Akhir pekan itu dimulai dengan aroma bawang putih yang belum juga ditumis. Zara berdiri di dapur dengan rambut diikat asal, mengenakan kaus rumahan longgar. Di kitchen island sudah tergeletak satu ekor ayam pejantan segar yang baru datang dari layanan online. Raga duduk di kursi tinggi sambil menyeruput kopi, memperhatikan istrinya yang tampak lebih serius dari biasanya.
Ponsel Zara tersambung video call. Wajah Mamih muncul di layar.
"Assalamualaikum, Mih."
"Waalaikumsalam, Neng. Kumaha damang?"
"Alhamdulillah, damang. Mih... mau tanya resep ayam goreng basah yang biasa Mamih masak itu."
Mamih menyipitkan mata penuh selidik.
"Tumben pisan Neng masak sorangan. Biasana mah tinggal mesen."
Zara tertawa kecil.
"Lagi kangen Bandung aja, Mih."
Di belakang layar terdengar suara televisi dan langkah kaki. Rumah di Bandung itu selalu terasa hidup.
"Oke, ayeuna dengerkeun," kata Mamih, lalu kembali ke bahasa Indonesia agar lebih jelas. "Ayamnya dipotong empat dulu. Cuci bersih, tiriskan."
Zara menaruh ponsel di penyangga dan mulai bekerja.
"Bumbunya haluskan ya, Mih?"
"Iya. Delapan siung bawang putih, satu ruas kunyit, satu ruas jahe, satu sendok makan ketumbar. Tambah sedikit air biar gampang halusnya."
Raga mendekat dengan raut serius yang jelas sekali dibuat-buat.
"Saya catat nih, Mih. Kalau Zara salah, saya yang disalahkan nanti."
Mamih tertawa kecil. "Bagus. Suami harus siaga."
Zara melirik tajam ke arah Raga sebelum bersuara ke Mamih, "Jangan mancing, Mih."
Mamih tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Kadung hafal dengan laku anak bungsu dan menantunya yang sudah tujuh tahun berumah tangga tapi bagai pengantin baru saja. Wanita bersahaja itu memilih melanjutkan dengan nada tenang.
"Setelah bumbu halus, masukin ayam ke panci. Tambahin dua daun salam, satu batang serai digeprek, satu ruas lengkuas digeprek. Garam satu sendok teh, kaldu jamur satu sendok teh, gula tiga sendok teh. Air sekitar lima ratus mili."
"Air kelapa lebih enak nggak, Mih?" tanya Zara.
"Kalau ada, bagus. Tapi air biasa juga nggak apa-apa."
Zara mengaduk ayam dan bumbu dalam panci. Aroma kunyit dan jahe mulai menguar pelan.
"Masaknya berapa lama?"
"Api sedang aja. Sekitar lima puluh menit sampai empuk. Sesekali dibalik biar rata. Habis itu didiemin dulu lima belas menit baru digoreng sebentar. Jangan kering banget, ini kan ayam goreng basah."
Tiba-tiba suara khas yang sangat dikenal Zara terdengar dari belakang Mamih.
"ADEK!"
Wajah Barly muncul setengah layar, rambutnya masih basah.
"Si Adek hamil mereun?" celetuknya tanpa basa-basi.
Mamih langsung menegur, "Hush, Aa! Ulah sembarangan ngomong."
Lalu kembali menatap layar dengan nada lembut, "Tong didengekeun si Aa, Neng. Suka heureuy wae."
Zara tertawa, berusaha terlihat biasa saja.
"Enggak papa, Mih. Lagi pengin masak aja."
Barly menyipitkan mata. "Tumben rajin banget."
Di belakangnya, Yasmine muncul sambil menggendong Lea. Lio melambai ke layar. Zara dan Raga balas menyapa sepasang anak kembar Barly dan Yasmin. Rumah itu riuh, hangat, penuh suara. Membuat rindu Zara pada Bandung kian mengental saja.
Video call diakhiri bersama Zara yang beralih ke pelengkap ayam goreng basah ini. Sambal dadak yang tadi resepnya juga dijelaskan Mamih. Sepuluh cabai rawit, setengah sendok teh terasi matang, satu tomat, gula, garam, penyedap, dan perasan jeruk limau. Tadi, sebelum benar-benar ditutup, Mamih sempat memberi pesan agar Zara jangan terlalu capek praktik di rumah sakit. Dokter spesialis anak ini mengangguk patuh.
Dapur kembali sunyi. Ayam sedang diungkep. Bumbu meresap perlahan.
Raga berdiri di belakang Zara, memeluknya ringan.
"Kamu mellow ya?" bisiknya.
Zara tersenyum kecil. "Cuma kangen aja."
"Masak ini karena kangen, atau karena lagi sensitif hormon?" goda Raga pelan.
Zara menyikut perut Raga pelan. "Jangan mulai."
Beberapa saat kemudian ayam digoreng sebentar. Warnanya keemasan, masih juicy. Sambal dadak sudah siap di cobek. Mereka duduk berdua di meja makan. Suapan pertama, Raga mengangguk antusias.
"Ini persis kayak di rumah Bandung," cetusnya dengan mata berbinar-binar.
Zara menatap ayam di piringnya, lalu tersenyum pelan. Hangat. Familiar. Seperti pulang.
Di luar rumah, Jakarta tetap bising. Di dalam dapur itu, ada dua orang yang sedang menikmati akhir pekan sederhana. Dengan satu rahasia kecil yang masih mereka jaga rapat, menunggu cukup kuat sebelum akhirnya diperkenalkan pada dunia.
Ayam di piring tinggal tulang. Sambal dadak tersisa sedikit di sudut cobek. Nasi hangat sudah habis tanpa sadar.
Zara menyandarkan punggungnya ke kursi makan, wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibanding pagi tadi. Perutnya terasa penuh, bukan hanya karena makanan, tapi karena rasa tenang yang jarang ia rasakan beberapa minggu terakhir.
Refleks tangannya turun mengusap perutnya yang masih rata. Senyumnya lembut.
"Adek seneng makan ayam goreng basah?" katanya seakan berbisik, mengajak bercanda bayi di dalam perutnya sekaligus terasa sungguh-sungguh. "Itu khas Sunda, loh. Dulu Mamam sering dimasakin Mamihnya Mamam."
Raga menatapnya tanpa menyela.
"Nanti kamu manggilnya Enin," lanjut Zara, suaranya menghangat. "Kalau Papihnya Mamam, kamu manggilnya Aki."
Ia berhenti sebentar, membayangkan adegan itu, seorang anak kecil berlari di halaman rumah Bandung, dipanggil Enin dari dapur, dipanggil Aki dari teras.
Raga menyandarkan dagunya di tangan, menatap istrinya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Anak kita kayaknya bakal doyan kulineran deh," celutuknya santai.
Zara terkekeh kecil. "Kenapa gitu?"
"Liat aja Mamamnya hobi jajan dari cilor sampai tekwan udang. Papapnya doyan pindang, sate taichan, apa aja dicoba." Ia menunjuk perut Zara pelan. "Genetiknya kuat."
Zara menggeleng-geleng.
"Yang penting tumbuh sehat."
Raga ikut mengangguk, kali ini lebih serius.
"Sehat. Baik. Mau jadi dokter kayak Mamam, arsitek kayak Papap, atau malah pengusaha ayam goreng basah... Boleh semua pokoknya."
Zara tersenyum lebar.
"Asal jangan jadi tukang nyinyir keluarga aja ya, Dek," gumamnya pelan.
"Jangan ya, Dek ya, jangan ..." ucap Raga disertai tawa. "Itu sih beneran nggak boleh."
Beberapa detik mereka terdiam. Sunyi yang nyaman. Raga kembali mengusap perutnya, kali ini lebih refleks, lebih protektif.
"Makannya yang bener ya di dalam ya, Dek," bisik Zara pelan. "Mamam usahain apapun yang Adek mau makan bisa kita coba."
Raga bangkit, memungut piring ke dapur.
"Besok kita masak lagi kalau Adek suka," katanya dari arah wastafel.
Raga menatap punggung suaminya, lalu kembali ke perutnya. Sederhana sekali kebahagiaan siang itu. Sepiring ayam goreng basah, sambal dadak, dan percakapan kecil tentang panggilan Enin dan Aki. Tapi setelah tujuh tahun menunggu, bahkan momen sesederhana ini terasa seperti anugerah yang besar.
Siang itu berjalan pelan. Setelah dapur dirapikan dan ayam goreng basah tinggal aroma tipis di udara, mereka pindah ke ruang keluarga. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, jatuh lembut di lantai kayu. AC tidak terlalu dingin. Hening yang nyaman.
Zara lebih dulu merebahkan diri di sofa panjang. Raga menyusul, lalu tanpa banyak kata menarik tubuh istrinya mendekat. Kepala Zara otomatis bersandar di dada Raga, satu kaki naik sedikit ke atas paha suaminya. Raga mengusap rambut Zara perlahan.
"Ngantuk?" tanyanya pelan.
"Enggak," jawab Zara lirih. "Cuma pengin rebahan aja, Sayang."
Layanan streaming film sudah menyala. Raga memilih film Dilan. Begitu opening-nya muncul dengan latar Bandung, Zara tersenyum kecil.
"Bandung," gumamnya.
Raga mengusap pelan pelipis istrinya. "Kamu kangen banget ya?"
"Bandung itu banyak kenangan," jawab Zara pelan.
Film berjalan. Motor tua, jaket jeans, suasana SMA tahun 90-an. Tapi bagi mereka, Bandung bukan sekadar setting romantis film remaja. Bandung adalah titik temu hidup mereka.
Raga menunduk sedikit. "Kita pertama ketemu di sana."
Zara terkekeh kecil. "Kamu dengan rompi proyek dan helm putih itu."
Raga ikut tertawa. "Dengan tangan berdarah."
Lalu keduanya tersenyum, ingatan lama, Bandung satu dasawarsa itu seperti saling terkoneksi lewat tatapan mata mereka.
***
Hari itu IGD RS Hasan Sadikin lebih ramai dari biasanya. Seorang anak dengan demam tinggi baru saja dipindahkan ke ruang observasi. Seorang balita dengan luka sobek di dahi menangis histeris. Perawat mondar-mandir membawa troli obat.
Zara berdiri di salah satu bed, masih mengenakan jas putih yang lengan kirinya sedikit terlipat. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya serius, pertanda mode dokter sedang aktif.
"Dok, ini dari proyek renovasi bangsal anak," kata seorang mandor yang mengantar pasien berikutnya.
Zara menoleh ke laki-laki yang berdiri di sampingnya. Perawakannya membuat residen dokter anak ini sedikit mengernyit. Tinggi. Bahu lebar. Kemeja proyek masih berdebu. Rompi safety digantung sembarangan di tangan kiri. Di lengan kanan, tepat di bawah siku, ada luka tusuk kecil dengan darah yang sudah mulai mengering. Tapi wajah lelaki dewasa ini terlalu dramatis untuk ukuran luka seperti itu.
"Sakit banget, Dok," katanya sebelum Zara sempat bertanya.
Zara mengangkat alis. "Duduk dulu, Pak."
Ia mendekat. Bau debu semen dan keringat tipis bercampur aroma antiseptik ruangan.
"Lukanya kena apa?"
"Besi. Tajam banget. Tadi hampir nembus," jawabnya meyakinkan.
Zara melihat lebih dekat. Luka tusuk kecil. Tidak dalam. Tidak menganga. Tidak perlu jahit. Ia menahan senyum.
"Ini nggak dalam," katanya datar. "Cuma perlu dibersihkan."
Raga, yang belum Zara kenal namanya saat itu, langsung menegakkan badan.
"Dibersihin maksudnya gimana?"
"Dibersihkan pakai cairan antiseptik."