang mulai masuk TK internasional. Salah satu sepupu-anak dari salah satu paman yang dikenal perfeksionis-bercerita sambil tertawa kecil.

"Kalau Wakmo Riady dulu pasti bilang, kerja itu yang penting jujur. Jangan menyusahkan wong."

Lihat selengkapnya