Alogaritma Takdir

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #4

4

Hari pertama, Cakra duduk di dekat meja Ahsana dengan angkuh. Ahsana hanya melirik tajam, lalu kembali fokus pada novel tebalnya.

"Buku apaan sih? Seru amat mending liatin muka gue," celetuk Cakra mencoba menggoda seperti biasa.

"Buku ini nggak bakal bikin gue dapet masalah, nggak kayak lo." balas Ahsana dingin tanpa mengalihkan pandangan.

Cakra tertawa. Bukan karena marah, tapi karena kagum. Cewek ini berbeda dengan yang lain yang tidak tergoda dengan rayuannya. Cara Ahsana serius membaca, cara dia membetulkan letak kacamata, bahkan saat Ahsana menghela napas panjang melihat rumus fisika. Sisi "kutu buku" Sera perlahan memikat Cakra yang terbiasa dengan kebisingan. . Asap rokok mengepul tipis di pojokan meja". Di meja paling belakang, Cakra tampak gelisah. Bolak-balik memeriksa ponselnya. Di hadapan teman setianya, Budi sibuk menyusun strategi layaknya tim sepak bola yang akan bertanding di final.

"Lo harus berani, bro. Dia mau to the point itu dari cara dia natap lo," kata Budi sambil menghisap rokoknya.

Cakra menghela napas panjang. "Namun, bro, kalau dia nolak gimana? Makin menjauh dong sama gue,"

Budi menepuk pundak Cakra keras-keras. "Dengerin. Nembak cewek itu kayak ngopi. Kalau kelamaan di diemin, rasanya hambar. Harus pas moment-nya. Ini strategi kita," kata Budi dengan nada meyakinkan.

Di kantin, Budi menghampiri Ahsana yang sedang merapikan buku di atas meja. Budi dengan tubuh tingginya, mengambil alih buku-buku berat itu dengan mudah.

"Ahsana," panggil Budi. Suaranya tidak sekeras biasanya.

Ahsana menoleh, kaget melihat Budi berdiri sangat dekat. "Kenapa, Bud? Kita gak ada kepentingan, kan?"

"Iya, Lagi pengen cobain kafe baru yang di Kemang deh. Kayaknya kopinya enak. Join yuk besok sore? Kebetulan kafe-nya ada bookstore, lo kan hobi membaca ya. Nah cocok tu buat lo. Gue yang traktir kopinya!"

‘’Wah, boleh juga tuh. Jam berapa?" ujar Ahsana sambil penasaran.

"Jam 5-an aman? Nanti gue jemput atau ketemu di sana aja?" lanjut Budi.

‘’Ketemu di sana aja, Bud!’’ ungkap Ahsana.

‘’Oke.’sambut Budi.

Langit Jakarta sore itu mendung, tapi di warkop "Kopi Merdeka" pojok sekolah, suasananya tetap ramai. Di meja paling sudut, Ahsana yang selalu membawa novel tebal ke mana-mana. Kutu buku sejati, begitu julukannya. Ia sibuk mencoret-coret buku catatannya, mengabaikan kebisingan. Tiba-tiba, bayangan menutupi bukunya. Aroma parfum maskulin yang familiar—campuran kopi dan mint—menyeruak.

"Serius amat, Kutu buku," sapa sebuah suara berat.

 Cakra duduk santai di depan Ahsana tanpa diundang, meletakkan kunci motor ninja di meja. Ahsana menghela napas, tanpa melepaskan pandangannya dari buku. "Hahh, Cakra? Sejak kapan lo di sini? Kalau mau nyontek tugas fisika, udah telat. Tadi pagi udah gue kumpulin,"

Cakra terkekeh, suara khas yang membuat jantung Ahsana tanpa ia sadari berdetak sedikit lebih cepat. "Siapa yang mau nyontek? Gue cuma mau beli kopi." Cakra memanggil penjual, "Mang, kopi hitamnya satu, ya. Gula dikit."

Suasana hening sejenak. Cakra memperhatikan Ahsana yang masih fokus membaca. Baginya, Ahsana adalah misteri. Berbeda dengan cewek-cewek lain yang selalu mengejarnya, Ahsana tidak pernah peduli. Itu yang membuat Cakra penasaran.

"Lo... nggak capek baca terus?" tanya Cakra dengan suaranya melembut, kontras dengan penampilannya yang garang.

Ahsana menutup bukunya, menatap Cakra dari balik kacamatanya. "Lo nggak capek pura-pura nakal terus?"

Cakra terdiam, lalu tertawa keras. "Oke, skakmat. Lo pinter juga."

Cakra mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Ahsana intens. "Kutu buku, gue udah sering dikejar cewek yang 'wah'. Tapi kenapa cuma sama lo, gue ngerasa... tenang? Kayak... hidup gue yang berisik ini butuh jeda yang tenang, dan jeda itu lo."

Ahsana tertegun. Ini tidak ada dalam skenario novel romantis yang ia baca.

"Lo ngomong apa sih, Cakra?" tanya Ahsana dengan nada penasaran.

Lihat selengkapnya