Siang itu Sungai Lilin, Sumatera Selatan, seperti bara yang disiram bensin. Debu beterbangan setiap kali sepatu menghentak tanah merah. Portal baja berdiri melintang, rantainya berkilat di bawah cahaya siang. Truk-truk molen BKN berjejer panjang, mesin masih menyala, suara diesel berat bergemuruh seperti binatang yang ditahan paksa.
Raga turun dari mobilnya tanpa rombongan besar, tanpa pengawalan. Tidak ada barisan aparat perusahaan. Tidak ada tameng. Tidak ada pengeras suara. Kemeja putihnya sederhana. Kacamata hitam ia lepas sebelum melangkah ke depan. Candra mengikuti setengah langkah di belakang.
Project manager lokal sudah lebih dulu berada di antara warga, mencoba menenangkan. Tapi siang itu bukan hari untuk tenang. Begitu kakinya menapak tanah proyek, hujan kata-kata menghantam lebih dulu. Teriakan pertama datang dari barisan depan.
“Turun kau! Jelaskan!”
Lalu teriakan lain menyusul, lebih kasar.
“Perampas tanah!”
“Perusak jalan!”
“Bukan wong sini lagi kau!”
Suara makin rapat. Tubuh-tubuh mendesak. Beberapa pemuda berdiri paling depan, urat leher menegang, rahang mengeras. Di balik barisan warga, beberapa pemuda berdiri paling depan. Wajah-wajah yang dikenal orang kampung bukan karena prestasi, melainkan karena lebih sering nongkrong daripada bekerja. Mata mereka menyala bukan hanya oleh amarah, tapi oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang terorganisir.
Nama Riswan Mulyawan berbisik-bisik di antara kerumunan. Wakso Iwan. Paman Raga sendiri. Orang lama yang merasa Sungai Lilin adalah halaman belakangnya. Penguasa jalur distribusi lama. Pengatur alur solar industri. Lalu kini, pelabuhan baru itu seperti batu besar yang menggeser papan catur yang selama ini ia kuasai. Massa tidak sekadar marah. Mereka dikompori.
“Saya mau bicara—”
Kalimat Raga terpotong. Dorongan pertama datang dari kiri. Bahunya bergeser setengah langkah. Candra langsung maju, tapi Raga menahan lengannya dengan satu gerakan cepat.
“Balik ke Jakarta sana!”
“Jangan tipu wong sini!”
“Tanah kami kau ambil!”
Raga mencoba mengangkat tangan, meminta waktu bicara sekali lagi. Tapi suaranya tenggelam dalam riuh. Debu beterbangan, bercampur dengan bau solar dan keringat.
Seorang pemuda menerobos maju. Matanya liar. Tangannya terangkat. Candra refleks bergerak, hendak menghadang. Tapi Raga menahan lengannya.
“Sudah.”
Pukulan pertama hampir mengenainya, namun berhasil ditangkis Raga setengahnya. Pukulan kedua lebih cepat. Mengenai batang hidungnya. Perihnya tajam. Darah langsung mengalir tipis. Raga sempat terhuyung setengah langkah. Darah masih menetes. Tapi ia tidak membalas. Tidak mengangkat tangan. Tidak menunjuk balik.
Kerumunan bersorak. Itu detik paling berbahaya. Titik paling rapuh. Para sopir truk yang sejak pagi duduk pasrah di balik kemudi melihat semuanya. Wajah-wajah yang tadi pasrah kini keras. Satu per satu pintu kabin terbuka keras. Suara pintu logam menghantam rangka mobil seperti alarm perang.
Mereka turun. Sepatu bot menghentak tanah. Beberapa langsung berjalan cepat ke arah massa. Wajah-wajah keras, tangan terkepal. Mereka bukan eksekutif. Mereka bukan negosiator. Mereka orang lapangan yang setia pada orang yang membayar mereka tepat waktu. Dan sekarang, mereka melihat CEO mereka berdarah.
“Jangan sentuh Bos kami!” teriak salah satu sopir.
Massa bergerak maju. Beberapa pemuda mengangkat balok kayu kecil. Yang lain mendorong. Teriakan bercampur debu, suara mesin, makian.
Candra memegang lengan Raga, menariknya mundur setengah langkah.
“Pak, mundur dulu!”
Project manager lokal ikut masuk, berdiri di depan Raga seperti tameng. Situasi tinggal satu percikan lagi untuk meledak jadi baku hantam terbuka. Raga mengangkat tangan tinggi, meski darah masih mengalir.
“STOP!” Suara itu bergema lantang, tegas, dalam, sekaligus tajam.
Para sopir yang sudah hampir menyentuh barisan depan menoleh.
“Balik ke truk!” teriak Raga lagi.
Tidak ada panik dalam suaranya. Tidak ada amarah. Hanya perintah.
“Tidak ada yang pukul siapa pun. Balik!”
Seorang sopir masih melangkah maju. Candra menahannya. Massa melihat keraguan itu. Satu sisi siap menyerang. Satu sisi menahan diri. Dan di tengahnya, Raga berdiri dengan darah di hidung, tangan masih terangkat, tubuh sedikit condong ke depan seperti menahan gelombang.
Ia bisa saja membiarkan semuanya lepas. Ia bisa saja memberi satu isyarat kecil, dan Sungai Lilin akan berubah jadi headline berdarah.
Tapi ia tidak melakukannya. Karena ia sepenuhnya tahu, satu saja pukulan dibalas, Sungai Lilin siang itu akan berubah jadi medan perang. Satu bentrokan saja. Satu korban saja. Maka narasi akan berubah dengan topik utama perusahaan besar menindas rakyat kecil.
Ia memilih menghapus darah di hidung dengan punggung tangan. Kemeja putihnya kini ternoda jelas.
"Pak, kita keluar dulu dari sini,” ujar Project Manager pelabuhan, orang lokal Sungai Lilin yang sejak pagi berusaha menenangkan dua kubu.
Raga mengangguk. Mereka masuk ke mobil. Pintu tertutup rapat. Mesin dinyalakan. Fortuner perlahan bergerak menjauh dari objek vital yang masih disegel. Di dalam mobil, tim legal perusahaan menelepon bertubi-tubi.
“Pak, kami kirim aparat. Ini sudah anarkis.”
Jawabannya tetap sama, pendek dan dingin.
“Jangan ada yang sentuh warga. Saya dan mereka satu darah.”
Ia tahu, itu yang ditunggu oleh orang-orang seperti Riswan Mulyawan. Dan Raga memilih tidak memenuhi harapan busuk dari pamannya sendiri. Ia memilih pergi tanpa perlawanan yang ia tahu betul hanya memenuhi ego belaka ini.
Beberapa pemuda memukul kap mobil dengan telapak tangan saat kendaraan itu melintas. Raga tidak menoleh.
Mobil berbelok keluar dari area proyek, melewati jalan kecil yang diapit rumah-rumah kayu dan kebun karet. Suara massa perlahan menjauh, digantikan suara mesin dan napas berat di dalam kabin.
Candra akhirnya mengangkat ponsel, membalas satu pesan lagi dari Jakarta. Isinya sama seperti ucapan Raga ketika telepon dari Jakarta bertubi-tubi tiba ke ponselnya.
Belum perlu aparat. Kita atur pertemuan dulu.
Tidak ada jawaban langsung. Hanya tanda centang biru.
***
Rumah Project Manager itu sederhana. Cat hijaunya sudah memudar di beberapa sisi. Terasnya sempit, dengan kursi plastik yang warnanya tak lagi seragam.
Di sinilah Raga memilih berhenti. Bukan di kantor camat. Bukan di kantor polisi. Bukan di hotel berbintang. Di rumah karyawan BKN yang lahir dan besar di Sungai Lilin.
Begitu turun dari mobil, beberapa tetangga sudah mengintip dari balik pagar kayu. Kabar tentang siang tadi menyebar cepat. Darah di wajah Raga tak luput dari pandangan.
“Pak, masuk dulu,” ujar sang Project Manager pelan.
Raga duduk di kursi plastik, mengambil tisu, membersihkan sisa darah yang mengering. Ia tidak mengeluh. Tidak memaki. Tidak menyebut nama siapa pun.
“Siapa saja yang bisa kita ajak bicara tanpa teriak?” tanyanya tenang.
Project Manager menyebut beberapa nama. Tokoh masyarakat yang dihormati. Alim ulama setempat. Kepala dusun. Ketua RT. Beberapa warga yang lahannya sudah dibebaskan dan menerima ganti rugi dengan nilai yang bahkan lebih tinggi dari ekspektasi awal. Karyawan lokal BKN yang menggantungkan hidup pada proyek pelabuhan itu.
“Hubungi mereka,” pinta Raga.
Candra kembali melihat ponselnya. Panggilan dari Jakarta masih masuk. Ia mematikan nada dering. Di luar, langit mulai berubah jingga. Lalu malam turun perlahan.
Satu per satu orang datang. Bukan dalam bentuk massa. Bukan dengan spanduk. Hanya langkah kaki dan suara salam pelan di teras. Tokoh masyarakat duduk paling depan. Alim ulama dengan peci hitamnya menyapa Raga dengan anggukan dalam.
“Anaknyo Riady, ya?” tanyanya.