Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #20

Magical at Dawn

Dapur rumah Raga dan Zara di kawasan Kebayoran Baru malam itu hangat oleh uap sup buntut yang dipanaskan pelan di atas kompor. Zara berdiri membelakangi pintu, rambutnya dijepit seadanya. Sendok kayu di tangannya mengaduk kuah dengan gerakan otomatis, seperti tubuhnya yang bekerja, tapi pikirannya entah ke mana.

Raga turun dari lantai atas setelah bercukur. Aroma sabun dan aftershave tipis masih menempel. Ia berhenti beberapa detik di ambang pintu, memperhatikan istrinya tanpa bersuara.

Rumah terasa tenang. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk Zara dari belakang. Tidak kencang. Tidak mengejutkan. Hanya menempelkan dada ke punggung istrinya. Dagu yang baru dicukur itu sengaja ia gesekkan ke pipi Zara. Zara terkikik.

“Ih! Geli! Baru cukur ya?”

“Baru,” jawab Raga santai.

Zara mematikan kompor, lalu berbalik menghadapnya. Tangannya naik mengusap dagu suaminya yang masih halus.

“Lumayan rapi, Pak CEO,” godanya.

Raga tersenyum, tapi tatapannya berbeda. Lebih observan. Lebih hati-hati.

“Sayang…” suaranya lembut, nyaris berbisik.

“Hm?”

“Kamu abis restock barang konsumable banyak ya?”

Zara mengernyit. “Barang apa?”

Raga pura-pura berpikir. “Tadi aku nyari cukuran cadangan di laci kamar mandi. Liat di nakas… tumben pembalut kamu banyak banget. Masih segel semua.”

Zara diam. Raga tidak melanjutkan langsung. Ia tahu nada seperti apa yang harus ia jaga.

“Biasanya kan tanggal segini…” lanjutnya pelan, “udah tinggal dikit. Kita malah udah ngomel-ngomel soal belanja bulanan.”

Zara memandangnya.

“Hari ini tanggal berapa?” tanyanya pelan.

Raga menyebutkan tanggalnya. Hening. Sendok kayu yang tadi dipegang Zara kini diletakkan begitu saja di meja. Wajahnya berubah. Bukan panik, tapi seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu yang lama dihindari. Ia mulai berhitung dalam diam. Raga melihat itu. Ia tidak menyentuhnya dulu. Ia memilih memberi ruang beberapa detik. Zara menggigit bibir bawahnya.

“Sayang…” suaranya lebih kecil sekarang.

“Iya?” Raga menjawab tenang, seolah ini percakapan paling biasa di dunia.

“Aku…” ia menarik napas. “Kalau siklus aku normal…”

Ia berhenti. Raga tidak menyela.

“… harusnya sekarang aku telat tiga minggu. Hampir empat.”

Kata-kata itu menggantung di udara. Raga tidak langsung bereaksi berlebihan. Tidak membelalak. Tidak melonjak. Ia hanya menatap istrinya lebih dalam.

“Empat minggu?” ulangnya pelan.

Zara mengangguk kecil. Matanya mulai berkabut.

“Nggak ngeh kalau telat ya, Sayang?” tanya Raga, masih dengan nada halus.

“Aku…” ia tertawa gugup. “Aku kira karena capek. Karena kemarin stres. Karena… ya biasalah.”

Raga mengangguk pelan. Ia tahu. Ia sangat tahu. Trauma itu nyata. Setiap bulan, ada harapan kecil yang sengaja mereka tekan supaya tidak terlalu tinggi. Supaya tidak terlalu sakit kalau jatuh lagi. Raga mengangkat tangan, menyentuh pipi Zara.

"I think you should take a test, Sayang.” Suaranya lebih lembut, lebih hati-hati. “We should do a self-check.”

Zara menatapnya, seperti mencari pegangan.

“Kalau negatif gimana?” suaranya nyaris pecah.

Raga mendekatkan keningnya ke kening Zara.

“Ya nggak apa-apa.”

Ia tidak berkata, “Pasti positif.” Ia tidak berani.

“Kita udah pernah lebih sakit dari hasil negatif,” lanjutnya pelan. “Kita tahu rasanya.”

Zara menutup mata sebentar.

“Tapi kalau positif…” suara Raga berubah sedikit, lebih hati-hati, “… kita harus aware. Tiga hari lagi kita flight ke Singapore. Kalau kamu hamil, kita mesti konsultasi dulu. Aman atau nggak.”

Ia tetap rasional. Tetap tenang. Itu cara dia melindungi istrinya. Zara memegang lengan suaminya.

“Malam ini banget check-nya?” tanyanya ragu.

Raga tidak memaksa. “Menurut kamu gimana?”

“Aku takut,” Zara jujur.

Raga langsung menariknya ke pelukan. “Aku juga.”

Tidak ada ego di sana. Ia mengusap punggung istrinya perlahan.

“Kita nggak ngejar apa-apa, Ra. Kalau kamu mau subuh aja, kita cek subuh. Kalau besok siang, ya besok siang.”

Ia mundur sedikit, menatap wajah Zara.

“Tapi satu hal,” katanya lembut, “aku nggak mau kamu sendirian mikirin ini.”

Zara tersenyum tipis, mata basah.

“Kok kamu bisa kepikiran soal pembalut sih?” tanyanya, mencoba mengalihkan.

Raga tersenyum kecil. “Karena aku hafal siklus kamu.”

Zara terdiam.

“Delapan tahun, Ra,” lanjutnya pelan. “Aku hafal.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Zara menghangat. Ia menyandarkan kepala ke dada Raga.

“Subuh aja ya,” bisiknya.

Raga mengangguk.

“As long as you’re comfortable,” jawabnya. “The most important thing is, I don’t want us to get on that flight before we really know.”

Ia mengusap pipi Zara dengan punggung jarinya, lalu mengecup kepala istrinya, lama.

Sup buntut di kompor sudah hangat kembali. Tapi malam itu, yang menghangatkan bukan cuma kuahnya. Ada kemungkinan yang belum berani mereka sebut dengan lantang. Dan Raga dengan seluruh kelembutannya, memilih tidak meniup api harapan terlalu besar. Ia hanya menjaga nyalanya tetap hidup.

***

Langit masih gelap ketika Zara bangun tanpa membangunkan Raga. Jam di nakas menunjukkan 04.17. Rumah sunyi. Hanya dengung AC dan detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu keras.

Ia duduk sebentar di tepi ranjang. Menatap pintu kamar mandi. Napasnya pendek. Tangannya dingin. Tiga minggu. Hampir empat. Ia berdiri pelan, berjalan ke kamar mandi tanpa suara. Pintu ditutup hati-hati. Lampu menyala. Cahaya putih memantul di dinding marmer dan meja wastafel yang lebar. Ia menatap bayangannya di cermin. Wajah pucat. Mata cemas.

Tangannya gemetar saat membuka kotak test pack. Satu. Lalu ia mengambil satu lagi. Dan satu lagi. Ia tidak mau salah. Tidak mau setengah yakin.

Beberapa menit kemudian, ia duduk di tepi bathtub. Menunggu. Menatap stik kecil itu seperti menunggu takdir menuliskan jawabannya.

Di kamar, Raga bergerak. Tangannya meraba sisi ranjang yang kosong.

“Sayang ...” suaranya masih berat oleh kantuk.

Tidak ada jawaban. Ia duduk. Menoleh ke kamar mandi. Lampunya menyala.

“Zara ....” Suara itu sedikit lebih waspada.

Di dalam kamar mandi, Zara menutup mulutnya sendiri. Air mata sudah lebih dulu jatuh sebelum ia sempat membaca dengan benar.

“Aku di kamar mandi.” Suaranya serak. Bergetar.

Raga berdiri cepat. Jantungnya mendadak berdegup lebih keras.

Ia mengetuk pelan. “Aku boleh masuk?”

Beberapa detik hening. Lalu suara kunci diputar. Raga membuka pintu perlahan. Yang pertama ia lihat adalah istrinya. Berdiri di depan wastafel marmer besar mereka. Bahunya gemetar. Mata sembab. Bibirnya bergetar seperti menahan sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung sendiri.

Lalu pandangannya turun. Di atas meja wastafel itu berjejer tiga test pack. Dua strip biasa berbeda merk. Dua-duanya dengan garis tebal yang jelas.

Dua garis.

Dan satu digital.

Semua menunjukkan hal yang sama. Pada layar kecil digital itu tertulis jelas:

Pregnant.

Sangat jelas. Tidak samar. Tidak abu-abu. Tidak perlu diterka.

Raga tidak langsung bicara. Waktu seperti berhenti. Ia melangkah mendekat perlahan. Seolah takut kalau terlalu cepat, semua itu akan berubah.

“Ra …” suaranya hampir tidak keluar.

Zara hanya menggeleng kecil, lalu menyodorkan salah satu stik itu ke arahnya. Tangannya gemetar.

“Kali ini…” suaranya pecah, “kali ini alami…”

Delapan tahun. Delapan tahun doa, suntikan, ruang tunggu klinik fertilitas, transfer embrio, hasil lab, dan satu keguguran yang nyaris meruntuhkan semuanya.

Dan pagi ini, tanpa jadwal IVF. Tanpa obat hormon. Tanpa prosedur. Raga menatap tiga test pack itu lagi. Lalu menatap istrinya.

Lihat selengkapnya