Alogaritma Takdir

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #6

6

Perlahan, kelopak mata Ahsana terbuka, disambut cahaya putih yang menyakitkan. Kepalanya berdenyut hebat. Bau antiseptik menusuk hidung, menggantikan aroma mencekam gudang tua tempat ia disekap. Mimpi buruk itu nyata, namun kini ia bernapas lega selamat dari tragedi yang hampir merenggut nyawanya.

Ahsana mengerjapkan matanya, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya putih ruangan bernuansa antiseptic "Bunda... Ahsana di mana? Kenapa Ahsana bisa ada di sini?"

"Alhamdulillah... ya Allah, Ahsana, kamu sudah sadar, nak?" Suara lembut bercampur isak tangis yang sarat akan kelegaan terdengar dari sisi ranjang. Bunda langsung beranjak dari kursi dan merengkuh pundak Ahsana perlahan, mengecupi puncak kepalanya dengan air mata yang tak terbendung.

Bunda mengurai pelukannya, menangkup wajah pucat Ahsana sambil menatapnya lekat-lekat. Matanya menyiratkan sisa kengerian yang mendalam.

"Kamu di rumah sakit, sayang. Semalam kamu dibawa lari sama komplotan geng motor itu, Bunda hampir gila mikirin kamu semalaman suntuk," Bunda kembali terisak, mengelus lembut lengan putrinya yang dipenuhi bekas memar. "Beruntung polisi dan Budi melacak markas mereka setelah saksi mata melapor ke Layanan Kepolisian ."

Mendengar kata 'geng motor', mata Ahsana membelalak. Kepingan memori semalam berkelebat cepat di kepalanya—teriakan, cengkeraman kasar di tangannya, suara deru knalpot yang memekakkan telinga, hingga raut wajah sang ketua geng yang menatapnya tajam.

Bunda buru-buru menyeka air mata putrinya, suaranya berusaha ditenangkan meski ikut bergetar. "Sstt, udah... tenang, Nak. Sekarang kamu aman di sini sama Bunda. Nggak ada yang boleh sakitin kamu lagi. Pelakunya semalam sudah langsung ditangkap dan diproses oleh pihak kepolisian."

Budi Mengelus lembut pundak Ahsana, suaranya mencoba menenangkan "Iya... tarik napas pelan-pelan, San. Jangan dipaksa dulu. Polisi udah tangkap sebagian dari geng motor itu. Mereka nggak akan bisa sakitin kamu lagi. Fokus sama kesembuhan kamu sekarang, ya."

Ahsana Menatap Budi dengan air mata yang menetes, suaranya serak namun penuh ketegasan

"Gue kira gue nggak akan pernah lihat kalian lagi. Waktu mereka culik gue, yang ada di pikiranku cuma, 'Apakah ini akhir hidupku?'  Terus... terus Cakra bagaimana, Bud?’’

Budi Tersenyum menenangkan, meski raut cemasnya masih terlihat jelas "Tenang, Ahsana. Cakra baik-baik saja. Berkat bantuan teman-teman Cakra juga polisi bertindak cepat. Mulai sekarang, lo nggak sendiri. Kita hadapi ini semua bareng-bareng. Ada gue, keluarga lo, dan semua orang yang sayang sama lo."

Mata Ahsana berkaca-kaca, napasnya memburu " Cakra sakit, Bun. Dia pasti maksain diri, kan? Ahsana mau ketemu Cakra, Bun. Cakra di mana sekarang?"

Menggenggam tangan Ahsana, suaranya melembut "Cakra juga dirawat di rumah sakit ini, Ahsana. Di lantai dua. Dia masih belum sadarkan diri karena pukulan di pelipis dahinya."

Ahsana Mencoba melepas infus di tangannya, panik  "Bunda anterin Ahsana ke sana sekarang. Ahsana mau lihat Cakra, Bun!"

Bunda Menahan tubuh Ahsana dengan lembut "Hush, nggak boleh gitu. Kalau kamu nekat, kondisi kamu bisa drop lagi. Dokter bilang kamu butuh istirahat total.’’

Ahsana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang masih tidak beraturan. Perlahan, ia meraih tangan bundanya dan menggenggamnya erat, merasakan kehangatan yang sejak semalam ia rindukan.

Lihat selengkapnya