ALTAMIS : REVIVAL

Disha Kei
Chapter #19

BAB 18 : Permintaan Sang Raja

Istana kini kembali sepi, setelah beberapa waktu lalu ramai karena kedatangan Ash. Semua orang sedang fokus pada tugasnya masing-masing, menciptakan suasana tenang di sana

Sorie sedang mengembangkan kekuatannya di aula lantai tiga. Ditemani Slaine yang telah berhasil meningkatkan kemampuannya selama bertahun-tahun. Juga bersama Laura, yang terpaksa menjadi objek latihan Aleart.

Berkali-kali api biru dinyalakan di ruangan itu. Laura yang sedari tadi hanya duduk pun merasa bosan, mendapati tak ada perkembangan apa pun dari saudaranya.

“Kau itu berlatih tidak, sih?” Bahkan Laura sampai berkata seperti itu.

Dengan peluh di wajahnya, Sorie nyaris mencengkeram kencang tangan kembarannya itu saking jengkelnya. Bukannya mendukung, dia malah membuat Sorie putus asa. Beruntung Slaine ada di sana untuk menengah.

Sementara itu, Raven dan Chester menyusun strategi lebih sempurna. Siapa yang akan menyerang dari sisi mana, bagaimana kalau tidak sesuai rencana, dan lain-lain. Lalu Raja Selatan dan penasihatnya, sedang berkutat mencari sosok Felis.

Ash berdiri dan menatap kabut hitam yang menutupi pemandangan luar istana itu dari balkon lantai tiga. Sementara Tetra berada di sampingnya, matanya terbuka lebar, memindai lokasi-lokasi yang tak bisa dilihat siapa pun kecuali dirinya. Sebuah kembang api kerlip biru terpasang layaknya lentera di belakang mereka, demi menghalau asap hitam masuk.

Agar bisa melihat melacak dengan mudah, Tetra harus dapat melihat seluruh wilayah kerajaan, tanpa terkecuali. Bangunan istana hanya terdiri dari tiga lantai, tapi masing-masing memiliki langit-langit yang tinggi, sehingga dari lantai tiga saja sudah cukup untuk melihat seisi kerajaan. Tetra pun bisa melaksanakan tugasnya dengan baik di sana.

Penasihat Selatan itu sudah tak berkedip sejak beberapa menit lalu, tapi matanya tak berair sama sekali. Dia terus memindai seluruh kerajaan dan mencari keberadaan gadis itu, sampai ke titik-titik terpencil sekali pun.

“Ah.” Tetra terkesiap. “Aku menemukannya!"

Mendengar seruan itu, bukan hanya Ash saja yang mendekat untuk mengklarifikasi hal tersebut, Sorie yang berlatih juga berlari mendekat.

“Benarkah kau menemukannya?” tanya Sorie.

Tetra mengangguk, “Gadis berambut cokelat tua dikuncir rendah, kan? Aku melihatnya, dan ada sesuatu berwarna hitam yang terpasang di punggungnya.”

Sorie tak kuasa menahan rasa bahagianya, begitu tahu Tetra tidak salah orang. “Itu memang dia! Sampai mengeluarkan sayapnya, memang apa yang sedang dia lakukan?"

“Ada orang lain... di sekitarnya,” ujar Tetra, sedikit menyipitkan mata untuk melihat lebih detail.

"Huh? Siapa yang pergi keluar di tengah asap begini?” tanya Sorie heran, “apa mereka jumlahnya banyak? Bisa jadi itu rekan perampoknya.”

“Tidak, hanya dua,” jawab Tetra, “satu berambut putih... dan yang satunya berambut merah berkacamata.”

---

Bunyi denting logam terdengar keras, mewakili pedang Yuuji yang jatuh ke tanah. Bersama tubuh pemiliknya. Darah mengalir dari tubuh Yuuji yang terkapar, mengubah rumput-rumput kecil di sekitarnya menjadi merah.

Sayap hitam yang tajam nan besar telah menggores hebat perut atas Yuuji. Menciptakan luka sobek yang panjang dan dalam, nyaris mengenai jantungnya. Sampai Yuuji tak bisa bersuara kecuali deru napasnya, saking hebatnya rasa sakit yang dia alami.

Wajahnya yang ternodai darahnya sendiri menghadap pada Kanmaki, memandangnya penuh kebencian. “Kau... akan menyesal...”

“Masih sempat-sempatnya kau bicara dalam keadaan sekarat begitu,” tawa Kanmaki, “tapi sepertinya, membiarkan seseorang mengucapkan kalimat terakhirnya itu tak masalah."

Yuuji menggertakkan gigi geram. Dengan seluruh tenaganya yang tersisa, dia menggerakkan badan perlahan. Tangannya terulur, berusaha meraih pedangnya yang tergeletak tak jauh darinya.

Kanmaki mendengus sebal, mengangkat sayapnya kembali untuk membuat cowok itu mati sungguhan kali ini. “Jangan memaksa seperti itu saat mau mati, Sialan."

Sebuah pedang tiba-tiba terlempar ke arah Kanmaki. Beruntung dia sempat menghindar. Tanpa perlu menengok pun, Kanmaki tahu petarung satunya berada tepat di belakangnya. Sayapnya pun berkelit cepat, menyerang Aleart dari balik punggungnya.

Sayangnya, insting Aleart masih lebih baik darinya. Pengawal itu menghindari ujung sayap hitam dengan baik, lalu berlari cepat meraih pedangnya yang terjatuh beberapa meter di depan.

Tak mau mengulur waktu lebih banyak, Aleart langsung menyerang Kanmaki setelahnya. Gerakannya sangat cepat, membuat Kanmaki hampir saja tak bisa menahannya.

Hati Aleart merasakan sakit yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Ketika dirinya melihat apa yang terjadi pada Yuuji dengan mata kepala sendiri. Semua perasaan sakitnya meluap dalam ayunan pedangnya, mengeluarkan tebasan demi tebasan yang sangat cepat.

Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah membunuh musuh ini. Mau itu tubuh si gadis perampok atau apa pun, dia tak peduli. Dia sama sekali tak memaafkannya, tak akan membiarkan orang berotak licik ini masih hidup di hari esok.

Kanmaki tersenyum tanpa menghentikan gerakan pedangnya, menangkis bertubi-tubi dari Aleart. “Jika kau bertarung dikendalikan oleh emosi, gerakanmu akan berantakan, lho. Dan kau akan bernasib sama seperti teman—ukh!”

Pedang Aleart menusuk pundak Kanmaki sebelum dia selesai berkata-kata. Darah segar memancar dari luka tersebut, menutup pandangannya dari Aleart.

Kanmaki terkesiap, tak menyangka akan ada serangan Aleart yang berhasil lolos darinya. Aleart yang termakan emosi itu rupanya tidak berantakan seperti yang dia katakan. Justru perasaan yang meluap-luap itu membuat Aleart menjadi lebih kuat.

“Tutup mulut besarmu, Makhluk Aneh!” desis Aleart.

Mata Kanmaki belum sempat berkedip ketika menangkap tinju Aleart terarah padanya. Gerakan Aleart benar-benar lebih cepat dari sebelumnya.

Seluruh tenaganya Aleart kerahkan pada tinju itu, yang mendarat telak di wajah Kanmaki. Tubuhnya yang baru mau pulih menjadi limbung kembali. Tanpa membiarkan kesempatan ini lewat, Aleart langsung memberi tendangan telak pula di perutnya.

Saking kerasnya tendangan Aleart, pohon tempat Kanmaki mendarat sampai berbunyi, ranting-rantingnya nyaris patah.

Setelah mengatur napasnya yang menderu kencang selama bergerak cepat tadi, Aleart berbalik untuk menghampiri Yuuji. Dia tak tahu berapa lama serangannya akan berefek pada Kanmaki. Itulah mengapa dia harus cepat-cepat membawa Yuuji pergi, sebelum makhluk buas itu bangkit kembali.

Aleart menarik tubuh Yuuji, melingkarkan tangan temannya itu di pundaknya. Tubuh Yuuji sudah tak bertenaga sama sekali, bahkan untuk berdiri sekalipun. Yang artinya, Aleart hanya bisa bergantung pada kekuatan tubuhnya sendiri.

Beban tubuh Yuuji membuatnya tak bisa berlari kencang. Setiap langkahnya terasa berat, membuatnya kesulitan.

“Aleart...” Yuuji sadar temannya itu sudah melebihi batas kekuatannya untuk membawanya. “Biarkan saja aku. Pergi ke istana dan panggil yang lain. Jika tidak, orang itu akan—”

“Kau pikir aku bisa meninggalkanmu di sini?!” potong Aleart setengah berteriak, “jangan sok-sokan lembut di saat-saat begini! Aku tak akan pergi ke mana pun tanpamu!"

Yuuji merasa haru atas sifat setia kawan Aleart, tapi hatinya tak lega begitu saja. Andai kakinya bisa bergerak sedikit saja, dia bisa meringankan beban Aleart. Kalau begini jadinya, mereka tak akan punya waktu yang cukup. Untuk bisa pergi dari hadapan Kanmaki.

“Mau lari ke mana kalian, hoi?”

Aleart menengok ke belakang dengan mata melotot. Kanmaki sudah berada tiga meter di belakangnya. Yang dia angkat bukan tinjunya, melainkan sayap tajamnya. Dalam hitungan detik, ujung runcing itu akan memenggal dua kepala sekaligus.

Jika saja seseorang tak datang tepat waktu.

Semburan air menimpa sayap Kanmaki, menghapus keberadaannya yang sudah sejengkal di depan mata Aleart. Kanmaki menggerutu kesal, mengutuk orang yang telah menganggu kesenangannya ini.

“Syukurlah kami belum terlambat.”

Suara Sorie terdengar bersamaan dengan menghilangnya lingkaran api biru miliknya. Kanmaki maupun Aleart sama sekali tak menyadari kedatangan mereka, dikarenakan sekitar mereka sudah diterangi cahaya biru.

Kanmaki menelan ludah melihat siapa saja yang datang menghampiri mereka itu. Sorie berdiri di samping Raven yang siap siaga dengan air besar di tangannya, Chester di belakang mereka, bersama Slaine, Ash, dan Tetra.

Jumlah mereka sebenarnya tak membuat Kanmaki gentar. Yang muncul di pikirannya adalah bagaimana mereka semua bisa datang di sini. Asap hitam pekat di mana-mana, cahaya kembang api kerlip biru tak mampu menembusnya sampai berkilo-kilometer. Lalu kenapa mereka bisa datang menolong mangsanya ini?

“Kau pasti bertanya-tanya kenapa kami bisa menemukanmu, kan?” tanya Sorie seolah bisa membaca pikiran Kanmaki, “beruntung kami punya rekan yang bisa membantu."

Kanmaki tertegun. Tanpa dijelaskan lebih lanjut pun, dia tahu kalau Sorie sedang membicarakan soal bantuan dari luar. Matanya menangkap dua sosok yang belum pernah dilihatnya di istana Negeri Utara sebelumnya. Dia ingat betul sudah menyobek surat untuk Negeri Barat dan Timur. Yang artinya, dua orang yang ada di belakang itu adalah...

"Utusan Negeri Selatan?”

Seringai lebar di wajah Sorie menjawab pertanyaan Kanmaki. Terkejut memang, tapi hal itu tidak membuat Kanmaki gentar. Walaupun membantu, negeri tetangga itu hanya mengirim dua orang.

Melihatnya, Kanmaki teringat oleh Felis. Jika gadis itu terbangun dan mendapati kedua utusan itu di hadapannya, entah seperti apa perasaannya nanti. Pasti keduanya langsung dihajar habis-habisan.

Lihat selengkapnya