Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #15

Pulang ke Rumah Ternyaman

Roda pesawat berdebam menyentuh landasan. Tubuh pesawat bergetar sesaat, lalu meluncur cepat di atas aspal panjang yang terlihat samar dari jendela kecil di samping kursi Zara. Mesin meraung lebih keras, seperti menahan beban sebelum akhirnya melambat.

Zara spontan menggenggam tangan Raga lebih erat. Refleks. Seperti setiap kali pesawat mendarat, padahal ia dokter yang terbiasa menghadapi situasi jauh lebih genting dari sekadar turbulensi ringan.

Raga menoleh. Sudut bibirnya naik tipis.

"Takut?" bisiknya.

Zara menggeleng pelan, tapi jemarinya tetap mengunci tangan suaminya.

"Deg-degan aja."

Suara di kabin berubah. Deru mesin mulai melembut. Beberapa penumpang sudah bersiap melepas sabuk, walau lampu masih menyala. Lalu suara pramugari terdengar melalui pengeras suara, tenang dan terlatih.

"Bapak dan Ibu penumpang yang terhormat, selamat datang di Bandar Udara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Saat ini kita telah mendarat dengan selamat. Silakan tetap duduk hingga lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan dan pesawat berhenti sempurna. Selamat beribadah di Tanah Suci."

Tanah Suci.

Kata-kata itu seperti mengetuk sesuatu di dada Zara. Ia menoleh ke luar jendela. Lampu-lampu landasan berkilau di tengah malam Jeddah. Udara terlihat kering bahkan dari balik kaca. Tidak ada gedung pencakar langit. Tidak ada billboard. Hanya hamparan yang terasa asing, tapi sakral.

"Kita beneran di sini ya," gumamnya.

Raga tidak langsung menjawab. Ia masih menggenggam tangan istrinya.

"Happy anniversary," katanya pelan.

Zara menoleh cepat. "Hah?"

"Delapan tahun," lanjut Raga. "Aku pikir, kita butuh hadiah yang bukan barang."

Zara terdiam. Ia tahu ini bukan perjalanan spontan. Raga merencanakannya diam-diam. Mengatur jadwal, menyesuaikan cuti Zara, memindahkan beberapa rapat penting. Bahkan mengalihkan site visit ke tim lain demi bisa ikut berangkat.

Ia hanya bilang, "Kita umrah ya. Sekalian anniversary."

Sesederhana itu. Padahal Zara tahu, bagi Raga, melepas pekerjaan bukan perkara kecil.

Pesawat akhirnya berhenti sempurna. Lampu sabuk pengaman dipadamkan. Bunyi klik terdengar dari berbagai arah. Orang-orang mulai berdiri, membuka kabin atas, saling menyebut "Alhamdulillah sudah sampai."

Zara masih duduk. Ia menatap tangan mereka yang masih bertaut. Delapan tahun. Delapan tahun yang tidak selalu penuh pelangi. Tidak selalu mulus. Ada masa-masa sunyi di antara mereka. Ada luka yang mereka sembunyikan rapat-rapat dari dunia. Ada doa yang sempat terasa menggantung terlalu lama.

"Kenapa kamu pilih umrah?" tanya Zara pelan.

Raga menghela napas pendek.

"Karena aku ngerasa kita capek berjuang sendiri," katanya jujur. "Capek ngatur semuanya. Capek merasa harus punya kontrol."

Ia menatap lurus ke depan, lalu kembali pada Zara.

"Dan mungkin... kita perlu datang ke tempat yang bikin kita sadar kita nggak pernah benar-benar pegang kendali."

Zara tersenyum tipis. Air matanya sudah berkumpul, tapi belum jatuh. Pesawat mulai kosong. Mereka berdiri terakhir, tidak terburu-buru. Saat berjalan menyusuri lorong kabin, Zara merasa langkahnya berbeda. Lebih pelan. Lebih sadar.

Udara Jeddah menyambut mereka dengan hangat yang kering ketika pintu pesawat dibuka. Bau khas bandara, campuran pendingin udara dan debu halus menyentuh hidung.

Di shuttle bus menuju terminal, Zara berdiri di samping Raga. Ihram belum ia kenakan. Mereka masih dalam pakaian perjalanan. Tapi perasaan itu sudah ada. Perasaan pulang, meski baru tiba.

"Sayang," kata Zara pelan.

"Hm?"

"Makasih."

Raga tersenyum kecil. "Belum apa-apa."

Zara menggeleng.

"Bukan cuma karena umrahnya," katanya. "Tapi karena kamu ngajak aku ke sini bukan untuk minta sesuatu."

Raga terdiam. Ia memang tidak membawa daftar doa panjang kali ini. Tidak ada target. Tidak ada permintaan spesifik yang ia ulang-ulang dalam hati. Hanya satu harapan sederhana, semoga hati mereka lebih lapang.

Di antara langkah menuju imigrasi, Zara kembali menggenggam tangan Raga. Bukan lagi karena takut pesawat mendarat. Tapi karena mereka sedang memasuki fase baru.

Lihat selengkapnya