Pagi Jakarta masih setengah mengantuk ketika kawasan Bundaran Hotel Indonesia sudah dipenuhi sepatu lari dan napas yang terengah. Car Free Day selalu punya suasana yang aneh, setengah santai, setengah ambisius. Orang-orang datang dengan tujuan berbeda. Ada yang sekadar jalan pagi, ada yang mengejar personal best, ada yang sambil networking.
Raga berdiri di antara rombongan kecil pejabat Kementerian PUPR dan beberapa direksi BUMN. Bukan dalam jas rapi atau sepatu kulit mengilap seperti biasanya. Ia mengenakan atasan lari berwarna gelap dengan potongan simpel yang membingkai bahunya, celana training yang jatuh pas, dan sepatu running putih bersih yang jelas bukan baru pertama dipakai. Tangannya menggenggam ponsel dan strap kecil kunci mobil. Rambutnya sedikit berantakan oleh angin pagi.
Tidak ada ajudan yang berdiri terlalu dekat. Tidak ada jarak formal yang kaku.
"Pak Raga, pace-nya santai saja ya. Jangan kayak kejar deadline proyek," seloroh salah satu staf ahli kementerian sambil tertawa.
Raga tersenyum tipis. "Tenang, Pak. Ini bukan tender."
Mereka mulai bergerak. Langkah pertama selalu terasa ringan. Jalanan Sudirman yang biasanya dipenuhi klakson dan asap knalpot pagi itu bersih. Gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya matahari yang baru naik. Bendera-bendera kecil di trotoar berkibar pelan.
Di sebelah Raga, seorang direktur jenderal PUPR menjaga ritme.
"Pelabuhan Sungai Lilin itu progresnya berapa persen sekarang?" tanyanya di sela napas.
"Struktur utama sudah 42 persen, Pak," jawab Raga, napasnya stabil. "Breakwater hampir selesai. Kendala tinggal di akses darat."
Dirjen itu mengangguk. "Saya dengar ada sedikit noise di lapangan."
Raga tersenyum kecil. "Noise itu biasa, Pak. Kalau proyek strategis sepi-sepi saja malah aneh."
Mereka melewati Bundaran HI. Air mancur belum menyala penuh. Beberapa orang melambai ketika mengenali rombongan itu.
Hubungan antara pengusaha besar dan kementerian seringkali disalahartikan publik. Seolah selalu ada ruang gelap. Padahal di lapangan, lebih banyak diskusi teknis, negosiasi angka, dan tarik-ulur timeline daripada intrik dramatis.
"Kami apresiasi BKN mau ambil proyek yang IRR-nya tipis," ujar Dirjen itu pelan. "Banyak yang hitung-hitungan terlalu ketat."
Raga mempercepat langkah sedikit ketika jalur mulai lengang, lalu kembali sejajar.
"Kadang bukan cuma soal IRR, Pak," katanya ringan. "Kalau akses logistik lancar, multiplier effect-nya jauh lebih besar. Industri tumbuh, PAD naik, UMKM ikut jalan."
Dirjen itu tersenyum. "Bahasanya sudah kayak paparan di rapat kabinet."
Raga tertawa kecil. "Refleks, Pak."
Mereka melewati Hotel Indonesia. Seorang pejabat lain, yang tadi berlari sedikit di belakang, menyusul.
"Jalan tol di Kalbar itu gimana? Saya dengar progresnya ngebut."
"Alhamdulillah on track," jawab Raga. "Tim kami lagi fokus di struktur elevated. Tanahnya lumayan menantang."
"Menantang itu bahasa halusnya apa?"
"Lembek, Pak," jawab Raga jujur.
Semua tertawa.
Keringat mulai membasahi pelipisnya. Kaosnya sedikit menempel di punggung. Tapi napasnya tetap terkontrol. Ada sesuatu yang berbeda dari Raga beberapa bulan terakhir. Ia tidak lagi terdengar defensif ketika bicara proyek. Tidak lagi seperti harus membuktikan kapasitasnya setiap lima menit.
"Pak Raga," kata Dirjen itu lagi, kali ini lebih pelan, "kami lihat BKN makin agresif ambil proyek strategis nasional."
Raga mengangguk.
"Kami cuma mau jadi bagian dari solusi, Pak. Infrastruktur itu fondasi. Kalau fondasinya kuat, yang lain ikut berdiri."
Dirjen itu memperhatikan wajah Raga sejenak.
"Umrah kemarin ya?" tanyanya tiba-tiba.
Raga melirik, sedikit terkejut. "Iya, Pak."
"Kelihatan lebih tenang."
Raga tersenyum, napasnya sedikit lebih berat sekarang karena mereka mulai menanjak tipis.
"Mungkin karena sadar nggak semua hal harus dimenangkan," jawabnya singkat.
Mereka melambat ketika rombongan mulai menyatu lagi. Beberapa staf muda terlihat ngos-ngosan. Raga menepuk bahu salah satu dari mereka.
"Tenang. Proyek kita lebih panjang dari rute ini."
Tawa kecil pecah.
Di sekitar mereka, warga Jakarta berolahraga tanpa peduli siapa yang berlari di sampingnya. Tidak ada panggung. Tidak ada konferensi pers. Hanya jalan, keringat, dan percakapan setengah formal yang terasa lebih jujur karena dilakukan sambil berlari.
Ketika mereka akhirnya berhenti di tepi trotoar untuk pendinginan, Raga menunduk sebentar, tangan bertumpu di lutut. Napasnya dalam, teratur. Dirjen itu berdiri di sampingnya.
"Kita butuh pengusaha yang nggak cuma cari margin," katanya pelan.
Raga mengangkat wajah, senyum tipis muncul lagi.
"Kita juga butuh kementerian yang berani kasih kepercayaan," balasnya.
Mereka saling mengangguk. Tidak ada jabatan disebut. Tidak ada gelar dipamerkan. Hanya dua orang yang sama-sama tahu bahwa pembangunan negeri ini tidak bisa dikerjakan sendirian.
Raga mengambil ponselnya, mengecek pesan yang masuk. Satu notifikasi dari Zara. Ia tersenyum kecil sebelum membalas.
Di tengah hiruk-pikuk proyek strategis nasional dan lari pagi bersama kementerian, ia tetap seseorang yang pulang ke satu nama.
Dan pagi itu, di antara keringat dan beton yang belum tercor, ia tahu, ia sedang membangun lebih dari sekadar pelabuhan dan jalan. Ia sedang membangun reputasi yang ingin ia wariskan dengan bersih.
Keringat masih membasahi pelipis Raga ketika ia menuruni trotoar Sudirman menuju mobilnya. Napasnya sudah kembali stabil, tapi kaus larinya sedikit menempel di punggung. Ia membuka pesan yang masuk tadi.
My Half Zara💕
Sayang, udah selesai running-nya?
Aku di Nasi Kandar Sarinah ya
Ia membalas singkat.