Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #19

Senam Ceria Pasangan Cemara

Lapangan RSIA Bunda Harmoni pagi itu benar-benar berubah wajah. Biasanya tempat parkir yang penuh mobil pasien dan ambulans, hari itu dipenuhi tenda putih, balon warna-warni digantung di mana-mana. Juga banner-banner berbagai ukuran bertuliskan:

Hari Kesehatan Nasional

"Generasi Sehat, Masa Depan Hebat"

Sound system memutar lagu energik. Booth donor darah berdiri di sisi kanan, di sebelahnya stall jus buah murni, salad cup, infused water, dan dimsum kukus sehat tanpa MSG. Di sisi kiri, ada panggung kecil dengan backdrop 6 langkah cuci tangan versi WHO.

Para tenaga medis yang biasanya sibuk dengan masker, stetoskop, dan wajah serius, pagi itu berubah jadi peserta lomba. Perawat pakai headband warna-warni. Analis laboratorium pakai jersey tim.

Dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, residen, sampai koas, semuanya turun ke lapangan. Tawa pecah di mana-mana.

Lomba pertama: Dance Kreasi Hand Hygiene.

Zara berdiri di barisan depan tim poli anak. Bersama Dewi, Dokter Nando, dua dokter residen, dan satu koas yang terlalu bersemangat. Musik remix lagu edukasi cuci tangan mulai dimainkan.

“Langkah satu… basahi tangan…”

Gerakan mereka kompak. Usap telapak, punggung tangan, sela jari, kuku, ibu jari, pergelangan. Dikombinasikan dengan koreografi modern ala TikTok. Dokter Nando terlalu serius menari sampai Dewi hampir tertabrak. Zara tertawa lepas di tengah gerakan, meski tetap berusaha profesional.

Dari pinggir lapangan, Raga berdiri dengan kaos polo kasual dan celana chino. Tangannya bertepuk paling keras tiap kali tim istrinya hampir kehilangan formasi. Ia bahkan bersiul ketika Zara melakukan gerakan putar terakhir dengan gaya teatrikal. Benar-benar si Fans Nomer Satu istrinya.

“Wah, dokter anak kok bisa jadi dancer juga!” teriak salah satu perawat.

Raga tersenyum bangga. Zara tertawa di barisan. Kadung faham jangankan menang, tidak memalukan saja sudah sangat patut disyukuri kombinasi manusia-manusia yang tahunya mengurusi pasien tiap hari ini.

Setelah lomba-lomba fisik, ada cerdas cermat kesehatan dan fun walk keliling kompleks rumah sakit. Sementara itu, Raga menuju booth donor darah. Ia duduk santai saat jarum dipasang di lengannya.

“Pak, tensinya bagus,” kata perawat.

“Karena dia sekarang rajin olahraga,” ledek Dokter Nando yang kebetulan lewat.

Raga terkekeh. “Waduh, ketahuan.”

Selesai donor, ia diberi susu murni dan telur rebus. Raga kemudian memilih menepi di dekat stall makanan, di bawah tenda, menikmati suasana yang riuh. Dokter Nando menghampiri sambil membawa jus mangga.

“Pak Raga, serius deh, saya lihat di Instagram sekarang aktif banget ya. Lari, tennis, kadang sepeda juga.”

Raga tertawa ringan. “Konsekuensi, Dok, makin banyak kementerian kerjasama bareng BKN, makin banyak cabang olahraga yang harus saya ikuti. Running aja aslinya meeting sambil lari.”

Dokter Nando ikut tertawa. “Meeting cardio.”

“Exactly.”

Mereka berdiri santai, gelas jus di tangan masing-masing.

“Tapi memang beda ya, Dok,” lanjut Raga lebih serius. “Sejak rutin olahraga, hasil annual medical check-up saya jauh lebih baik. Kolesterol turun, liver enzymes normal, berat badan lebih stabil.”

Dokter Nando mengangguk. “Pasti. Pola hidup sehat itu efeknya sistemik, Pak. Dari metabolik sampai hormonal.”

Raga tersenyum kecil. “Saya juga sempat konsul lagi ke dokter spesialis andrologi beberapa bulan lalu.”

Dokter Nando menoleh, tertarik.

“Wah, bagus dong.”

“Iya. Dulu kan sempat ada isu kualitas sperma saya kurang optimal,” kata Raga santai, tanpa malu. “Makanya dulu kami dibantu IVF.”

Dokter Nando mengangguk penuh pengertian.

“Tapi setelah setahun lebih jaga pola makan, olahraga rutin, stop minum, tidur lebih teratur… hasil analisis terakhir jauh lebih baik.”

“Improvement signifikan?”

“Lumayan banget, Dok. Motilitas dan jumlahnya membaik.”

Dokter Nando tersenyum. “Nah itu contoh nyata. Banyak orang nggak sadar, kualitas sperma itu sensitif sekali sama lifestyle. Stres, alkohol, kurang tidur, obesitas, semuanya ngaruh.”

Raga mengangguk. “Saya nyesel sih waktu di New York bandelnya parah. Minum, begadang, makan sembarangan. Kayak nggak kepikiran bakal tua.”

Dokter Nando tertawa ringan. “It’s okay, Pak. Kita semua pernah ngerasa tubuh ini kebal. Baru sadar waktu angka-angka lab mulai negur.”

“Exactly,” sahut Raga disertai tawa.

Di kejauhan, terdengar pengumuman lomba bakiak raksasa.

“Oh ya,” kata Dokter Nando santai, “katanya Dokter Zara mau cuti short escape ya?”

Raga mengangguk. “Rencana yang sempat ketunda. Mau ke Singapore. Tapi kemarin saya harus business trip dulu ke Sumatera Selatan.”

Dokter Nando tersenyum. “Lebih fleksibel sekarang ya sejak Dokter Zara nggak shift malam lagi, full di poli anak.”

“Iya. Giliran saya yang PR nyari waktu kosongnya.”

Dokter Nando tertawa. “Work-life balance versi CEO.”

“Work in progress,” balas Raga.

Dokter Nando mengangguk, lalu melirik ke arah panggung. “Saya dipanggil buat foto bareng tim dulu. Happy holiday ya, Pak Raga.”

Lihat selengkapnya