Bau antiseptik yang menyengat seolah berlomba dengan debar jantung Cakra yang menggila. Pagi ini, di bawah lampu neon lorong rumah sakit yang berkedip pelan, ia melangkah gontai. Kemeja putihnya yang kusut menjadi saksi bisu dari kejadian buruk beberapa jam lalu. Kini, selembar surat pengantar visum di tangannya menjadi satu-satunya kunci untuk mengungkap kebenaran.
"Jadi bagaimana hasil visumnya, Inspektur? Apakah keterangan saya sudah cukup untuk meringkus mereka?"
Inspektur Reza menutup map dokumen sambil tersenyum tipis "Sangat cukup, Cakra. Berkat laporanmu, tim kami berhasil mengidentifikasi markas utama geng motor Akrew. Mereka beroperasi di bekas pabrik tua di pinggiran kota. Beberapa anggota yang terlibat langsung dalam penculikan Ahsana kini sedang dalam pengejaran."
Cakra mengepalkan tangan, napasnya sedikit memburu "Baguslah. Saya harap mereka segera mendapat hukuman setimpal. Mereka telah melukai banyak orang, terutama Ahsana."
Tak lama berselang, Dokter spesialis yang merawat Cakra melintas dan memberikan izin medis yang dinanti-nantikan.
"Cakra, kondisi fisikmu sudah stabil dan hasil visum sudah lengkap di tangan polisi. Kamu sudah boleh meninggalkan rumah sakit sekarang. Tapi ingat, jangan lakukan aktivitas berat dulu untuk beberapa hari ke depan." ujar dokter Reza.
"Baik, Dok. Terima kasih banyak. Saya juga sudah tidak sabar ingin menjenguk Ahsana." ucap Cakra lirih sambil menahan tangis.
"Ahsana? Ah, pasien di ruang mawar itu, ya? Silakan, tapi jangan terlalu lama atau membuat Cakra kelelahan." gumam dokter Reza.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan mengambil salinan berkas medis, Cakra bersama ayahnya segera melangkah menuju ruang perawatan Ahsana. sementara di sampingnya, sang Ayah menatap pintu kamar inap dengan pandangan penuh harap.
Pak Wiliam berbisik pelan, menepuk bahu anaknya ‘’Kuatkan hatimu, Nak. Niat kita di sini hanya untuk mendoakan kesembuhan Ahsana."
Cakra mengangguk pelan, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian. Mereka berdua kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.
Di dalam ruangan bercat putih itu, Ahsana terbaring lemah dengan selang infus menempel di punggung tangannya. Matanya terbuka sayu, namun ada secercah sinar bahagia saat melihat Cakra datang.
Ahsana dengan suaranya serak, mencoba tersenyum ‘’Cakra... Ayah..."
Namun, kehangatan itu seketika pecah saat pintu kamar mandi di dalam ruangan terbuka. Ibunda Ahsana keluar membawa handuk kecil, dan langkahnya terhenti. Wajahnya yang semula lelah seketika berubah pias, lalu mengeras menjadi kobaran emosi. Ia melempar handuk itu ke atas meja dan berjalan cepat menghalangi Cakra dan Ayahnya.
Ibunda Ahsana napasnya memburu, suaranya bergetar menahan amarah ‘’Beraninya kalian menginjakkan kaki di sini?! Keluar! Keluar sekarang juga!"
"Mengangkat tangan dengan gestur menenangkan ‘’Sabar, Bu. Kami datang dengan niat baik. Kami hanya ingin menjenguk dan mendoakan Ahsana" desak pak Wiliam.