Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #16

Her First Hijab

Ruang kerja CEO di lantai paling atas gedung Buana Karya Nusa selalu terasa terlalu tenang untuk ukuran Jakarta Selatan. Dari balik dinding kaca penuh, deretan gedung-gedung bisnis berdiri rapi seperti grafik pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Lalu lintas di bawah bergerak pelan, klakson samar terdengar seperti latar belakang yang jauh. AC menyala konsisten. Tidak ada suara teriakan mandor. Tidak ada dentuman tiang pancang. Tidak ada bau semen basah.

Raga berdiri di depan jendela, jasnya belum ia pakai. Hanya kemeja putih dengan lengan digulung sedikit. Kulitnya masih sedikit lebih gelap dari biasanya setelah umrah. Rambutnya sedikit lebih tipis di bagian depan, bekas tahalul yang belum sepenuhnya kembali seperti semula.

Di meja kerjanya, sebuah foto yang memuat ia dan Zara telah diberi frame kayu tergeletak di samping laptop. Baru dicetak. Baru menemani Raga di ruang kerjanya. Masih sering dipandangi setiap rindu momen umrah itu.

Ketukan pintu terdengar dua kali. Ritmenya khas.

"Masuk."

Candra melangkah masuk tanpa ragu. Tablet di tangan, map tipis di bawah ketiak. Ia bukan sekadar asisten pribadi. Ia orang yang tahu jadwal Raga sampai ke detail paling kecil, termasuk kapan Raga sengaja mengosongkan satu jam hanya untuk makan siang dengan Zara.

"Pagi, Pak."

"Pagi, Can."

Candra berdiri di depan meja. Wajahnya profesional, tapi tidak tegang. Ia sudah bekerja dengan Raga hampir sembilan tahun. Ia tahu kapan harus formal. Kapan boleh santai.

"Laporan dari Sumsel sudah masuk," katanya sambil menyerahkan tablet.

Raga duduk. Menerima tablet itu, menelusuri layar dengan ibu jari.

"Pembebasan lahan di area akses pelabuhan Sungai Lilin tertahan di tiga titik. Ada warga yang tiba-tiba keberatan harga ganti rugi."

"Tiba-tiba?" Raga mengulang pelan.

Candra mengangguk. "Dan ada satu LSM lokal yang menggugat soal jalan kabupaten yang rusak. Mereka mengklaim arus logistik truk-truk BKN yang bikin aspal cepat hancur."

Raga menyandarkan tubuh ke kursi. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Ia tidak perlu waktu lama untuk menyusun potongan puzzle. Sungai Lilin. Akses tambang. Distribusi solar industri. Pelabuhan baru.

"Perlu tim legal turun ke Sumsel, Pak?" tanya Candra hati-hati.

Ia tahu pertanyaan itu sensitif. Karena proyek pelabuhan itu bukan proyek biasa. Margin tipis. Lokasi sulit. Risiko tinggi. Tapi Raga yang paling keras mendorongnya tetap jalan.

Raga menggeleng pelan. "Belum perlu, Can."

Candra menunggu. Tidak pernah menyela ketika bosnya sedang berpikir.

"Biarkan saja," lanjut Raga tenang. "Nanti stres sendiri juga Wakso Iwan."

Nama itu keluar tanpa nada emosi. Datar. Terkontrol. Candra mengangkat pandangan. Ia tidak pernah ikut campur urusan keluarga, tapi ia tahu cukup banyak untuk memahami konteks. Distribusi solar industri Wakso Iwan sangat bergantung pada jalur itu.

"Kalau akses pelabuhan tertahan," lanjut Raga, "arus logistik batu bara dan bahan bakar ikut terganggu. Perusahaan tambang nggak suka kalau target meleset."

Candra mengangguk pelan.

"Kalau kontraknya nggak sesuai SLA, bisa diputus," tambah asisten pribadi Raga itu.

"Exactly."

Raga meletakkan tablet di meja.

"Kita bangun pelabuhan itu buat melancarkan alur logistik dan distribusi. Tambang di Sungai Lilin itu aksesnya berat. Jalan sempit, sungai dangkal, dermaga seadanya. Pelabuhan penting. Kalau bukan kita, siapa yang mau ambil proyek margin segitu?"

Ia tersenyum tipis, kali ini ada sedikit ironi.

"Beliau pikir siapa yang mau ambil proyek untung tipis begitu kalau bukan karena rasa ingin bakti ke daerah sendiri."

Candra memperhatikan wajah atasannya. Dulu, Raga akan marah. Akan langsung kirim surat somasi. Akan panggil tim legal dan komunikasi korporat sekaligus. Akan bergerak cepat, agresif. Sekarang, ia terlihat lebih... lapang.

"Bapak yakin nggak perlu respons cepat?" tanya Candra, memastikan.

"Kita tetap respons. Tapi sesuai prosedur," jawab Raga. "Audit kondisi jalan. Kalau memang rusak karena beban truk, kita ikut perbaiki. Transparan. Undang media lokal kalau perlu."

"Kalau terkait pembebasan lahan, Pak?"

"Kita ulang appraisal. Pastikan nggak ada permainan harga. Tapi jangan terpancing."

Candra mencatat cepat. Raga menatap keluar jendela lagi. Setelah umrah, ada sesuatu yang berubah. Bukan ia jadi lembek. Bukan jadi pasrah tanpa strategi. Ia hanya tidak lagi merasa harus memenangkan setiap konflik dengan keras.

"Kadang," katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri, "orang bikin gaduh bukan karena kuat. Tapi karena takut kehilangan kendali."

Candra menutup tabletnya.

"Bapak kelihatan lebih tenang sekarang," katanya tanpa sadar.

Raga tertawa kecil. "Doa istri."

Ruang kerja itu kembali sunyi beberapa detik. Di luar, Jakarta tetap sibuk. Proyek tetap berjalan. Tender tetap harus dikejar. Angka-angka tetap harus dijaga. Tapi di dalam ruangan itu, seorang CEO yang baru pulang dari Shafa dan Marwah memilih strategi yang tidak hanya soal menang. Melainkan soal sabar.

"Can," panggil Raga sebelum Candra keluar.

"Ya, Pak?"

"Jadwalkan saya ke Palembang bulan depan. Tapi bukan untuk rapat."

"Untuk apa, Pak?"

"Kunjungan lapangan. Ketemu warga. Duduk bareng kepala desa. Kadang lebih efektif ngopi daripada kirim surat."

"Siap, Pak. Saya siapkan fasilitas dan akomodasinya."

Candra hampir membuka pintu, lalu ragu sebentar. "Pak... boleh nanya nggak?"

Raga mengangkat alis. "Nanya apa lagi?"

"Kemarin beneran umrah kan, Pak?"

Raga menatapnya. "Umrah lah. Kenapa nanya gitu?"

"Ke Mekah kan ya?"

"Ya iyalah. Kenapa sih, Can?"

Candra menahan senyum. "Bukan ke Tanah Abang?"

Raga spontan menegakkan badan seraya bersuara nyaris memekik, "Astaghfirullah! Enak aja!"

Candra akhirnya terkekeh. "Soalnya Bapak pulang nggak botak. Biasanya orang habis tahalul saingan sama Upin Ipin."

Raga menatap asistennya tidak percaya. "Heh! Tahalul itu boleh potong sedikit aja."

"Biasanya kan biar afdol, Pak."

"Kalau saya botak, ke site bisa-bisa matang kepala. Sumsel panasnya kayak disetrika dari atas."

Candra tertawa lebih lepas sekarang. "Oh jadi alasan teknis, ya, Pak? Bukan karena belum siap lihat pantulan diri sendiri?"

Raga meraih pulpen dan melemparkannya pelan ke arah Candra. "Keluar sebelum saya mutasi kamu ke proyek paling ujung Indonesia."

Candra pura-pura hormat. "Siap, Pak. Tapi jujur, Bapak sekarang beda."

"Beda gimana?"

"Lebih kalem. Biasanya ada yang ganggu proyek, Bapak sudah perang. Sekarang malah senyum."

Raga menyandarkan tubuh ke kursi.

"Capek marah terus, Can," katanya ringan. "Ternyata hidup nggak harus dimenangin semua."

Candra mengangguk pelan. "Baik, Pak. Saya jalan dulu."

"Jangan lupa kirim laporan lengkapnya."

"Siap. Dan... jangan lupa makan siang, Pak Raga."

"Suruh istri saya yang ingetin."

Candra tertawa kecil. "Itu alarm paling efektif, Pak."

Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.

Raga meraih foto dia dan Zara. Ia masih mengenakan kain ihram, berlatar Masjidil Haram.

Proyek pelabuhan itu akan selesai. Cepat atau lambat. Dan kali ini, ia tidak merasa perlu membuktikan apa pun pada siapa pun. Termasuk pada masa lalu. Termasuk pada Wakso Iwan. Ia hanya perlu memastikan satu hal, bahwa apa yang ia bangun, benar-benar membawa manfaat. Sisanya, biar waktu yang bekerja.

***

WhatsApp Conversation

My Half Zara💕

📸: (photo sent)

Cocok nggak sih? 😭

Aku nggak pede

Lihat selengkapnya