Udara Bandung selalu terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih teduh. Lebih sejuk. Lebih jujur. Tiguan hitam yang Raga kemudikan perlahan memasuki jalan Hegarmanah, perumahan lama tempat rumah Papih dan Mamih berdiri sejak Zara kecil.
Rumah bercat putih dengan jendela kayu cokelat itu tampak sama seperti dulu. Halamannya ditumbuhi rumput yang dirawat rapi, pot-pot tanaman hijau berjajar di teras, lampu gantung kecil menyala hangat menyambut senja.
Rumah itu tidak besar. Tapi selalu terasa cukup. Zara memandanginya dari kursi penumpang, hatinya menghangat sekaligus mengencang. Dua bulan setelah malam yang mengosongkan rahimnya, ia akhirnya pulang.
Acara selamatan untuk keberangkatan umrah Papih dan Mamih berlangsung sederhana. Tetangga dekat, beberapa saudara, doa bersama, nasi tumpeng, dan senyum-senyum tulus yang tidak menanyakan hal-hal yang tidak perlu. Di rumah ini, orang tidak mengukur kebahagiaan dari jumlah cucu. Di rumah ini, orang mengukur dari keberkahan.
Malam semakin larut ketika tamu terakhir pamit. Lampu teras menyisakan cahaya kekuningan yang lembut. Di meja kecil, Mamih menyajikan teh hangat dalam gelas bening dan sepiring besar cireng bumbu rujak yang masih mengepul.
"Ari cirengna masih haneut, Neng," kata Mamih lembut. "Didahar heula."
Zara tersenyum kecil. Ia duduk bersila di tikar teras, bersandar ke tiang kayu. Raga duduk di sampingnya, lututnya nyaris menyentuh lutut Papih yang duduk berhadapan.
Pak Wirakusuma -Papih- masih mengenakan koko putih dan sarung kotak-kotak. Wajahnya teduh, seperti biasa. Dosen teknik geologi yang terbiasa berbicara tentang lapisan bumi, tapi malam itu ia berbicara tentang lapisan hati.
Angin malam Bandung berembus pelan. Zara memegang gelas tehnya dengan dua tangan.
"Aku mau cerita, Pih... Mih..."
Mamih langsung menoleh, tangannya berhenti merapikan piring.
"Kenapa, Neng?"
Zara menelan ludah. Raga meraih jemari kecil istrinya.
"Dua bulan lalu... aku hamil."
Hening. Mamih terdiam, napasnya tertahan.
"Tapi... keguguran. Dikuret."
Kata itu keluar pelan, tapi cukup untuk memecah malam. Mamih refleks menutup mulutnya dengan tangan. Mata yang biasanya cerah itu langsung berkaca-kaca.
"Hamil berapa minggu, Neng?" suaranya bergetar.
"Sebelas minggu."
Papih tidak langsung bicara. Ia hanya menatap putrinya lama, dalam. Tidak ada tatapan menyalahkan. Tidak ada pertanyaan kenapa tidak bilang dari awal. Hanya ada kasih yang tenang. Mamih berpindah duduk lebih dekat ke Zara, memeluk bahunya.
"Kenapa nggak cerita ke Mamih?" bisiknya.
Zara tersenyum pahit. "Aku belum kuat, Mih."
Raga menunduk, suaranya pelan. "Kami juga masih mencoba berdamai."
Papih menarik napas panjang, lalu meletakkan gelas tehnya.
"Neng," katanya lembut, "pernah minta anak nggak ke Allah?"
Zara mengangguk cepat. "Minta atuh, Pih. Tiap selesai sholat. Sujud terakhir."
Papih tersenyum tipis.
"Mintanya karena Neng mau punya anak," ia berhenti sejenak, memilih kata, "atau karena Neng percaya Allah mampu ngasih apapun yang diminta hamba-Nya?"
Raga mengernyit sedikit. "Emang ada bedanya, Pih?"
Papih menoleh padanya, tersenyum.
"Ada."
Beliau merapatkan sarungnya, lalu melanjutkan dengan suara tenang, seperti sedang mengajar di kelas tapi tanpa jarak.
"Kalau orang meminta karena tahu Allah mampu memberikan, doanya beda. Doanya seperti Nabi Zakaria."
Zara mengangkat wajahnya.
"Nabi Zakaria itu," lanjut Papih, "sebelum minta anak, beliau mengakui dulu kelemahannya. Beliau bilang dirinya sudah tua, tulangnya lemah, rambutnya memutih. Istrinya pun mandul."
Papih menatap langit malam sebentar.
"Tapi beliau bilang satu hal yang luar biasa, beliau belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Allah."
Zara menggigit bibirnya.
Papih melanjutkan, "Padahal beliau menunggu puluhan tahun."
Hening lagi.
"Papih nggak minta kalian seperti Nabi Zakaria," katanya lembut. "Siapa kita? Kita ini hamba akhir zaman. Mudah kecewa kalau takdir nggak sesuai keinginan."
Mamih mengusap punggung Zara pelan.
"Tapi maksud Papih," lanjutnya, "barangkali di sela ikhtiar-IVF, obat, dokter-kalian juga perlu menambah keyakinan bahwa Allah mampu memberi."
Raga mendengarkan dengan saksama.
"Sampaikan juga ke Allah," Papih berkata pelan, "kenapa kalian perlu keturunan."
Papih menoleh ke Zara sebelum melanjutkan nasihatnya.
"Nabi Zakaria dalam doanya bilang, beliau khawatir terhadap keluarganya sepeninggal beliau. Itu alasan beliau meminta. Minta ke Allah dengan sejujur-jujurnya kebutuhan kita."
Zara menghapus air matanya dengan ujung jari.
"Jadi... harus minta sambil jelasin alasannya?" tanyanya pelan.
Papih tersenyum.
"Allah Maha Tahu. Tapi doa itu bukan cuma soal meminta. Itu cara kita mengakui kita lemah."