Menjaga Pondasi di Ibu Kota Baru
Mengikuti Raga Avraham Mulyawan Meninjau Proyek Strategis di IKN
Laporan Feature Harian Kabar Indonesia
Langit Kalimantan Timur masih berwarna keperakan ketika Raga Avraham Mulyawan turun dari kendaraan proyek di kawasan inti pusat pemerintahan Ibu Kota Nusantara (IKN). Helm putih sudah terpasang rapi, rompi keselamatan tersemat, sepatu proyek menapak tanah merah yang masih basah sisa hujan malam.
Jam baru menunjukkan pukul 07.15 WITA.
Di hadapannya berdiri struktur beton bertingkat yang kelak menjadi salah satu gedung kantor kementerian. Rangka kolom dan baloknya sudah terbentuk. Crane menjulang. Suara mesin dan palu berpadu dengan teriakan instruksi yang bersahut-sahutan.
Raga tidak langsung berbicara. Ia menengadah beberapa detik, mengamati garis fasad yang masih telanjang.
"Progress struktur berapa persen?" tanyanya kepada site manager.
"Empat puluh delapan persen, Pak. Target topping off tiga bulan lagi."
Ia mengangguk singkat. Tidak banyak komentar. Hanya mencatat di tablet yang selalu dibawanya.
Di balik citra sebagai CEO perusahaan konstruksi nasional Buana Karya Nusa yang kini menangani sejumlah proyek strategis pemerintah, Raga masih membawa identitas awalnya sebagai arsitek. Ia lulus S1 Teknik Arsitektur dari Universitas Indonesia dan menyelesaikan studi Master of Science in Advanced Architectural Design di Columbia University, New York.
"Di site seperti ini, saya merasa paling hidup," ujarnya kemudian, ketika ditemui Kabar Indonesia di sela peninjauan.
Dari Gambar ke Tanah Nyata
Sebagai arsitek, Raga terbiasa memulai dengan gambar. Sketsa, garis, dan simulasi digital. Namun di IKN, ia lebih banyak berdiri di tanah lapang daripada di ruang presentasi.
Gedung kementerian yang tengah dibangun perusahaannya dirancang dengan prinsip keberlanjutan. Ventilasi silang alami, penggunaan material berjejak karbon lebih rendah, serta sistem pengolahan air hujan untuk kebutuhan non-potable.
"Kita membangun bukan hanya untuk lima atau sepuluh tahun. Ini infrastruktur negara. Harus bertahan puluhan tahun," katanya.
Ia berjalan menyusuri area lantai dasar, berhenti di titik tertentu, lalu berdiskusi dengan tim struktur mengenai detail sambungan baja. Tidak ada jarak kaku antara CEO dan pekerja lapangan. Ia menyapa mandor dengan nama, menanyakan kondisi pekerja yang sempat cedera ringan pekan lalu.
"Kalau mau tahu masalah sebenarnya, jangan hanya baca laporan. Datang dan lihat," ujarnya.
Pendekatan ini disebut sejumlah karyawan sebagai gaya kepemimpinan yang "turun tanah", sebuah warisan dari ayahnya, almarhum Riady Mulyawan, pendiri Buana Karya Nusa di Palembang.
Keberlanjutan sebagai Komitmen
Di IKN, isu keberlanjutan bukan sekadar slogan. Regulasi menuntut standar bangunan hijau yang ketat. Raga mengakui, tantangannya bukan hanya teknis, tetapi juga budaya kerja.
"Mengubah kebiasaan industri konstruksi itu tidak mudah. Tapi kita harus mulai," ujar Raga di sela peninjauan.
Perusahaannya mulai menerapkan digital monitoring untuk efisiensi energi proyek, mengurangi limbah konstruksi melalui sistem modular, dan mendorong penggunaan material lokal untuk menekan emisi distribusi.