Lantai dua rumah itu masih berbau kayu baru dan cat yang belum sepenuhnya kehilangan aromanya. Pagi masuk dari jendela besar yang menghadap taman belakang, menyaring cahaya lembut ke dalam kamar yang selama sembilan tahun hanya ada di kepala Raga itu sekarang berdiri nyata di depan matanya.
Pintu kamar itu terhubung langsung dengan kamar utama melalui connecting door berpanel kayu solid. Raga sengaja mempertahankan akses itu.
"Supaya nggak ada jarak," katanya waktu menjelaskan konsepnya ke Zara. "Secara arsitektur maupun emosional."
Hari itu, Raga berdiri di tengah ruangan calon kamar Kakang dengan tablet di tangan. Alisnya mengerut, mata serius memeriksa render 3D terakhir. Ia masih mengenakan kaus rumah dan celana pendek, rambut belum disisir rapi seperti biasa kalau meeting. Ini bukan proyek kementerian. Ini bukan tender bernilai miliaran. Tapi dari caranya menatap layar, jelas ini jauh lebih personal. Ia menyebutnya masterpiece.
Kamar itu luas, tapi tidak berlebihan. Lantainya sudah dilapisi SPC bermotif kayu terang dengan tone honey-warm, lembut di kaki dan aman untuk bayi. Dindingnya dominan putih hangat dengan aksen panel kayu oak muda di beberapa sisi, supaya tidak terasa terlalu "baby" seperti permintaan Zara.
"Aku nggak mau yang terlalu kartun," kata Zara dulu. "Lucu, iya. Tapi timeless."
Raga mengangguk waktu itu. Ia paham. Ia tahu istrinya tidak suka yang terlalu ramai.
Di sudut dekat jendela berdiri baby crib custom yang ia desain sendiri. Ranjang bayi itu bukan model standar. Rangkanya kombinasi kayu solid dan panel putih matte, dengan sudut-sudut membulat, tidak ada tepi tajam sedikit pun. Tinggi kasurnya bisa diatur tiga level, mengikuti usia. Di bagian bawah ada laci tersembunyi untuk sprei cadangan dan selimut tipis.
Headboard-nya halus, tanpa ukiran berlebihan. Di salah satu sisi, ada detail kecil: ukiran tipis inisial nama bayi yang sangat subtle, hampir tidak terlihat kecuali didekati.
"Branding internal," gumamnya sendiri sambil tersenyum waktu pertama kali vendor mengirim foto progres.
Di dinding belakang crib, mural tangan yang dilukis langsung oleh tim interior langganan Buana Karya Nusa membentang indah. Bukan karakter kartun besar-besar, melainkan ilustrasi hutan tropis dengan tone pastel lembut warna sage green, dusty blue, beige hangat.
Seekor singa kecil dengan surai tipis duduk tenang. Jerapah tinggi menunduk seolah mengintip bayi. Seekor monyet kecil bergelantungan di ranting dengan ekspresi nakal. Di bagian atas, langit sore digambarkan samar dengan gradasi krem dan abu muda. Raga sengaja meminta komposisinya rendah, agar ketika Kakang mulai belajar berdiri dan memegang sisi ranjang, ia bisa melihat "teman-temannya" sejajar mata.
Di sisi lain ruangan, lemari built-in custom berdiri rapi. Lacinya tidak asal banyak. Jumlahnya disesuaikan dengan daftar yang dibuat Zara. Ada laci khusus bodysuit, laci kaus kaki, laci selimut tipis, kompartemen pakaian gantung dengan tinggi berbeda untuk newborn sampai toddler. Ada soft-close di setiap rel, supaya tidak ada bunyi keras yang mengganggu bayi tidur.
Meja ganti popok berada dekat kamar mandi dalam kecil yang juga sudah disesuaikan. Di atas kasur tipis tapi empuk yang masih dilapisi plastik itu tergeletak tablet Raga. Bukan tablet makan, melainkan gadget tempat ia menyimpan seluruh gambar desain, detail ukuran, bahkan simulasi pencahayaan malam.
Kursi menyusui diletakkan di sudut paling tenang. Upholstery-nya warna cream dengan sandaran punggung tinggi dan armrest yang disesuaikan tinggi bahu Zara. Bahkan tinggi duduknya dihitung dari panjang kaki istrinya supaya posisi menyusui ergonomis. Ada ottoman kecil untuk menopang kaki.
"Spine alignment penting," kata Raga waktu mempresentasikan desain itu pada Zara, setengah serius, setengah bangga.
Pukul sembilan pagi. Raga belum sarapan. Ia terlalu fokus memperbaiki detail list LED strip di balik panel kayu agar cahaya malam nanti cukup hangat untuk mengganti popok tanpa menyilaukan mata bayi.
Langkah pelan terdengar dari belakangnya. Zara masuk perlahan, satu tangan menopang punggungnya yang kini membawa perut 35 minggu. Perut itu bulat sempurna di balik dress rumah longgar warna sage.
Di tangannya ada nampan kecil berisi sepiring nasi goreng hangat dan segelas jus buah segar. Ia berhenti sebentar, memperhatikan suaminya yang berdiri dengan wajah serius seperti sedang presentasi ke menteri. Zara mendekat, mengusap pelan kening Raga yang mengerut.
"Sayang... jangan kerung ah. Nanti cepet tua."
Raga tertawa kecil, refleks mengangkat wajahnya. Begitu melihat istrinya, ekspresinya langsung melunak. Ia menurunkan tablet, lalu tangannya otomatis berpindah ke perut Zara. Mengusap pelan.
"Morning, Kang," gumamnya.
Zara meletakkan jus dan piring di atas built-in cabinet dekat changing table, tepat di sebelah tablet Raga.
"Isi tenaga dulu," ucapnya lembut sambil menyuapi suaminya sesendok nasi goreng. "Kamu serius banget sampai lupa sarapan."
Raga menurut saja, membuka mulut seperti anak kecil. Ia mengunyah sambil tetap memandangi mural.
"Deadline-nya udah deket," katanya setelah menelan. "Kalau due date kamu nggak meleset, dia lahir lima minggu lagi."
Zara menggeleng, tersenyum.
"Udah delapan puluh persen rampung. Rileks, Sayang."
Raga menghela napas. "Aku nggak sabar lihat Kakang bobo sama main, manjat sana-sini, lari-lari di sini. Walaupun cuma siang."
Zara tertawa pelan. "Belum lahir aja udah dibayangin lari-lari."
Raga kembali mengusap perut buncit itu, kali ini lebih lama.
"Kang," panggil Raga dengan suara pelan, hampir seperti presentasi pribadi. "Desain kamar yang sekarang itu dari Mamam dan Papap. Kalau nanti kamu udah tahu suka apa, bilang sama Papap. Kita desain ulang semua."
Zara memandangnya dengan mata hangat.
"Mau kamu minta revisi gambar berapa ratus kali juga Papap ikhlas," lanjut Raga. "Asal kamu suka dan bahagia."
Zara terdiam sebentar. Lalu ia tersenyum lebih dalam.
"Dia belum lahir aja udah dapet privilege unlimited revision ya."
Raga terkekeh. "Client paling penting dalam hidup Papap."
Zara menyuapi lagi. Raga kali ini membalas dengan meminumkan jus ke bibir istrinya.
Di kamar yang hampir selesai itu, dengan lantai kayu terang dan mural hutan lembut, dua orang berdiri memandang masa depan yang tinggal lima minggu lagi menyapa. Proyek terbesar Raga bukan gedung kementerian. Bukan museum nasional. Bukan tender bernilai triliunan. Melainkan ruangan kecil dengan crib kayu, kursi menyusui, dan satu perut yang sedang bergerak pelan di bawah tangannya.
Zara duduk pelan di kursi menyusui yang baru seminggu lalu dipasang. Ia menghela napas puas.
"Enak banget ini kursinya," gumamnya. "Serius, kamu hitung tinggi sandarannya pakai penggaris apa gimana sih?"
Raga terkekeh. "Antropometri, Bu. Papap nggak main-main kalau urusan client utama."
Zara menggeleng geli, lalu menyandarkan punggungnya lebih nyaman.