“Ugh!”
Raven mengerang ketika kepalanya terbentur di jalanan. Entah siapa yang tiba-tiba menghantamnya ini, benar-benar kurang ajar, pikirnya.
Sebuah pistol terarah padanya, menghambatnya untuk bangkit. Ujung logam yang dingin menyentuh dahinya. Memaksanya untuk bertatap muka dengan orang yang telah memisahkannya dari pegawai lain.
"Akhirnya aku menemukanmu, Pendusta.”
Mata Raven seketika membelalak lebar. Dalam pantulan matanya, terlihat jelas siapa yang ada di hadapannya. Gadis berambut hitam panjang dengan mata semi-hitam yang sama persis seperti milik Raven. Seseorang yang sangat tak Raven percayai bisa ada di sini, sedang menahan tubuhnya kuat-kuat.
Dengan suara bergetar, Raven berkata pelan, “Kau... Riisa?”
"Mana tanggung jawabmu empat tahun yang lalu, hah?!” sembur Riisa, “meninggalkan adikmu seorang diri bersama ayah yang tak lagi waras, sementara kau hidup enak di sini?!”
Raven menelan ludah. Sudah dia duga pasti akan terjadi yang seperti ini.
“Apa kau sudah tak peduli denganku?! Jika iya, kau seharusnya bilang saja dari awal... kalau kau memang berniat meninggalkanku!” Riisa membentak.
Gadis itu hendak menarik pelatuknya, tapi Raven lebih dulu mengeluarkan kekuatannya. Dia hantam gadis itu ke samping dengan airnya.
“Kau berniat membunuhku?!” tukas Raven yang segera bangkit.
Riisa terbatuk karena wajahnya sempat tenggelam dalam air. Tangannya menggenggam pistolnya kembali, berdiri empat meter di depan Raven. Tatapannya sangat sinis, menusuk siapa pun yang melihatnya.
“Memang kenapa? Jangan harap aku memberi belas kasihan pada orang yang memberikan janji palsu,” tukas Riisa.
“Kau tak tahu situasinya! Jangan salah pa—”
Pistol Riisa terangkat, ujungnya terarah pada Raven. “Seorang pendusta tak pernah mau mengakui kesalahannya. Setelah kau melakukan semua itu padaku, kau pikir aku bisa memercayaimu lagi?!”
Kata-kata Riisa benar-benar menampar Raven. Sakit hatinya mendengar itu, tapi semuanya adalah kenyataan.
Tentang bagaimana dia meninggalkan gadis itu di saat masih kecil, berkata padanya bahwa dia akan kembali. Namun nyatanya, janji yang dia berikan hanyalah harapan kosong.
Raven tak pernah kembali. Pada Riisa yang tak berhenti menunggu kepulangannya.
“Bukannya kau seorang kakak?!” Riisa berseru lagi. “Seharusnya paham situasi, kan?! Bagaimana keadaan rumahmu waktu itu?! Ibu pergi, ayah kehilangan harapan, kita miskin dan nyaris mati! Kau pergi dengan dalih mencari uang, tapi nyatanya tak pernah pulang. Apa seperti itu sikap seorang anak sulung?! Seperti itu tanggung jawabmu?!”
Tangan Riisa yang memegang pistol gemetar, seiring air matanya keluar dari pelupuknya. Gadis itu terisak, tapi matanya masih menyiratkan kemarahan yang tak kunjung reda. “Sampai kapan pun... bahkan jika aku mati sekalipun... aku tak akan pernah memaafkanmu!”
Mendengar itu, Raven hanya mematung. Dari dalam dirinya, dia ingin sekali membantah dan menanyakan kenapa adiknya bisa berada bersama komplotan perampok. Tapi lidahnya kelu untuk bicara.
Entah apa yang harus dia lakukan sekarang, mau dia berargumen sebanyak apa pun, rasanya tak akan bisa meredakan amarah adiknya yang sudah lama tidak dia temui.
“Benar-benar pertemuan keluarga yang hebat, ya.”
Ketika telinganya menangkap suara lain, Raven sontak berbalik. Dalam sekejap mata, Levie melesat melewatinya seraya mengayunkan pedang. Raven dasarnya bukan petarung jarak dekat. Gerakan tiba-tiba itu tak bisa dia hindari, membuat bahu kirinya tergores.
Kaki Raven melayang ke arah Levie, tapi cowok itu lebih cepat menghindar. Levie berdiri di samping Riisa, tersenyum pada penasihat itu sambil memainkan pedangnya.
“Riisa, aku tahu sebagaimana kompleksnya hubunganmu dengan kakakmu.” Levie berkata di telinga gadis itu, menepuk-nepuk pundaknya. “Tapi ingat, kita di sini bukan untuk mengurusi hal pribadi.”
Riisa menukas, “Aku tak lupa, kok!”
Raven menatap Levie lamat-lamat, lalu berkata, “Rasanya aku pernah melihatmu sebelumnya.”
“Ah, ya. Kau mungkin tak mengenalku saat kita bertemu dulu. Aku hanyalah anak yatim piatu yang ditelantarkan di jalan, rasanya tak punya harapan. Tapi, kau tahu, adikmu ini membuatku memiliki alasan untuk hidup,” tutur Levie, “kau pernah mengusirku saat aku berusaha menghampiri adikmu karena keadaanku. Tapi berkat kepergianmu itu, aku bisa hidup bersama Riisa. Mungkin sebaiknya aku berterima kasih padamu.”
Ingatan Raven kembali begitu Levie mengatakan semuanya. Meski sudah bertahun-tahun lamanya dan itu bukan kenangan berharga untuknya, dia masih mengingatnya. Ketika seorang anak dengan pakaian lusuh dan kotor mendekati adiknya yang berada di depan rumah. Tak disangka bocah itu kini tumbuh sedemikian rupa.
“Kenapa kalian mencegatku seperti ini?” tanya Raven kemudian, sadar akan masalah utamanya, “kalian sengaja menjauhkanku dari Kanmaki, ya?”
Levie menyeringai, “Apalagi kalau bukan itu. Kekuatanmu sangat merugikan sayap hitam yang Felis miliki. Tak akan kubiarkan kau menghalangi jalan ketua kami.”
“Ketua kalian?” Raven mengernyitkan dahi. “Sadar, hoi! Gadis itu sudah tak ada lagi di tubuhnya! Yang kalian lihat adalah makhluk berasap i—”
“Kami tahu, kok.”
Raven tersentak. Tatapan Levie tajam terarah pada Raven, menandakan betapa inginnya dia mencabik-cabik penasihat ini dengan pedangnya.