Alarm dari ruang bersalin berbunyi hampir bersamaan dengan suara langkah kaki yang tergesa di lorong.
"Dok, bayi lahir 24 minggu. Berat sekitar enam ratus gram. Perlu tim NICU sekarang."
Zara sudah berdiri bahkan sebelum kalimat itu selesai. Usia kehamilannya sendiri sebelas minggu. Perutnya masih rata, hanya sedikit mengeras di bagian bawah jika disentuh. Tapi pagi itu ia tidak memikirkan dirinya. Ia berlari kecil menuju ruang resusitasi neonatal, tangan sudah menarik sarung tangan steril.
"Berapa Apgar?" tanyanya cepat.
"Lima di menit pertama, Dok. Napas megap-megap."
Bayi itu sekecil telapak tangan orang dewasa. Kulitnya merah transparan, pembuluh darahnya tampak jelas di bawah permukaan. Tangisnya nyaris tak terdengar, lebih seperti desahan tipis. Paru-parunya belum matang.
"Siapkan intubasi," ujar Zara tegas. "Ukuran tube 2.5. Siapkan surfaktan."
Tim bergerak serempak. Di NICU, waktu bukan menit. Waktu adalah detik. Zara memposisikan kepala bayi dengan lembut. Tangannya cekatan, stabil. Laringoskop masuk perlahan. Ia melihat pita suara mungil itu, nyaris tak tampak.
"Masuk," katanya pelan.
Selang napas terpasang.
"Ventilator. Set sesuai berat."
Suara mesin mulai berdengung halus. Dada kecil itu mulai naik turun lebih teratur.
"Berikan surfaktan."
Cairan putih itu masuk perlahan melalui selang, membantu alveoli kecil yang belum matang agar bisa mengembang. Sementara itu, bayi dibungkus plastik steril transparan untuk mencegah kehilangan panas, lalu segera dipindahkan ke dalam inkubator suhu terkontrol.
"Suhu target 36,5," instruksi Zara tanpa menoleh.
Monitor dinyalakan. Denyut jantung, saturasi oksigen, tekanan darah, semuanya muncul dalam angka-angka kecil yang menjadi penentu hidup mati. Zara mengawasi layar dengan fokus.
"Kurangi handling. Jangan sering disentuh kecuali perlu," katanya pada perawat. "Imun sistemnya belum siap."
IV line dipasang untuk cairan dan nutrisi. Bayi ini belum mampu mengisap atau menelan. Semua harus melalui jalur intravena atau selang makan nasogastrik.
"Orangtua sudah diberi edukasi?" tanya Zara sambil tetap memantau saturasi.
"Sudah, Dok. Ayah bayi dan keluarga ada di luar."
"Nanti saya temui."
Kram itu datang pertama kali saat ia sedang mengatur parameter ventilator. Seperti diremas pelan di perut bagian bawah. Ia menahan napas sesaat. Biasa, pikirnya. Mungkin lelah. Long shift. Kurang minum. Ia mengabaikannya.
"Tekanan turun sedikit," lapor perawat bangsal rawat.
"Tambahkan cairan perlahan. Pantau respon."
Kram itu datang lagi. Kali ini lebih tajam. Zara menggeser berat tubuhnya sedikit, berusaha tetap berdiri tegak. Tidak ada yang boleh tahu. Karena saat ini, yang urgent adalah bayi yang sedang ia tangani.
Bayi ini baru 24 minggu dalam kandungan tetapi harus dilahirkan karena ibunya mengalami infeksi saluran kencing yang memicu pembukaan dini di mulut rahim. Proses persalinan aktif sebelum waktunya, tidak bisa dipertahankan karena bisa membahayakan keselamatan ibu. Lahir di usia ini, harapan hidup bayi jelas rendah sekali. Setiap detik jadi krusial. Setelah stabilisasi awal, Zara menemui orangtua dan keluarga bayi.
"Ibu melahirkan di usia 24 minggu," jelasnya tenang. "Paru-paru bayi belum matang, jadi kami bantu dengan ventilator dan surfaktan. Kami juga menjaga suhu tubuhnya di inkubator dan memberikan nutrisi lewat infus."
Ayah bayi itu menatap Zara dengan mata berkaca-kaca. "Dok, dia bisa hidup?"
Zara menatapnya lurus.
"Kami akan lakukan semua yang bisa dilakukan."
Kram kembali mencengkeram. Ia tersenyum tipis, menahan diri. Setelah hampir dua jam berpacu dengan waktu, kondisi bayi relatif stabil. Belum aman, tapi cukup untuk bernapas dengan bantuan mesin.
"Pantau ketat. Minimal handling. Catat tiap perubahan," pesan Zara pada perawat yang jaga sebelum melepas sarung tangannya.
Ia menuju ruang ganti untuk mengganti scrub. Langkahnya terasa lebih berat sekarang.
Di toilet kecil ruang staf, ia mengunci pintu. Baru ketika menurunkan pakaian scrubnya, ia melihatnya.
Flek cokelat.
Zara membeku.
"Ya Allah ... jangan," bisiknya.
Ia membersihkan diri cepat. Berdiri lagi. Darah merah segar mengalir perlahan. Kramnya tak berkurang. Justru makin kuat. Seperti diremas dari dalam.
Ia terduduk di closet tertutup. Dingin porselen merambat ke kulitnya. Tangannya gemetar saat mengambil ponsel.
"Raga," suaranya pecah ketika sambungan terhubung. "Ada darah. Merah segar. Perutku kram."
Di seberang sana, suara Raga berubah panik hanya dalam hitungan detik.
"Kamu masih di RS?"
"Iya ... di NICU."
"Aku ke sana sekarang."
Zara menutup mata. Ia tahu ini bukan sekadar spotting ringan. Ia tahu istilahnya. Threatened abortion. Possible miscarriage. Tapi kali ini, ia bukan dokter yang menjelaskan. Ia pasien.
Tangannya bergerak otomatis ke tombol emergensi kecil di dinding toilet. Tombol yang biasanya ditekan pasien jika merasa hampir pingsan atau butuh bantuan.
Ia menatap tombol itu beberapa detik. Lalu menekannya. Bel berbunyi ke nurse station. Langkah kaki tergesa mendekat.
"Dok?" Pintu diketuk. "Dokter Zara?"
"Sebentar," jawabnya lemah.
Untuk pertama kalinya dalam ruangan itu, ia bukan dokter spesialis anak yang memberi instruksi. Ia perempuan sebelas minggu hamil, duduk di toilet rumah sakitnya sendiri, dengan darah di celana dalam dan rasa kram yang tak lagi bisa diabaikan. Dan di luar pintu, dunia yang tadi ia selamatkan, kini harus menyelamatkannya.
***