Alogaritma Takdir

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #2

2

Pemilihan OSIS selalu membawa sesuatu yang berbeda ambisi, harapan. Aula sekolah penuh sesak. Ahsana berdiri tegak dengan blazer rapi. Namun, Cakra terlihat merapikan seragamnya yang sedikit berantakan.

‘’Halo, selamat pagi semuanya!’’ tutur moderator.

"Baik, pertanyaan pertama. Bagaimana visi-misi Anda untuk meningkatkan disiplin di sekolah?" Tanya moderator dengan nada tegas.

"Tentu, dengan menegakkan tata tertib, menambah poin pelanggaran, dan mengadakan sidak mendadak setiap minggu agar siswa takut melanggar." Jawab Ahsana dengan tegas.

Lalu Cakra mengambil mikrofon dengan santai dan menyampaikan argumennya. "Kalau saya, prinsipnya adalah 'Disiplin Tanpa Stres'. Daripada sidak, mending gurunya yang sidak ke hati siswa. Tahu kenapa teman-teman sering telat? Karena nunggu jodoh di perempatan, Bu. Program saya: ‘'Jodohkan Siswa dengan Waktu', artinya telat 5 menit denda 1000, uangnya buat beli kerupuk kantin bersama. Adil, kan?"

Seluruh aula tertawa yang membuat Ahsana menatap tajam.

"Wah, kalau saya menang, saya akan buat kompetisi 'Sampah Tertampan'. Sampah yang paling rapi di buang bakal saya kasih hadiah. Dan, khusus hari Jumat, kantin di larang pakai plastik, tapi pakai daun pisang. Biar estetik dan bisa buat bungkus sisa makanan buat kucing sekolah. Ramah lingkungan dan ramah kantong, kan?" jawab Cakra.

Setelah penyampaian visi dan misi yang berlangsung selama dua jam. Moderator langsung mengadakan pemugutan suara untuk memperoleh hasil dari penyampaian program OSIS hingga terpilih Ahsana sebangai ketua OSIS SMA nusa bangsa. Ahsana langsung gembira dan maju ke depan dengan antusias sementara Cakra terdiam mendengar kekalahan atas kesombongannya. Setelah kepala sekolah mengumumkan ketua OSIS di SMA Nusa Bangsa dalam mengikuti pemilihan kandidat OSIS keluar dari aula sekolah dan siswa pun ikut bubar. Namun, Cakra dengan kekesalannya menghampiri Ahsana ketika pulang sekolah.

 

Jam pelajaran di mulai.

‘’Waktu ujian sekolah tinggal 2 minggu lagi, untuk Cakra silahkan belajar lebih giat lagi nilai tertinggal di antara temanmu yang lain,’’ sambil menuliskan beberapa soal di papan tulis untuk di jawab oleh siswa yang lainnya.

‘’Silahkan mencatat tugas yang sudah saya berikan,’’ tutur buk Clara.

Ketika Ahsana membuka tasnya untuk mengambil buku catatannya, dia tidak menemukan buku tersebut. Hati kecil Ahsana langsung tertuju kepada Cakra.

"Lo sengaja kan, sembunyiin buku catatan gue?" tanya Ahsana dengan tatapannya tajam.

"Sengaja apa sih? Tuh buku jalan sendiri ke tas gue kali," jawab Arga enteng sambil mengangkat bahu, berbohong dengan wajah tanpa dosa.

"Cakra, balikin. Gue harus ngerangkum sekarang," tegas Ahsana sambil jarinya mengetuk meja dengan cepat, menunjukkan ia mulai habis kesabaran.

"Galak amat sih, Ahsana. Ambil sendiri dong kalau berani," Ejek Cakra sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya menantang.

Ahsana menarik napas panjang, memutuskan diam dan menatap Cakra lurus-lurus dan menggunakan teknik silent treatment untuk memenangkan debat. Dua jam berlalu, jam pelajaran selesai. Ahsana menghampiri cowok tengil tersebut.

Lihat selengkapnya