Aku tidak bisa langsung melupakanmu, Mas.
Berita pernikahanmu bukan titik, melainkan koma panjang yang membuat napasku sesak setiap malam. Orang-orang bilang aku harus segera melupakan, tetapi mereka tidak pernah tinggal di dalam hatiku yang masih penuh denganmu.
Malam itu, setelah pesan terakhir kita, setelah aku berkata "Mari kita akhiri sampai sini", aku menulis lagi. Bukan untukmu, melainkan untuk diriku sendiri. Surat yang tidak akan pernah kukirim.
Mas,
Terima kasih.