Almost Ours

perempuansenja_wp
Chapter #24

Menyambut Anggota Baru

Zuhur itu terasa tenang sekali. Cahaya matahari masuk tipis lewat tirai kamar, jatuh di sajadah yang masih terhampar. Zara belum melepas mukenanya. Ia duduk sedikit lebih lama, tangan masih terangkat dalam doa.

Usia kandungannya 40 minggu. Perutnya terasa berat turun ke bawah sejak beberapa hari terakhir. Ia sudah cuti dari rumah sakit atas rekomendasi Dokter Nando setelah beberapa kali braxton hicks muncul saat praktik.

"Dokter anak juga harus nurut kalau disuruh istirahat," tegur Dokter Nando waktu itu dengan nada setengah bercanda.

Zara setuju. Tapi tetap saja, menjadi dokter dan menjadi pasien untuk diri sendiri itu dua hal yang berbeda.

Ia menurunkan tangan dari doa. Mengusap wajah. Lalu rasa itu datang. Awalnya seperti kencang biasa. Perut mengeras. Ia diam saja. Menunggu. Lima detik. Sepuluh detik. Rasa kencang itu berubah jadi nyeri yang menjalar ke bawah, menekan panggul, seperti ada sesuatu yang benar-benar sedang mendorong dari dalam. Zara menahan napas. Tangannya refleks memegang bagian bawah perut.

"Ouuch..." lirihnya pelan.

Ia mencoba berdiri dari sajadah. Belum sempat benar-benar tegak, nyeri itu datang lagi. Kali ini lebih dalam. Lebih fokus. Tidak seperti braxton hicks yang sering datang sebentar lalu hilang tanpa pola. Napasnya memendek.

Tarik... buang... tarik... buang...

Ia menutup mata, menghitung dalam hati. Dokter dalam dirinya otomatis aktif menghitung durasi, intensitas, dan interval. Tapi di balik logika medis itu, ada suara kecil lain yang berbisik, ini mungkin benar-benar mulai.

Langkah kaki terdengar dari lorong. Raga masuk sambil membawa segelas air. Ia berhenti mendadak ketika melihat istrinya setengah membungkuk, memegang perut, mukena masih terpasang.

"Sayang?" Suaranya langsung berubah.

Ia meletakkan gelas begitu saja di meja samping tempat tidur dan cepat mendekat.

"Kontraksi?"

Zara mengangguk pelan. Bibirnya terkatup rapat. Tidak sanggup menjawab panjang.

Raga berlutut di depannya. Tangannya memegang bahu Zara.

"Kita ke RS sekarang ya!" katanya cepat, nyaris panik. "Aku ambil tas. Mobil siap. Kita jalan sekarang."

Zara langsung mencengkeram lengan Raga kuat-kuat.

"Jangan..." napasnya masih pendek.

Nyeri mulai turun. Gelombang itu perlahan mereda. Ia membuka mata, menatap suaminya yang wajahnya sudah pucat.

"Belum teratur," beritahunya pelan, masih mengatur napas. "Kita tunggu dulu ya."

Raga menatapnya tidak percaya. "Tunggu? Ini kamu sakit banget."

Zara tersenyum tipis, meski dahi masih berkerut.

"Kalau ke RS sekarang ternyata belum bukaan sama sekali, aku yang stres nanti," ujarnya pelan. "Masih fase awal kayaknya."

Raga mengusap pipi istrinya. "Aku nggak tega lihat kamu kesakitan."

Zara menatapnya lembut. "Namanya juga mau lahiran, Sayang. Ini bukan meeting yang bisa diundur."

Raga hampir tertawa, tapi wajahnya masih tegang.

"Bantu aku bangun ya," lanjut Zara pelan. "Kita jalan-jalan di kamar aja dulu. Biar bantu Kakang turun ke jalan lahir."

Raga langsung berdiri, menopang tubuh istrinya dengan hati-hati. Tangannya otomatis melingkar di pinggang Zara, satu tangan lain siaga di bawah perutnya, seperti takut bayi itu tiba-tiba turun saat itu juga. Mereka berjalan pelan mengelilingi kamar. Langkah kecil. Pelan. Raga ikut menghitung napas.

"Tarik... buang... tarik... buang..."

Zara tersenyum tipis. "Yang lahiran aku, yang lebih deg-degan kayaknya kamu ya?"

"Ya jelas," jawab Raga cepat. "Aku nggak bisa gantiin kan."

Ia mencium pelipis Zara yang mulai berkeringat. "Kalau bisa, aku yang ambil setengah sakitnya."

Zara terdiam sesaat. Matanya menghangat. Kontraksi datang lagi. Kali ini lebih kuat. Ia berhenti berjalan. Tubuhnya sedikit condong ke depan. Raga langsung memeluknya dari belakang, menopang.

"Okay... okay... it's okay...," gumam Raga tanpa sadar, padahal tidak yakin harus berkata apa.

Zara memejamkan mata. Ia menarik napas dalam lalu membuang perlahan. Tangannya mencengkeram kaus Raga di dada, hampir meremas.

"Berapa detik?" tanyanya lirih di sela napas.

Raga menatap jam di ponselnya dengan tangan gemetar. "Empat puluh... empat puluh lima..."

Kontraksi mereda setelah hampir satu menit. Zara membuka mata perlahan.

"Catat waktunya," katanya pelan, masih profesional di tengah rasa nyeri.

Raga langsung mengetik di notes.

"Jam dua belas lewat tiga belas."

Mereka kembali berjalan. Beberapa menit tenang. Raga menunduk, mencium perut istrinya.

"Kang..." suaranya lebih lembut sekarang. "Pelan-pelan ya. Mamamnya kamu lagi kerja keras."

Zara tertawa pelan. "Kamu ngomong kayak dia ngerti."

"Ya ngerti lah. Anak Papap."

Zara menggeleng, tapi senyumnya tidak hilang. Ia berhenti lagi, kali ini bukan karena kontraksi, tapi karena napasnya mulai berat.

"Takut?" tanya Raga pelan.

Zara terdiam sebentar.

"Iya," jawabnya jujur. "Walaupun aku dokter. Rasanya beda waktu ngalamin sendiri."

Raga menatapnya serius.

"Aku juga takut," katanya pelan. "Takut kamu kesakitan. Takut nggak bisa bantu banyak."

Zara mengangkat tangan, menyentuh wajah suaminya. "Kamu ada di sini aja udah bantu banget."

Kontraksi berikutnya datang lebih cepat dari yang sebelumnya. Zara mengerang kecil. Raga langsung siaga, memeluknya lebih erat.

"Kita mungkin nggak nunggu lama lagi," bisik Zara di sela napas. "Kalau intervalnya makin rapat, kita berangkat."

Raga mengangguk cepat. "Tas udah siap. Mobil siap. Aku siap."

Zara tersenyum kecil, meski wajahnya menegang lagi. "Kayaknya ini hari ini deh, Sayang."

Raga menatapnya lama. Lalu menunduk, mengecup kening istrinya yang terasa hangat.

"Okay," katanya pelan, lebih mantap sekarang. "Papap siap ketemu Kakang."

Zara menyandarkan kepalanya ke dada suaminya. Di kamar yang  terhubung dengan kamar bayi yang dulu mereka desain penuh cinta itu, kamar bayi yang diberi ornamen mural hutan dan crib kayu yang sudah menunggu, waktu sembilan tahun itu akhirnya benar-benar sampai pada satu titik.

Dan di sela napas yang diatur pelan dan rasa nyeri yang datang bergelombang, ada dua orang yang sama-sama takut, sama-sama excited, dan sama-sama jatuh cinta lagi pada satu peran baru: Mamam dan Papap.

***

Lantai delapan belas RSIA Bunda Harmoni sore itu berwarna keemasan. Langit Jakarta di balik kaca besar presiden suite tampak lembut, senja turun perlahan seperti tirai yang ditarik pelan-pelan. Ruangan itu luas, jauh lebih tenang dari ruang bersalin reguler. Sofa besar di sudut, pantry kecil, kamar mandi dalam, monitor CTG berdetak ritmis di samping ranjang.

Hari ini Zara bukan dokter yang biasa berjalan cepat menyusuri koridor. Ia pasien. Gaun rumah sakit menggantikan dress hamilnya. Rambutnya terbalut hijab kaos yang ringan. Wajahnya lebih pucat dari biasanya, tapi matanya tetap sadar penuh. Ia dalam mode setengah dokter, setengah perempuan yang sedang menunggu ambang hidup baru.

Sudah satu jam sejak mereka tiba, kini kontraksi makin rapat terasa. Zara tidak banyak bicara lagi. Tangannya mencengkeram lengan Raga setiap kali gelombang itu datang. Kuat sekali sampai kuku-kukunya menekan kulit suaminya.

"Sayang..." napasnya pendek. "Datang lagi..."

Raga langsung berdiri lebih dekat, satu tangan menopang bahu Zara, satu tangan di pinggangnya.

"Tarik napas... tarik... buang pelan..."

Zara mencoba mengikuti. Tapi kali ini lebih sakit. Ia mengerang kecil dengan suara tertahan.

"Allah ... uhhh..."

Bidan masuk lagi untuk periksa dalam. Tirai kecil ditutup separuh. Raga berdiri di sisi kepala Zara, memegang tangannya.

"Maaf ya, Dok," kata bidan lembut, tetap memanggilnya dengan gelar yang biasa. "Saya cek lagi."

Zara mengangguk kecil. Begitu pemeriksaan dimulai, ia menggigit bibirnya.

"Ahh ...." erangannya lebih jelas kali ini. Tubuhnya menegang.

Raga langsung menunduk, mencium keningnya.

"Maaf, Sayang... maaf..."

"Bukaan empat," kata bidan beberapa detik kemudian. "Progresnya bagus. Tapi memang kepalanya sudah turun sekali. Makanya rasanya berat banget di bawah."

Zara memejamkan mata. Empat. Secara teori masih awal aktif. Tapi tubuhnya terasa seperti sudah ingin mendorong.

"Rasanya... kayak mau... ngeden..." bisiknya.

"Belum ya, Dok. Tahan dulu. Kita tunggu bukaan lengkap."

Bidan keluar lagi setelah memastikan monitor stabil. Ruangan kembali hening, hanya suara detak jantung bayi dari CTG yang terdengar teratur. Raga duduk di sisi ranjang, memegang gelas air dengan sedotan.

"Minum dikit ya," katanya lembut.

Zara menggeleng lemah.

"Dikit aja."

Ia mendekatkan sedotan ke bibir istrinya. Zara menyeruput sedikit, lalu kembali menarik napas panjang. Kontraksi lagi. Kali ini lebih panjang. Erangannya tidak bisa sepenuhnya ditahan. Ia mencengkeram lengan Raga lebih kuat. Raga mengusap punggungnya, turun ke pinggang bawah, memijat lembut seperti yang diajarkan di kelas prenatal.

Lihat selengkapnya