ALTAMIS : REVIVAL

Disha Kei
Chapter #21

BAB 20 : Sayap Hitam yang Mengamuk

Sungguh, ini bukan situasi yang menguntungkan bagi Raven.

Menghalau peluru Riisa adalah hal mudah baginya. Cukup menciptakan lapisan air tebal maka peluru itu akan terjebak di dalamnya. Yang menyulitkan adalah Levie, pengguna pedang yang sangat lihai ini.

Meskipun kemampuannya tidak seunggul Aleart, Levie masih bisa menghindar dari tembakan air Raven. Sesekali memang dia terpeleset, tapi itu tak membuatnya tumbang begitu saja.

Tanpa senjata logam yang sama seperti lawannya, Raven pun hanya menghindari dengan mengandalkan insting dan gerakannya. Pedang Levie sempat menggores wajah dan lengan Raven walau hanya goresan kecil.

Entah sudah berapa lama dia habiskan waktu untuk meladeni adiknya dan cowok perampok ini. Raven sendiri tahu, dia punya kewajiban yang harus dilakukan.

Sayap Kanmaki. Benda itu tak akan hancur kecuali dengan kekuatannya.

Teman-temannya pasti sudah berhadapan dengan makhluk itu tanpa dirinya. Tentu mereka akan kesulitan. Ingin sekali dia segera menyusul, tapi Levie sama sekali tak membiarkannya pergi.

Trang!

Raven terkesiap. Levie apalagi.

Tiba-tiba saja ada pedang lain yang menahan pedang pendek Levie. Seorang lelaki berambut pirang berdiri di hadapan Raven yang masih terkaget-kaget.

“... Tetra?”

“Beruntung aku menemukanmu.”

Tangan Tetra mencengkeram kuat pedangnya, berusaha menahan dorongan Levie.

“Pergilah, semuanya membutuhkanmu,” kata Tetra, menoleh pada Raven, “aku akan mengurus yang ini.”

Raven mengangguk. Tanpa berpikir apa pun lagi, dia langsung berlari meninggalkan area itu. Menyerahkan semuanya pada rekan sesama penasihat itu.

Telinganya sempat mendengar suara langkah Riisa yang hendak mengejarnya, tapi dihadang oleh Tetra. Raven tak perlu mengkhawatirkannya. Tetra adalah petarung jarak dekat, orang yang cocok untuk situasi ini.

Selagi kakinya bergerak makin cepat, Raven hanya bisa terus berharap. Semoga dia bisa datang tepat waktu.

---

Kanmaki tak henti-hentinya menghantam jalanan. Menyebabkan makin banyak rumah yang tak sengaja terkena sayap hitamnya.

Aleart dan Ash maju menerjang Kanmaki. Sulit memang dengan sayap runcing itu menghantui mereka, tapi kalau mereka memilih menunggu Raven, keadaan akan lebih parah.

“Berani sekali kalian menyerangku langsung seperti ini! Sayap hitamku masih ada, lho! Ingat itu!” tukas Kanmaki.

Salah satu sayap nyaris menusuk kepala Aleart, kalau dia terlambat menghindar sedetik saja. Aleart mendecak. Sayap itu benar-benar mengganggu. Padahal Aleart sudah hampir menebas Kanmaki barusan.

Ash pun mengalami masalah yang sama. Terganggu dengan kekuatan asap Kanmaki. Kemampuan berpedangnya sebenarnya sudah tak perlu diragukan lagi, Aleart pun mengakuinya. Hanya saja asap hitam membuat ruang geraknya menyempit.

Biasanya pihak yang memiliki jumlah banyak bisa mendapat kesempatan menang lebih besar. Tapi ini justru kebalikannya.

Bum!

Aleart berguling ke belakang demi menghindari hantaman sayap hitam. Dia tahu gerakan sayap Kanmaki itu sempat merusak rumah warga, karena itu dia berusaha tidak menghindar terlalu dekat dengan deretan rumah.

"Sial, dia tak memberi waktu kita untuk bernapas sekalipun!” dengus Aleart, melihat sayap itu kembali berkelit ke arahnya.

Ash membalas, “Kalau saja kita bisa menebasnya bersamaan, dia akan terpukul mundur. Tapi jangankan itu, mendekatinya saja susahnya minta ampun.”

“Anda benar. Kita pun tak punya kesempatan untuk menyerangnya dari sisi lain.”

Lihat selengkapnya