Jakarta terasa lebih sunyi setiap kali mereka harus pulang ke Palembang. Seminggu setelah dari Bandung, kamar mereka dipenuhi bunyi resleting koper dan lipatan pakaian berwarna putih yang kontras dengan lantai kayu gelap.
Di atas ranjang terbentang baju koko putih milik Raga. Bersih, sederhana, dengan potongan rapi yang biasa ia pakai untuk acara keluarga. Di sebelahnya, kaftan putih gading milik Zara terhampar lembut, bahan ringan dengan detail bordir halus di bagian lengan.
"Biar serasi ya," kata Zara pelan sambil merapikan kaftannya. "Putih semua. Netral. Aman."
Raga mendengus kecil. "Aman secara warna, belum tentu aman secara suasana."
Zara tersenyum tipis. Ia tahu maksudnya. Alina, ibunya Raga, sudah menelepon berkali-kali. Nada suaranya tak memberi ruang untuk penolakan. Raga datang bukan karena ingin, tapi karena kewajiban.
"Kita semalam saja," ulang Raga lagi, menekankan. "Landing siang. Datang ke acara. Malamnya ke hotel. Besok pagi pulang."
"Baik, Pak Direktur," sahut Zara pelan, mencoba mencairkan suasana.
Koper hitam yang terakhir kali menemani Raga ke IKN ditarik dari sudut lemari. Ia membukanya di lantai kamar.
"Sekalian pakai ini saja. Satu koper berdua cukup."
Raga keluar sebentar. "Aku masakin mie dulu ya. Kamu belum makan."
Beberapa menit kemudian kamar hening. Raga mulai memasukkan pakaian mereka ke dalam koper. Koko putih dilipat rapi. Kaftan putih gading diselipkan hati-hati agar tidak kusut.
Tangannya menyentuh sesuatu di sudut dalam koper. Sesuatu yang kecil. Ia menariknya perlahan. Sepasang sepatu bayi berwarna biru lembut dengan gambar keluarga bebek kuning di bagian depan. Tiga bebek berjajar. Bebek yang paling besar di depan, yang sedang di tengah, dan yang kecil di belakang. Detail jahitannya rapi, bagian dalamnya empuk, masih baru. Tidak pernah tersentuh kaki siapa pun. Napas Zara tercekat.
Pintu kamar terbuka. Raga masuk membawa nampan berisi semangkuk mie instan kuah yang masih mengepul. Aroma bawang goreng langsung menyebar di kamar.
Mata mereka bertemu. Raga melihat sepatu kecil itu di tangan istrinya. Ia tidak langsung bicara. Ia hanya berjalan mendekat, meletakkan nampan di lantai, lalu duduk bersila di depan koper yang terbuka. Zara memegang sepatu itu seperti memegang sesuatu yang sangat rapuh.
"Sepatu punya siapa, Sayang?" suaranya pelan.
Raga menelan ludah. Rahangnya mengeras sebentar sebelum menjawab.
"Aku beli di bandara Balikpapan sebelum boarding," katanya pelan. "Lucu. Kayak keluarga bebek."
Ia menunjuk gambar kecil itu.
"Papanya paling depan yang gede. Mamanya di tengah, nggak terlalu besar. Anaknya paling kecil di belakang."
Zara tertawa kecil dengan mata basah. "Kamu bayangin kita keluarga bebek ya?"
Raga ikut tertawa, tapi matanya memerah berkaca-kaca.
"Iya. Aku pikir nanti kita foto bertiga. Pakai putih semua kayak gini."
Ia melirik koko putih yang sudah terlipat rapi dan kaftan putih gading di dalam koper. Kamar terasa sempit oleh kenangan yang belum sempat terjadi.
Zara menunduk. "Maaf ya," bisiknya. "Sepatu ini gagal dipakai anak kita karena aku gagal jaga dia."
Raga langsung menggeleng keras. "Tolong jangan bilang begitu lagi."
Ia memindahkan sepatu itu dari tangan Zara, lalu menggenggam kedua tangan istrinya.
"Aku yang merasa bersalah sama kamu."
Zara mengangkat wajahnya. "Kenapa kamu yang salah?"
Raga terdiam. Ia tidak menyebut angka, tidak menyebut hasil laboratorium, tidak menyebut proses panjang IVF. Ia hanya berkata pelan, "Karena kamu sudah berjuang sejauh itu. Dan aku nggak bisa lindungi kamu dari rasa sakit itu."
Zara menggeleng lemah. "Kita berdua yang berjuang."
Sunyi sebentar.
"Sepatunya singkirin aja," kata Raga akhirnya, mencoba terdengar ringan. "Jadi tambahan kado buat cucunya Wakso Iwan."
Zara spontan menatapnya. "Jangan dong."
"Kenapa?"
"Siapa tahu ada Raga kecil yang pakai ini," katanya dengan senyum tipis di antara air mata. "Kan kata Papih, doa itu cuma soal menunggu waktu dijawabnya."
Kalimat itu membuat Raga terdiam lebih lama. Ia menatap sepatu kecil itu. Tiga bebek kuning berjajar rapi di atas warna biru yang lembut.
"Kalau ada Raga kecil," katanya pelan, "aku harap dia matanya kayak kamu."
Zara tersenyum lemah. "Dan keras kepala kayak kamu."
Raga terkekeh pelan, lalu mendekat dan mengecup kepala Zara lama. Bibirnya menempel di rambut istrinya, seolah ingin memindahkan semua ketenangan yang ia miliki.
"Kita simpan ya," katanya. "Belum waktunya diberikan ke siapa pun."
Zara mengangguk. Sepatu itu dimasukkan kembali ke dalam koper, kali ini tidak di sudut tersembunyi. Ia meletakkannya di antara lipatan kaftan putihnya, seperti menyelipkan harapan di antara pakaian yang akan mereka pakai di tengah keluarga besar.
Raga menyodorkan mangkuk mie. "Makan dulu. Nanti masuk angin."
Zara tersenyum. "Kok kamu hafal banget kalimat itu?"
"Karena kamu selalu pakai alasan itu."
Mereka makan dari mangkuk yang sama, bergantian menyuapi. Koko putih dan kaftan putih sudah rapi di dalam koper. Sepatu kecil bergambar keluarga bebek tersimpan di antara mereka.
Di lantai kamar, di antara pakaian putih dan rencana perjalanan yang tidak mereka nantikan, mereka duduk berdampingan.
Sedihnya masih ada. Rindunya masih terasa. Tapi malam itu, di antara mie instan sederhana dan koper yang hampir tertutup, yang tetap utuh adalah hati mereka.
***
Pukul sembilan lewat sedikit, halaman rumah Wakso Iwan sudah seperti pesta rakyat kecil. Tenda putih membentang sampai menutup sebagian jalan kompleks. Kursi plastik berjejer. Di sudut halaman, batang pisang dipancang, kembang tangis -dodol dan permen- digantung dengan benang warna-warni. Anak-anak sudah mengerubungi, menunggu aba-aba untuk berebut.
Di dapur belakang, aroma malbi, nasi minyak, dan pindang tulang bercampur jadi satu. Para ibu sibuk menyendok kuah ke dalam mangkuk besar.
Raga berdiri di barisan keluarga inti, mengenakan baju koko putih yang bersih dan rapi. Zara di sampingnya dengan kaftan putih gading, sederhana tapi anggun. Wajahnya tenang, meski pagi itu jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasa. MC membuka acara.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Ayat suci Al-Qur'an dibacakan. Surat Luqman ayat 13-18 menggema dari pengeras suara. Raga menunduk khusyuk. Zara ikut menyimak, jemarinya saling mengait di depan perutnya. Perut yang pernah berisi, lalu kosong kembali.
Wakso Iwan maju memberi sambutan sebagai shohibul hajat. Suaranya besar, penuh percaya diri.
"Kami bersyukur cucu kami lahir sehat. Semoga jadi anak soleh, penerus keluarga..." Ia melirik sekilas ke arah Raga. Senyumnya tipis.
Acara berlanjut dengan pembacaan Barzanji dan Marhaban. Shalawat dilantunkan beramai-ramai. Bayi kecil itu dibawa ke depan, dibalut kain putih. Tokoh agama menggunting sedikit rambutnya, lalu beberapa anggota keluarga ikut menyentuh gunting secara simbolis.
"Namonyo... Rayden Izzuddin Mulyawan," umum MC.
Tepuk tangan kecil terdengar. Doa dipanjatkan. Setelah itu, anak-anak berebut kembang tangis dengan riang. Semua berjalan seperti adat Palembang pada umumnya, di mana syariat dan adat saling menguatkan.
Raga beberapa kali menoleh ke Zara.
"Kamu capek?" bisiknya.
Zara menggeleng tipis. "Nggak."
Padahal dadanya terasa sesak setiap kali melihat bayi itu diangkat tinggi-tinggi, dielu-elukan sebagai penerus keluarga Mulyawan.
Setelah makan bersama, keluarga inti berkumpul di ruang tengah rumah Wakso Iwan. Sofa-sofa besar mengelilingi meja kayu ukir. Foto-foto keluarga terpajang di dinding.