ALTAMIS : REVIVAL

Disha Kei
Chapter #22

BAB 21 : Kesempatan Akan Selalu Ada

Suara gemuruh mengusik telinga Tetra, membuatnya memandang ke kejauhan. Pikirannya langsung tertuju pada teman-temannya yang sedang menangani Kanmaki di balik asap sana.

Terjadi sesuatu, ya? batinnya, yah, setidaknya aku bisa kembali bergabung setelah ini.

Tetra mengibaskan tangannya, membersihkan noda darah yang menempel pada kuku-kuku panjangnya. Keputusan yang sangat sempurna menukar posisi Raven dengannya. Begitu dia yang turun tangan, semuanya selesai tak sampai lima menit.

Mata tajam Tetra memandangi dua orang yang terkapar di hadapannya, penuh luka di sekujur tubuh. Si perampok tangguh Levie dan kawannya Riisa, keduanya tumbang dengan mudah di tangannya.

“Kuakui kemampuan bertarungmu hebat, Perampok. Kalian bisa bekerja sama dengan baik.” Tetra terkekeh, kuku-kuku panjangnya menyusut. “Tapi satu kesalahan kalian. Terlalu meremehkan pegawai kerajaan tingkat atas.”

“Sehebat apa pun kalian, tetap saja tak ada apa-apanya di hadapan kami. Ingat itu.”

Diambilnya kembang api kerlip biru yang dia letakkan di tanah sebagai penerangan pertempurannya, sebelum menyusul rajanya dan juga rekan-rekan lainnya.

“Tunggu.”

Langkah Tetra terhenti.

Dengan kondisi yang babak belur, luka tebas di punggung dan bekas gigitan di leher yang masih mengeluarkan darah, Levie berusaha menggerakkan kepalanya. Tetra tertegun. Ternyata yang satu ini belum kehilangan kesadarannya. Bahkan masih sanggup bicara.

“Apa... yang akan kalian lakukan... pada ketua kami?” tanya Levie, meringis menahan sakit.

“Hmm... dia telah menggunakan kekuatan besar Kanmaki, menjadikannya sekutu, membuat repot kerajaan ini,” Tetra tampak berpikir, “mungkin dia akan dibunuh.”

“Tolong jangan bunuh dia!” pinta Levie, suaranya terdengar bergetar, “dia memang melakukan sesuatu yang sangat buruk bagi kalian, tapi kumohon... jangan bunuh dia...”

Tetra hanya terdiam, tak menjawab barang satu kata pun.

Levie menunduk, suaranya makin pelan, “Jangan bunuh... ketua.. kami...”

Tepat setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, kepala Levie terjatuh lemas. Bersamaan dengan menutupnya kelopak matanya. Kesadarannya sudah hilang.

Tanpa peduli mau bagaimana mereka setelahnya, Tetra membalikkan badan. Meskipun korbannya terluka parah seperti itu, dia yakin mereka akan bertahan sampai semua masalah ini selesai. Tetra pun segera pergi menuju tempat dia seharusnya berada, meninggalkan dua perampok yang kini tak berdaya itu.

“Ketua kalian tak akan mati, Perampok. Raja Utara tak akan membiarkan hal itu.”

---

"Altamis, ya? Hahahahha....”

Ingin rasanya Aleart mencabut mulut besar Kanmaki dan menggorok lehernya. Dari tadi nyaris tak ada semenit pun berlalu tanpa tawa Kanmaki. Tawa yang dapat menggerogoti telinga dan pikiran yang mendengarnya.

Tidak secara langsung memang, tapi hanya dengan tawa itu, Kanmaki bisa memberi tekanan besar kepada semua lawannya. Persis seperti gadis perampok itu. Mereka sama-sama berusaha menggoyahkan mental lawannya setiap bertarung.

Keadaan bertambah sulit. Kanmaki telah meningkatkan kemampuannya. Tapi kerajaan kehilangan para petarungnya. Chester, Slaine, dan Ash entah tertimbun di mana. Menyisakan Aleart yang kondisinya juga tak bisa dibilang baik.

Kemenangan yang sebelumnya sudah berada di depan mata, sekarang justru makin jauh untuk diraih. Seolah tak mau berpihak pada mereka.

“Hei, Pengawal! Dalam kondisi itu, kau mau melawanku yang baru saja berkembang? Pasti yang tadi itu hanya gertakanmu saja, bukan? Karena sekarang kau hanya bisa berkata-kata, tak lagi mampu—”

Aleart melesat cepat sambil mengangkat pedang.

“Mana yang kau sebut gertakan, hoi?”

Bunyi keras terdengar begitu pedang Aleart menghantam milik Kanmaki. Mata Kanmaki melotot, tak percaya pengawal itu bisa mendekatinya begitu saja tanpa takut dengan apa pun. Padahal empat sayap itu masih berkeliaran seperti monster di sekitarnya.

“Kau gegabah sekali, ya,” ujar Kanmaki tepat di depan wajah Aleart, “berada sedekat ini denganku sama saja memanggil maut, lho.”

Keempat sayap itu berkelit cepat menuju Aleart, siap menelannya hidup-hidup. Kalau hanya satu atau dua sayap, Aleart mungkin bisa menghindar. Tapi kini keempat benda tajam itu menerjangnya bersamaan, bersiap menelannya.

Semburan air muncul dari belakang, menghancurkan empat sayap itu sekaligus. Aleart dan Kanmaki sama-sama terperanjat.

“Aleart!” Raven berdiri di tengah-tengah reruntuhan rumah itu, berteriak memanggilnya.

Aleart menengok, “Rav—”

Tinju Kanmaki mendarat di wajah Aleart, membungkam mulutnya. “Jangan mengalihkan perhatian saat sedang bertarung, Pengawal.”

Pukulan Kanmaki tak main-main. Aleart terlempar cukup jauh, terguling sampai ke hadapan Raven.

“Hei, kau tak apa?!” Raven panik dan buru-buru membantu Aleart berdiri.

“Ya,” jawab Aleart sambil berusaha berdiri tegak, “beruntung kau datang tepat waktu.”

Raut wajah Raven mengeras, tampak penyesalan di matanya, “Ini tidak tepat waktu.”

Kondisi yang dilihatnya begitu sampai sini sangat menyayat hatinya. Mendapati semuanya sudah hancur, nyaris rata dengan tanah di tengah kegelapan. Asap Kanmaki yang tebal ini membuatnya kesulitan mencari jalan, apalagi dia terjatuh dari batang Chester tanpa membawa satu kembang api pun.

Dirinya berharap tidak terlambat, tapi takdir berkata lain. Raven hampir kehilangan harapan ketika para rekan pegawainya tak terlihat lagi sosoknya. Tapi kemudian dia melihatnya.

Seorang yang bahkan tak punya kekuatan kerajaan, tapi masih sanggup berdiri membela negaranya.

“Memang banyak yang telah terjadi saat kau tak ada, tapi ini belum sepenuhnya terlambat, kan?” kata Aleart, membangkitkan kembali semangat Raven, “mungkin tinggal kita berdua yang tersisa sekarang, tapi bukan artinya kesempatan kita hilang.”

Melihat Aleart yang tersenyum padanya, Raven pun turut menyunggingkan senyum. Ucapan Aleart yang penuh optimisme telah menghalau semua keraguan dalam hati Raven. Membuat lelaki itu percaya bahwa kemenangan masih bisa mereka raih.

“Kalian ini menjengkelkan sekali!” hardik Kanmaki, geram melihat ada satu lagi yang muncul. Juga karena semangat mereka yang tak sedikit pun padam meski musuhnya lebih kuat.

Empat sayap Kanmaki kembali bergerak layaknya hewan buas yang hendak memangsa makanannya.

Gelembung air di tangan Raven perlahan membesar, makin besar sampai ke ukuran yang tak pernah dijangkaunya. Dia tahu kekuatan Kanmaki tak lagi sama, jadi tak mungkin dia menggunakan level kekuatan yang biasanya.

Kalau Kanmaki bisa berkembang, dia pun harus melakukan hal yang sama.

Tangan kanan Raven menghempas ke depan, mengirim pasukan airnya untuk menghadang sayap Kanmaki. Bersamaan dengan itu, Aleart memacu larinya. Pedangnya dicengkeram kuat, siap beradu dengan pedang Kanmaki lagi entah untuk yang kali keberapa.

Air Raven seharusnya mampu menghancurkan bentuk sayap Kanmaki. Benda itu akan langsung berubah menjadi asap bebas begitu mengenainya. Seharusnya begitu, tapi kali ini tidak.

Sesuai dugaan Raven, sayap itu bukan hanya bertambah jumlahnya, tapi kekuatannya juga. Sayap itu kini bisa mempertahankan bentuknya walau sudah terkena semburan air.

Meskipun kekuatannya juga sudah ditingkatkan, airnya tak bisa memukul mundur sayap itu langsung. Terjadi dorong-mendorong antar keduanya. Seolah keduanya benda padat, sayap hitam dan semburan air Raven saling menghantam, beradu kekuatan.

Kanmaki melirik Raven dan terkekeh keras, “Bagaimana, kekuatan sayapku ini? Yang kau lihat sebelumnya itu hanya permukaannya saja, inilah kekuatanku yang sebenarnya. Pada akhirnya, airmu pun tak bisa mengalahkannya. Tak ada yang satu pun yang bisa mengalahkannya!”

Sudah menjadi taktik khas Kanmaki menyulut perasaan lawannya itu. Baginya mulut itu juga merupakan senjata pamungkas dalam peperangan. Hanya dengan ucapan-ucapannya, dia mampu membuat lawannya tertekan, lalu terjatuh dalam ketakutannya sendiri.

“Jangan berhenti, Raven! Teruslah berjuang!”

Lihat selengkapnya