Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #14

Durian di Sehampar Tikar

Langit Ketapang, Kalimantan Barat, berwarna pucat keemasan ketika mobil hitam yang mereka tumpangi memasuki kawasan lingkar tambang. Debu tipis beterbangan setiap kali kendaraan berat melintas. Di kejauhan, cerobong smelter bauksit yang baru rampung berdiri tegak, dingin, kokoh, nyaris seperti monumental.

Raga menatap bangunan itu beberapa detik lebih lama oleh perasaan takjub dan lega. Itu bukan sekadar proyek miliaran rupiah. Itu adalah dua tahun hidupnya. Rapat tanpa jeda. Site visit di tengah hujan. Tekanan investor. Negosiasi kontrak. Malam-malam tanpa tidur.

Namun pagi itu, ia tidak mengenakan helm proyek. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan digulung sampai siku. Di sebelahnya, Zara duduk dengan tas medis di pangkuan. Rambutnya diikat rendah, wajahnya nyaris tanpa riasan, hanya tabir surya dan lip balm tipis.

"Kamu capek?" tanya Raga pelan, sebelum mobil berhenti.

Zara menggeleng. "Enggak. Ini yang bikin aku hidup."

Seulas senyum terbit di wajah Zara saat ia mengucapkan kalimat itu. Senyum yang selalu membuat dada Raga terasa lebih ringan, apa pun yang sedang ia pikul.

Hari itu bukan tentang peresmian. Bukan tentang foto dengan pejabat. Bukan tentang angka produksi. Hari itu tentang manusia.

Lapangan desa di sekitar lingkar tambang sudah dipenuhi warga sejak pagi. Tenda-tenda putih berdiri berjejer. Meja pendaftaran, meja pemeriksaan ibu hamil, area khusus bayi dan balita, serta satu sudut kecil untuk pembagian kacamata anak sekolah.

Spanduk bertuliskan:

BAKTI SOSIAL KESEHATAN

CSR BUANA KARYA NUSA

Raga turun lebih dulu, lalu berputar membuka pintu untuk Zara. Ia mengulurkan tangan. Kebiasaan kecil yang tidak pernah ia hilangkan.

Beberapa warga sudah mengenal wajahnya dari papan proyek dan berita lokal. Tapi yang membuat suasana berubah hangat adalah ketika Zara mulai bekerja. Ia duduk di depan seorang ibu muda dengan bayi yang tampak sangat kecil untuk usianya.

"Usia berapa, Bu?" tanya Zara lembut.

"Enam bulan, Dok."

Zara memeriksa refleksnya. Berat badan. Lingkar kepala. Ia menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang pentingnya ASI, MPASI yang terjangkau, dan vitamin A.

"Ikan sungai lokal juga bagus, Bu. Tidak mesti yang sulit didapat. Jelawat, patin, betok. Yang penting cukup protein dan segar."

Ibu itu mengangguk-angguk, wajahnya terlihat lebih tenang.

Raga berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikan istrinya bekerja. Cara Zara memegang bayi, cara ia menatap mata orang tua pasien, cara ia menjelaskan tanpa menggurui. Ia CEO sebuah perusahaan konstruksi nasional. Tapi di hadapan perempuan itu, ia hanya suami yang sedang jatuh cinta lagi dan lagi.

Seorang anak laki-laki kecil berambut cepak dituntun ayahnya mendekat. Karyawan lokal perusahaan tambang. Seragamnya masih berdebu.

"Pak Raga ..." sapanya canggung.

Raga menjabat tangannya erat. "Gimana kerjaannya?"

"Alhamdulillah, Pak. Ini anak saya. Mau diperiksa."

Anak itu memandang Raga dengan mata besar yang waspada. Lalu menoleh pada Zara yang berlutut sejajar dengannya.

"Halo," sapa Zara. "Namanya siapa?"

Anak itu menyebutkan namanya pelan. Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk nyaman di pangkuan Raga, tertawa kecil ketika Zara pura-pura serius mendengarkan detak jantungnya.

Seorang staf dokumentasi mengambil foto. Dalam bingkai itu terlihat smelter megah di kejauhan. CEO perusahaan yang biasanya berdiri di podium kini menggendong anak kecil dengan hati-hati. Dan seorang dokter spesialis anak tersenyum sambil merapikan kerah kaus si bocah.

Raga menatap Zara sebentar. Ada sesuatu yang lewat di antara mereka. Diam, dalam, tidak perlu kata-kata. Enam bulan lalu, mereka kehilangan. Hari itu, di tengah anak-anak yang berlarian dan ibu-ibu yang mengantre, mereka tidak membicarakan luka itu. Tapi ia ada. Mengendap, sunyi.

Zara mencium puncak kepala bocah kecil di pangkuan suaminya sebelum menyerahkannya kembali pada sang ayah. Raga tahu, setiap kali istrinya memegang bayi, ada satu ruang kosong di dalam dirinya yang ikut bergetar. Tapi ia juga tahu, Zara tidak pernah membiarkan ruang kosong itu mengeringkan kebaikannya.

Di sudut lain, anak-anak sekolah dasar mencoba kacamata baru mereka.

"Bisa lihat papan tulis jelas?" tanya salah satu relawan.

"Bisa!" jawab seorang anak perempuan sambil tertawa.

Raga menghampiri meja pembagian vitamin A.

"Kita rutin ya untuk wilayah ini," katanya pada tim CSR. "Jangan cuma sekali."

Ia tidak ingin ini menjadi kegiatan simbolik. Baginya, pembangunan bukan hanya berdirinya cerobong dan pabrik. Pembangunan adalah ketika anak-anak di sekitar proyek bisa melihat lebih jelas, tumbuh lebih sehat, bermimpi lebih jauh.

Menjelang sore, matahari turun perlahan. Lapangan mulai lengang. Zara duduk di kursi plastik, membuka sepatu flat-nya sebentar. Kakinya pegal. Jas medisnya kusut. Rambutnya sedikit berantakan.

Raga datang membawa dua botol air mineral.

"Dokter capek?" godanya.

Zara tersenyum tipis. "Lumayan. Tapi puas."

Raga duduk di sampingnya, bahu mereka bersentuhan.

"Terima kasih ya, Sayang," katanya tiba-tiba.

Lihat selengkapnya