Alogaritma Takdir

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #1

1

Suatu ketika, Ahsana dan Cakra sedang berkumpul untuk membicarakan mengenai rencana pemilihan ketua OSIS. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius.

“Nanti kalau kalian misalnya dihadapkan dua pilihan, pemungutan suara atau siapa yang paling terkenal di sekolah mau lebih pilih yang mana?” Tanya Cakra.

‘’Ya kalau gue pilih berdasarkan pemungutan suara biar hasilnya adil,’’ sahut Ahsana.

‘’Gue tidak setuju! Lebih baik berdasarkan siapa yang paling terkenal di sekolah ini ya, walaupun hasilnya tidak adil, Kalau gue terkenal di sekolah ini, program OSIS akan lebih terjamin pastinya,’’ tutur Cakra dengan nada yang sombong.

Ruangan kelas terasa sangat dingin dan tegang karena bertepatan dengan momen ujian semester sekolah. Ahsana dan Cakra hanya saling bertatapan sinis seolah tidak ingin ada yang mengalah satu sama lain.

‘’Lo fikir dengan terkenal di sekolah ini bisa mengatur system pemilihan ketua OSIS sesuka hatimu, enggak ya,’’ Tutur Ahsana dengan nada kesal.

‘’ Kenapa? lo takut kalah saing sama gue,’’

Ahsana menarik napas dalam-dalam dan berusaha tetap tenang ‘’Oh, tentunya enggak ya,’’

‘’ Oke, kita lihat saja siapa yang akan bisa menang dalam persaingan ini.’’

Debat berlangsung selama hampir satu jam. Argumen Cakra berpusat pada passion di SMA Nusa Bangsa, sementara Ahsana berargumen tentang kualitas dan keadilan. Suasana makin kaku, hingga akhirnya Ibu masuk ke dalam kelas.

Ibu menatap mereka berdua, lalu berkata dengan tenang, "Cakra, Ibu cuma ingin pemilihan ketua OSIS terlaksana secara adil. Tolong jangan prioritaskan keegoisan,"

Mereka terdiam, lalu Ahsana melanjutkan, "Bagaimana kalau saya mengusulkan untuk mengadakan pemilihan ketua OSIS dengan pemilihan suara dari seluruh siswa SMA Nusa Bangsa, Buk. tanpa memaksa adanya paksaan dari pihak manapun?’’

Ibu Clara menghela napas panjang, merenungkan argumen anaknya. "Baik, pemilihan ketua OSIS akan diadakan melalui pemungutan suara. Namun kalau kamu gagal kalian harus menunjukkan passion agar menarik perhatian siswa lainnya."

‘’Baik buk,’’ Jawab Ahsana.

Cakra tersenyum lega. "Sepakat, Pak"

Suasana kelas menjadi kondusif yang membuat para siswa menjadi tengang. Saat itu, matematika adalah mata pelajaran yang sedang diujikan. Semua murid pun tampak kebingungan dan kewalahan saat melihat soalnya. Sehingga, terjadilah percakapan antara Cakra dan para sekawannya.

“Bani, aku mau minta jawaban dari soal nomor 6 dan 7 dong!” tutur Cakra.

 “B dan D,’’ jawab Bani.

 “Husssttt… jangan kenceng-kenceng nanti guru dengar lho” Jawab Cakra dengan nada takut.

"Tenang, Sistem Kebut Sejam. Pas baca sejam, sejam langsung lupa semuanya, Hahaha" Tutur Bani dengan santai.

Lihat selengkapnya