Zeemar genap satu bulan tiga hari ketika malam-malam mereka berubah ritmenya. Biasanya, selepas Isya, rumah di Kebayoran Baru itu masuk ke mode sunyi. Lampu kamar bayi diredupkan. Diffuser menyala tipis. Zara duduk di kursi menyusui, Zeemar menempel tenang di dadanya, Raga duduk di lantai dekat kaki istrinya, kadang memijat betis Zara yang pegal.
Malam itu berbeda. Sejak sore, Zara sudah merasa ada yang tidak beres. Payudara kirinya terasa lebih keras dari biasanya. Nyeri. Panas. Seperti ada bagian yang tersumbat dari dalam. Ia mencoba menyusui lebih sering dari sisi itu, karena ia tahu justru harus dikosongkan. Tapi setiap kali Zeemar mengisap, rasa perihnya menjalar sampai ke ketiak. Menjelang Magrib, demam mulai datang. Tidak tinggi, tapi cukup membuat tubuhnya menggigil halus.
“Masih sakit banget?” telisik Raga.
Zara mengangguk, wajahnya lelah. “Mastitis tuh emang nyut-nyutan banget.”
Sebagai dokter, ia tahu protokolnya. Jangan berhenti menyusui. Mulai dari sisi yang sakit supaya pengosongan maksimal. Kompres hangat sebelum menyusui untuk bantu let down reflex. Kompres dingin setelahnya untuk meredakan bengkak. Banyak minum. Istirahat total. Jangan pijat keras. Jangan pakai bra ketat.
Tapi mengetahui teori tidak mengurangi rasa sakit. Tidak juga membuat Zeemar lebih kooperatif. Bayi satu bulan itu seperti punya radar. Begitu merasakan mamamnya tidak 100%, ia jadi makin lengket. Makin rewel. Tidak mau ditaruh. Tidak mau digendong orang lain. Tidak mau dot.
Maunya DBF. Direct breastfeeding. Raga sudah mencoba memberi ASIP sore tadi. Botol steril, suhu pas, posisi sudah benar. Zeemar cuma mengisap dua kali lalu menangis keras. Wajahnya memerah, tangannya kecil menepis dot. Maunya mamamnya.
Sekarang sudah lepas Isya, Zeemar tidak juga mau dilepas. Zara membawa newborn baby ini ke kamar utama, tempatnya dan Raga. Zara duduk di tepi ranjang, memeluk Zeemar yang menangis kecil tapi terus-menerus. Ia mencoba menyusui lagi dari sisi kiri yang sakit. Air matanya ikut keluar, perpaduan rasa nyeri sekaligus rasa bersalah.
“Maaf ya, Kang,” bisiknya ke bayinya.
Raga berdiri di depan mereka, merasa tidak berdaya melihat dua orang paling ia cintai sama-sama kesakitan.
“Sayang,” katanya lembut, jongkok di depan Zara. “Kamu harus istirahat.”
Zara mencoba mendekatkan dot lagi pada Zeemar, namun bayi satu bulan itu seketika memalingkan wajah. Lalu menangis makin keras. Zara hampir menangis juga.
“Aku nggak tega,” bisiknya. “Dia laper…”
Raga berlutut di depan istrinya. Tangannya mengusap lutut Zara pelan.
“ASI kamu tetap aman,” katanya lembut. “Tapi kamu juga harus istirahat.”
Zara menggeleng pelan.
“Sayang, aku tahu kamu mau mengusahakan terbaik buat Kakang, tapi kalau kamu makin drop, malah tambah lama sembuhnya.”
Zeemar kembali menangis lebih keras ketika aliran ASI melambat karena refleks let down terganggu oleh stres dan nyeri. Raga mengambil kain hangat, membantu Zara kompres sebelum sesi berikutnya. Ia menahan diri untuk tidak memijat terlalu keras, hanya menekan lembut di sekitar areola seperti yang diajarkan konselor laktasi.
“Cukup ya,” katanya pelan ketika melihat wajah Zara makin pucat.
Zara menatapnya. Mata mereka bertemu. Ada kelelahan yang sama.
“Kasih aku,” kata Raga akhirnya.
Zeemar masih menangis ketika berpindah ke pelukan papapnya. Tangannya kecil masih mencari-cari dada mamamnya. Zara hampir berdiri lagi. Raga menggeleng pelan.
“Biarin aku coba dulu di kamar dia ya.”
Ia membawa Zeemar ke kamar baby. Kamar itu masih baru. Lemari kayu terang. Mural di dinding. Kursi menyusui yang ia desain sendiri. Lampu warm light menyala lembut. Raga duduk di kursi, membuka dua kancing atas kausnya. Ia menempelkan Zeemar ke dadanya, membiarkan kulit bertemu kulit. Tangis Zeemar perlahan berubah jadi isakan.
“Shh… Papap di sini.”
Ia mengayun pelan. Ritme stabil. Tidak tergesa.
“Kakang,” bisiknya, hampir seperti doa. “Mamam lagi sakit.”
Ia menelan ludah.
“Mamam tetap mau nyusuin kamu. Tapi sekarang mamam butuh kamu kuat.”
Zeemar menggeliat, wajahnya memerah, bibirnya mencari. Raga tidak langsung menyodorkan dot. Ia tahu Zeemar terlalu aware kalau masih mencium aroma mamamnya di kamar utama. Maka ia memang sengaja membawanya ke sini.
Beberapa menit berlalu. Tangis naik turun. Raga memeriksa jam. Sudah hampir tiga jam sejak sesi terakhir. Ia tahu Zeemar benar-benar lapar sekarang. Ia mengambil botol ASIP yang sudah dihangatkan dengan water warmer. Menguji suhu di pergelangan tangannya.
“Kita coba ya,” katanya pelan.
Dot disentuhkan ke bibir kecil itu. Zeemar menolak. Menangis lagi. Raga tidak panik. Ia kembali menempelkan Zeemar ke dadanya. Mengusap punggungnya.
“Papap tahu kamu kangen mamam. Papap juga kangen mamam yang sehat.”
Suara itu berat, tapi lembut sekali.
“Tapi kita tim, kan? Kalau satu sakit, yang lain bantu.”
Tangis mereda sedikit. Raga mencoba lagi. Dot disentuhkan pelan di sudut bibir. Refleks rooting muncul. Zeemar mengisap sekali. Lepas. Raga tidak memaksa. Ia menunggu. Memberi jeda.
“Pelan-pelan aja. Papap nggak ke mana-mana.”
Kali ini, Zeemar mengisap lebih lama. Satu detik. Dua detik. Tiga. Lalu mulai stabil. Isapan kecil yang teratur. Raga menahan napas, hampir tidak berani bergerak.
“Good job …” bisiknya lirih.
Raga masih mendengar isapan kecil dengan ritme intens itu ketika ia kembali mengajak bicara Zeemar.
“Papap bangga banget sama Mamam.”
Ia kembali menatap Zeemar.
“Jadi satu hal ya, Kang,” suaranya sedikit lebih tegas, meski tetap lembut. “Kamu harus hormat sama Mamam. Sampai kapan pun.”
Ia mencium pelipis kecil itu. “Mamam berjuang keras sekali buat kamu sebelum kamu bisa lihat dunia.”
Isapan berhenti. Zeemar benar-benar tertidur sekarang. Raga tidak langsung memindahkannya. Ia tetap duduk, memeluk.
“Papap mungkin bisa bangun gedung. Bisa tanda tangan proyek miliaran.”
Ia tersenyum tipis. “Tapi hidup ini… Papap nggak bisa rancang sendirian.”
Ia menunduk. “Kamu datang bukan karena hebatnya Papap.”
Hening.
“Kamu datang karena Allah bilang waktunya buat Mamam dan Papap.”
Air mata tipis menggenang di mata Zeemar, juga papapnya. Botol ASIP itu perlahan kosong. Tidak habis seluruhnya, tapi cukup. Zeemar tetap terhidrasi. Tubuh kecilnya mulai rileks. Tangis berhenti. Matanya berat.
Raga mencium keningnya. “Thank you, Kang.”
Ketika ia kembali ke kamar utama, Zara sudah setengah berbaring dengan kompres dingin di dada. Wajahnya masih pucat, tapi matanya penuh tanya.
“Minum,” beritahu Raga dengan suara pelan.
Zara terdiam beberapa detik. “Serius? Kamu apain?”
Ia mengangguk kecil. “Boys time.”
Zara tertawa pelan, lalu menutup wajahnya sebentar. Lega yang luar biasa.
Zeemar dipindahkan ke baby cot di samping ranjang mereka. Masih setengah terlelap. Raga duduk di tepi kasur, membantu mengganti kompres. Memastikan bra Zara longgar. Menyodorkan air minum.
“Kalau besok nggak membaik, kita ke dokter ya,” katanya tegas tapi lembut. “Jangan tunggu 48 jam.”
Zara mengangguk. Ia menatap suaminya yang tadi dengan sabar bernegosiasi dengan bayi satu bulan.