Usia kehamilan Zara sudah masuk sepuluh minggu lebih ketika mereka bertandang ke ruang praktek Dokter Nando lagi. Kurang dari tujuh hari sebelumnya, darahnya diambil untuk NIPT, tes skrining non-invasif yang sejak awal mereka sepakat lakukan. Bukan karena panik. Tapi karena pernah kehilangan di usia sebelas minggu, dan mereka tidak ingin berjalan dengan bayangan tanpa cahaya.
Raga duduk di kursi sebelah Zara. Tangan mereka saling menggenggam, seperti kebiasaan baru setiap kali masuk ruangan ini.
Dokter Nando menyambut di kursinya dengan map tipis di tangan dan senyum yang tidak dibuat-buat.
"Gimana? Deg-degan?" tanyanya ringan.
"Lumayan, Dok," jawab Raga jujur.
Zara hanya tersenyum kecil. Ia berusaha tenang, tapi ujung jarinya dingin.
Dokter Nando membuka map, lalu menatap mereka dulu sebelum mulai membaca.
"Oke. Kita bahas pelan-pelan ya."
Raga otomatis menegakkan badan.
"Jadi, ini hasil NIPT Dokter Zara. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, ini tes skrining dari darah ibu yang mendeteksi fragmen DNA janin. Tujuannya melihat risiko kelainan kromosom tertentu."
Zara mengangguk pelan. Ia tahu secara medis, tapi hari itu ia bukan sedang berpikir sebagai dokter.
"Yang paling utama," lanjut Dokter Nando, menunjuk lembar hasil, "trisomi 21-Down syndrome."
Ia berhenti sebentar, menatap mereka. "Hasilnya untuk trisomi 21-Down syndrome pada janin terdeteksi risiko rendah."
Raga menghembuskan napas tanpa sadar.
Dokter Nando melanjutkan. "Trisomi 18-Edwards syndrome, risiko rendah."
"Trisomi 13-Patau syndrome, risiko rendah."
Zara menutup mata sebentar. Jemarinya makin erat menggenggam tangan Raga.
"Kelainan kromosom seks-Turner (X0), Klinefelter (XXY), Triple X (XXX). Semuanya juga risiko rendah."
Ruangan itu seperti terasa lebih lega. Raga bersandar sedikit ke kursi.
"Artinya?" tanyanya pelan, walau ia sudah menangkap maksudnya.
"Artinya secara skrining, tidak terdeteksi peningkatan risiko kelainan kromosom utama," jawab dokter Nando. "Ini bukan tes diagnostik 100%, tapi akurasinya tinggi sekali untuk trisomi 21, 18, dan 13."
Zara mengangguk. "Di atas 99% untuk T21 ya, Dok."
Dokter Nando tersenyum. "Nah, ini dokter yang ngomong."
Raga menoleh ke istrinya. "Jadi... aman?"
"Secara skrining, hasilnya bagus," ulang Dokter Nando dengan tenang. "Dan sesuai dengan usia kehamilan Dokter Zara sekarang yang berkembang baik."
Raga menunduk sebentar, lalu mengusap wajahnya.
"Alhamdulillah," gumamnya pelan.
Zara menahan air mata. Kali ini bukan tangis panik. Tangis lega.
Dokter Nando menutup map sebentar.
"Sekarang pertanyaannya," katanya dengan nada sedikit lebih ringan, "mau tahu jenis kelaminnya sekalian?"
Raga langsung menoleh cepat.
"Udah bisa ketahuan, Dok?" suaranya hampir seperti anak kecil.
Zara tertawa kecil. "Sayang, be calm please."
Dokter Nando tersenyum. "Bisa. Dari NIPT ini juga terbaca kromosom seksnya."
Raga duduk lebih maju. "Dok, jangan digantung, tolong, saya dari tadi mau ke sini udah deg-degan sebenarnya."
Zara menggeleng sambil tertawa pelan. "Padahal tadi yang paling cool."
"Kamuflase aja itu depan kamu," sambar Raga pada Zara.
Dokter Nando tersenyum sebelum kemudian membuka kembali lembar hasil.
"Terbaca adanya kromosom XY."
Beberapa detik hening. Lalu Dokter Nando mengangkat kepala, tersenyum lebar.
"Artinya laki-laki."
Raga membeku satu detik.
"Laki-laki?" ulangnya.