Sore itu, poli anak di rumah sakit tempat Zara praktik masih ramai meski jam sudah lewat pukul lima. Tangis bayi yang baru selesai imunisasi terdengar samar dari lorong, bercampur dengan suara perawat memanggil pasien berikutnya.
Di dalam ruang praktik, Zara baru saja menutup rekam medis pasien terakhirnya. Ia melepas masker, menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke kursi.
Sembilan minggu.
Angka itu terngiang sejak pagi. Sembilan minggu ia menyimpan kehidupan kecil di dalam tubuhnya. Kehidupan yang setiap hari ia jaga dengan suntikan progesteron, vitamin, dan disiplin yang tak pernah ia jalani untuk dirinya sendiri.
Ketukan di pintu membuatnya menoleh.
"Masuk."
Raga berdiri di ambang pintu, jasnya masih rapi, rambutnya sedikit berantakan seperti baru saja turun dari mobil tanpa sempat bercermin. Tatapannya langsung menyapu ruangan, lalu perlahan berhenti ke satu titik.
Di meja kecil samping meja kerja Zara ada plastik jajanan yang tak mungkin disangkal. Plastik berisi tusuk-tusuk cilor berbalut saus merah, maklor dengan bumbu bubuk oranye terang, dan plastik dengan sisa saus kacang yang jelas sudah dijilat bersih.
Raga mengangkat satu alis. Zara mengikuti arah pandangnya. Wajahnya langsung berubah jadi senyum bersalah.
"Itu cuma... cemal-cemil," kelitnya disertai cengiran.
"Cemal-cemil?" ulang Raga dengan tatapan menyelidik. "Ini warnanya bisa jadi bahan cat proyek flyover loh, Sayang."
Dari luar, Dewi, perawat poli anak sekaligus sahabat Zara sejak pertama bekerja di rumah sakit ini, menyembulkan kepala dengan wajah tak berdosa.
"Pak Raga jangan galak-galak dong. Itu tradisi kami tiap praktik sore," belanya santai.
"Tradisi sebelum atau sesudah hamil?" Raga bertanya datar.
Zara terkekeh. "Ya kan belum tentu tiap hari, Sayang."
"Dokter Zara ...." Raga menyebut namanya lengkap. Itu tanda bahaya.
Ia mendekat, memandang satu demi satu plastik cemal-cemil itu dengan serius. "Kamu lagi hamil sembilan minggu loh. Organ dia lagi berkembang. Otaknya lagi tumbuh. Sekarang kamu kasih micin?"
Zara berdiri cepat, meraih tasnya.
"Iya, iya. Maaf. Cuma kangen. Dari dulu tiap praktik sore pasti jajan beginian bareng Dewi. Cilor, maklor, cilok, cireng... Peracian mah makanan sehari-hari di budaya orang Sunda, Sayang."
"Sekarang kamu budaya prenatal," sahut Raga.
Dewi tertawa keras, lalu berujar, "Udah, Pak. Saya yang awasi. Kalau dia kebanyakan lagi, saya laporin."
"Pengkhianat," gumam Zara sambil menyikut sahabatnya yang justru berhadiah juluran lidah.
Dewi orang pertama yang tahu kehamilan ini karena Zara perlu bantuan jika ada pasien anak cukup besar yang minta digendong naik bed pemeriksaan atau sedang tantrum dengan potensi menendang. Dewi sigap mengatasi kondisi berat seperti ini. Sejak hamil, Zara memang berusaha mencegah resiko dari pasien-pasiennya.
Namun senyum di wajah Zara tetap lebar. Ia tahu Raga bukan benar-benar marah. Ia hanya... takut. Takut kehilangan lagi.
"Sudah, ayo," kata Raga akhirnya, suaranya melunak. "Kita nggak boleh telat."
Hari ini jadwal kontrol ke dokter Nando. Dan untuk pertama kalinya, di usia sembilan minggu, mereka akan benar-benar melihat perkembangan yang lebih jelas.
Ruang USG terasa lebih familiar dibanding kunjungan pertama. Tapi justru karena itu, ketegangannya berbeda.
Zara berbaring di bed pemeriksaan. Tangannya dingin. Raga berdiri di sisi kanan, menggenggam tangannya tanpa sadar. Ia jarang terlihat gugup, tapi sorot matanya hari itu tidak bisa disembunyikan.
Layar menyala. Dokter Nando menggerakkan probe perlahan.
"Sekarang kita lihat ya," katanya tenang.
Di layar hitam putih itu, bukan lagi hanya kantong kehamilan kosong seperti beberapa minggu lalu.
Ada bentuk kecil. Jelas. Lengkung kepala. Garis tubuh. Tonjolan kecil calon tangan.
"Ini embrionya," ujar Dokter Nando.
Raga menahan napas. Lalu suara itu terdengar. Cepat. Ritmis. Tegas.
Dug ... dug ... dug ... dug ...
Zara refleks menutup mulutnya. Air matanya langsung mengalir tanpa aba-aba.
"Itu detak jantungnya," terang Dokter Nando lembut.
Raga menatap layar seperti seseorang yang baru saja melihat keajaiban pertama dalam hidupnya.
"Cepat sekali," gumamnya.
"Sekitar 170 kali per menit. Untuk usia sembilan minggu, ini normal dan kuat," jawab Dokter Nando. "Panjang janin sekitar dua setengah sampai tiga sentimeter. Sekarang fase pembentukan organ utama hampir selesai. Otak berkembang pesat. Jantung sudah berfungsi. Tangan dan kaki mulai terbentuk lebih jelas."
"Sekarang sudah bukan sekadar kantong kehamilan. Ini embrio yang aktif," tambah Dokter Nando.
Raga mengangguk pelan, masih terpaku pada layar.
"Jadi dia bisa dengar?" tanyanya hati-hati.
"Belum sepenuhnya seperti bayi besar," sahut Dokter Nando ringan. "Tapi stimulasi dari luar penting. Suara ibu, suara ayah. Mulai biasakan ajak ngobrol. Itu membantu bonding dan perkembangan sarafnya."