Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #10

Fans Nomer Satu

Lampu kamar hotel redup. Jam menunjukkan pukul 20.10 WITA. Raga Avraham Mulyawan baru saja selesai membaca laporan progres harian proyek kementerian di IKN. Tablet yang sama ia gunakan untuk membuka aplikasi live streaming.

DocHealth Indonesia sudah mulai. Opening bumper musik terdengar. Kamera menyorot studio modern dengan warna biru dan putih. Di tengah panggung, duduk seorang perempuan dengan gaun profesional elegan dan senyum yang sangat familiar di mata publik Indonesia, dr. Reisa Dipoatmodjo.

"Selamat malam, Sahabat Sehat," sapa Reisa dengan suara yang tenang dan artikulatif. "Malam ini kita akan membahas topik yang sangat penting, pemenuhan gizi anak yang tidak harus mahal."

Raga otomatis membenarkan posisi duduknya. Frame kamera bergeser ke sisi kanan. Zara. Istrinya duduk tegak, mengenakan dress putih gading lembut dengan rambut tergerai rapi. Wajahnya tenang, sorot matanya fokus. Profesional. Hangat.

Raga tersenyum kecil. Itu bukan Zara yang cerewet soal es krim manggis atau ngidam kelapa kopyor. Itu dokter spesialis anak yang setiap hari berdiri di NICU dan poli anak.

Di studio Prima TV, Reisa membuka dengan data. "Kita sering dengar orang tua merasa harus memberikan makanan mahal seperti salmon atau susu impor agar anaknya cerdas. Benarkah demikian, Dok?"

Zara tersenyum tipis. "Tidak harus, Dokter Reisa. Prinsip gizi itu bukan tentang mahal atau murah. Tapi tentang keseimbangan dan kecukupan nutrisi."

Kamera close-up ke wajahnya. "Di Indonesia, kita punya sumber protein hewani yang sangat baik dan jauh lebih terjangkau. Misalnya ikan kembung. Kandungan omega-3-nya tinggi, bahkan dalam beberapa penelitian, sebanding dengan salmon. Lele juga sumber protein yang sangat baik dan mudah diakses."

Raga mengangguk pelan di kamar hotelnya. Ia tahu betul berapa harga salmon di supermarket premium Jakarta.

"Yang terpenting," lanjut Zara, "adalah periode 1.000 hari pertama kehidupan yang mulai dari masa kehamilan hingga anak usia dua tahun. Di fase ini, struktur otak berkembang sangat pesat. Kekurangan gizi di periode ini bisa berdampak jangka panjang terhadap kecerdasan dan kesehatan anak."

Reisa menyimak serius. "Jadi bukan sekadar makan kenyang ya, Dok?"

"Betul. Anak tidak hanya butuh kalori, tapi juga zat besi, protein, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral. Dan itu bisa didapat dari makanan sehari-hari yang sederhana, seperti telur, tempe, tahu, ikan lokal, sayuran hijau."

Sementara di kamar hotel, IKN, Raga bersandar lebih dalam ke sofa. Ia melihat cara Zara menjelaskan. Tidak menggurui, tidak dramatis, tapi jelas. Ilmiah. Mudah dipahami.

Ketika Reisa bertanya tentang mitos "anak pintar harus susu mahal," Zara tersenyum lagi.

"Kecerdasan anak tidak ditentukan oleh satu merek susu. Yang menentukan adalah pola makan seimbang, stimulasi, dan kasih sayang."

Kasih sayang.

Raga menatap layar lebih lama. Ia tahu betul, di balik kalimat-kalimat profesional itu, Zara sedang membawa pengalaman pribadi yang tidak disinggung di layar. Tentang menunggu. Tentang membangun fondasi kehidupan sejak dalam kandungan.

Kembali ke studio Prima TV tempat DocHealth Indonesia syuting, Dokter Reisa menutup dengan pertanyaan reflektif.

"Apa pesan dokter untuk para orang tua yang mungkin merasa terbatas secara ekonomi?"

Zara menjawab tanpa ragu. "Jangan minder. Jangan merasa anak Anda kalah hanya karena tidak makan makanan mahal. Yang penting adalah konsistensi, variasi, dan perhatian. Ikan kembung, lele, telur, tempe itu luar biasa nilainya. Yang mahal bukan selalu yang terbaik. Yang tepat dan cukup, itu yang menentukan."

Tepuk tangan kecil terdengar dari kru studio. Closing bumper musik kembali mengalun.

Di IKN, streaming berakhir. Layar tablet meredup. Raga tidak langsung menutup aplikasinya. Ia membayangkan ruang poli Zara yang selalu penuh. Bayi-bayi kecil yang ia tangani. Ibu-ibu muda yang datang dengan cemas.

Ia tersenyum. Perusahaannya membangun gedung kementerian. Istrinya membangun generasi. Dan Raga merasa dua dunia itu tidak terpisah.

Di satu sisi, ia memastikan struktur berdiri kokoh. Di sisi lain, perempuan yang ia cintai memastikan fondasi paling penting dalam hidup manusia, tentang gizi dan tumbuh kembang yang tidak diabaikan. Ia mengambil ponsel, mengirim pesan singkat.

"Keren banget, Dokter. Bangga."

Beberapa detik kemudian, centang dua biru muncul. Balasan masuk.

"Makasih, Sayang. Besok jangan lupa makan. Jangan cuma bangun ibu kota, bangun badan juga."

Raga terkekeh pelan. Di luar jendela hotel, lampu proyek IKN masih menyala. Dan di layar yang baru saja gelap, ia melihat satu hal yang pasti, bahwa ada banyak cara membangun masa depan. Sebagian dengan beton dan baja. Sebagian dengan pengetahuan dan kasih sayang.

Sementara di Jakarta, pemandangan tampak kontras. Backstage studio televisi selalu terasa berbeda dari yang terlihat di layar. Lampu-lampu besar yang tadi menyinari wajahnya kini redup. Kru lalu-lalang menggulung kabel. Monitor menampilkan replay segmen terakhir DocHealth Indonesia. Aroma hairspray dan foundation masih samar di udara.

Zara duduk di depan cermin panjang dengan lampu bulat di sekelilingnya. Dress putih gading pastelnya masih melekat rapi, tapi sepatu heels sudah ia lepas dan tergeletak di bawah kursi. Kakinya terasa pegal.

Ia menarik napas panjang. Deg-degan itu baru benar-benar terasa setelah acara selesai. Ponselnya bergetar.

Mi Amor Raga💕

Video call.

Zara mengangkatnya cepat. Di layar, wajah suaminya muncul dengan latar kamar hotel di IKN. Lampu kamar hangat, kemejanya sudah santai tanpa jas. Ia tersenyum begitu melihat istrinya.

"Udah selesai, Dok Seleb?" godanya.

Zara mendengus kecil, sambil mulai mengusap sisa makeup dengan kapas.

"Jangan mulai, Sayang. Aku tadi deg-degan banget."

"Serius?"

"Iya. Takut salah ngomong. Takut keceplosan istilah medis yang ribet. Takut kelihatan kaku di kamera."

Raga menggeleng pelan. "Kamu kelihatan tenang banget. Natural."

Zara memanyunkan bibir sedikit. "Itu mah kelihatan doang. Dalamnya jantungku lari sprint."

Raga tertawa kecil. "Aku justru lebih deg-degan lihat kamu jalan pakai heels tadi."

Zara berhenti mengusap pipinya. "Hah?"

"Iya," jawab Raga santai. "Takut kamu kesandung kabel. Amit-amit. Takut oleng. Takut jatuh."

Zara langsung nyengir. "Kamu tuh ya..."

Sejak tahu Zara hamil, Raga memang cukup protektif. Salah satu aturannya, flat shoes only. Tidak ada heels. Tidak ada kompromi. Tapi hari ini Zara bandel.

"Aku kan kecil, Sayang," kelitnya membela diri. "Kalau nggak pakai heels, aku kelelep di kamera. Partnerku itu dokter Reisa, basic-nya model. Tingginya ideal banget."

Raga menyipitkan mata pura-pura serius. "Kamu cantik apa adanya."

Zara tertawa. "Gombalnyaaa arsitek dari Palembang ini memang nggak ada lawan."

"Aku serius," jawab Raga cepat.

Di layar, ia benar-benar terlihat serius. Zara menatapnya beberapa detik. Lalu menggeleng pelan.

"Tetap aja tinggi aku nggak nambah kamu gombalin gitu."

"Ya nggak perlu nambah," balas Raga. "Kamu pas. Di kamera pas. Di hidup aku juga pas."

Zara terdiam sejenak. Backstage mulai lebih sepi. Kru terakhir keluar ruangan. Hanya suara samar AC dan langkah petugas kebersihan di luar. Ia menurunkan ponsel sedikit, memperlihatkan cermin di belakangnya.

"Lihat deh," katanya pelan. "Make up setebal ini bikin aku kelihatan beda."

"Beda gimana?"

"Lebih dewasa. Lebih formal."

Raga tersenyum lembut. "Aku suka dua-duanya. Yang di TV pintar dan elegan. Yang di rumah pakai kaus kebesaran, rambut acak-acakan, rebutan sambal dadak sama aku."

Zara tertawa kecil. "Berarti aku aman ya?"

"Sangat."

Sunyi beberapa detik. Raga menurunkan suaranya sedikit.

"Kamu capek nggak?"

"Lumayan. Tapi senang," jawab Zara jujur. "Aku cuma takut nggak cukup bagus."

Lihat selengkapnya