ALTAMIS : REVIVAL

Disha Kei
Chapter #23

BAB 22 : Langkah Terakhir

“Apa-apaan ini...?”

Para pengawal senior yang datang bersama Sorie tercengang melihat pemandangan di hadapan mereka. Segera saja mereka turun tangan, membantu para pegawai tingkat atas.

Sebagian membawa Raven dan Tetra kepada Mia yang juga datang untuk memberikan pengobatan, sebagian lagi membantu Chester dan dua orang lainnya yang terjebak di reruntuhan. Laura yang memaksa ikut untuk melihat kondisi Ash menjerit begitu tahu tunangannya tertimbun rumah warga yang hancur.

Ternyata Raven langsung mengabarkan Sorie begitu Aleart berhasil menumbangkan Kanmaki, pergi ke istana dengan bagian bandul teleportasi yang dibawanya. Aleart tak menyadarinya karena terlalu fokus dengan Kanmaki.

Sorie terkejut bukan kepalang melihat kondisi Raven yang datang kepadanya. Dia pun langsung memanggil Mia dan beberapa pengawal lainnya untuk ikut pergi bersamanya.

Keadaan ini cukup membuat panik, tapi Sorie tak melupakan tugasnya. Di saat yang lainnya mengurusi pegawai yang terluka, Sorie menghampiri Kanmaki yang sudah terkapar tak berdaya.

Sorie sejujurnya tak yakin Aleart bisa mengalahkan Kanmaki. Tapi sekarang dia tahu. Tak ada alasan untuknya meragukan kemampuan calon Altamis-nya itu. Dia pun tersenyum bangga pada Aleart yang juga balas tersenyum, sebelum dia berlutut di sebelah Kanmaki.

“Kau pasti datang untuk memusnahkanku... kan? Seperti halnya pedang raksasa penyegel kekuatan itu, milikmu juga bisa digunakan untuk melenyapkan kekuatan lain,” ujar Kanmaki pelan.

Sorie tak menyangka Kanmaki tahu tujuan kedatangannya. Lelaki ini mungkin sudah menyimpulkan itu sejak pertama kali melihat kekuatan Sorie. Wajar saja, dia adalah orang yang setara dengan leluhur pertama.

Kanmaki menatap Sorie, berkata dengan suara yang nyaris hilang, “Kau... benar-benar mirip dengan orang itu. Jagalah kerajaan yang telah dibangunnya ini baik-baik, Raja Utara. Jangan biarkan leluhurmu kecewa setelah ini.”

“Ya.” Sorie menjawab. “Itu pasti.”

Setelah memastikan Kanmaki tak mengatakan apa-apa lagi, Sorie memegang pundaknya.

Kyouran.

Lingkaran putih muncul di sekitar Sorie dan Kanmaki, mengawali proses pemusnahan ini. Tangan Sorie terkena darah yang menodai sebagian pakaian Kanmaki, tapi dia tak mempermasalahkannya. Selama tak menganggu pekerjaannya.

Sorie melihat Kanmaki memejamkan mata, menunggu waktu kepergiannya. Yang dilenyapkan oleh Sorie memang kekuatannya, tapi itu berarti jiwa Kanmaki juga hilang, karena bersatu dengan kekuatannya.

Artinya, Kanmaki akan mati sungguhan kali ini.

“Atas nama Raja Utara, Sorie, dengan kekuatan kerajaanku, akan kumusnahkan kekuatan yang ada di dalam tubuh ini. Sikki!

Api biru berkobar mengelilingi keduanya. Aleart yang berada di dekat mereka terkena efek angin kencangnya, nyaris terjungkal ke belakang.

Tubuh Felis yang digunakan Kanmaki perlahan bersinar. Kekuatan Sorie mulai melenyapkan kekuatan Kanmaki. Asap hitam keluar perlahan dari tubuh Felis, seperti tersedot ke udara, lalu menguap dengan sendirinya.

Aleart terpana melihatnya. Begitu pula para pengawal dan pegawai lain yang sedang sibuk di belakang. Mereka terpaku sejenak, turut memandangi cahaya terang itu.

Satu menit hampir terlewati, tapi kekuatan Kanmaki belum musnah sepenuhnya. Sorie menggertakkan gigi, menahan tekanan yang cukup besar selagi dia menguatkan cengkeramannya pada bahu Felis.

Entah ada apa sebenarnya, tapi Sorie bisa merasakannya. Ada yang menahan Kanmaki untuk pergi dari tubuh Felis.

 

“Felis... Felis!”

Felis mengerjap. Dia merasa sudah membuka mata, tapi sekitarnya masih gelap gulita, membuatnya panik seketika. Napasnya tak beraturan, tangannya menggapai-gapai mencari cahaya.

Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Felis berteriak kaget dan langsung berbalik. Pada saat itulah kepanikannya hilang seketika.

Di hadapannya, ada seorang lelaki yang tengah berlutut, menatap Felis dengan mata ungunya. Tubuh orang itu bersinar. Rambutnya berwarna perak, terpotong rapi tepat di bawah telinga, dengan poni menjuntai di samping kanan-kiri wajahnya. Kulitnya sedikit pucat, tapi itu tak mengurangi karisma yang terpancar di wajahnya.

“Kau... siapa?” tanya Felis takut-takut, “di mana aku?”

Bukannya menjawab, orang itu malah berkata hal lain. “Maafkan aku. Aku tak bisa mewujudkan tujuan kita.”

Felis tertegun. Dari bahasannya, dia sepertinya tahu siapa orang ini. “.... Kanmaki?”

Sungguh, wajahnya tak seperti orang yang hendak menghancurkan seluruh kerajaan.

Kanmaki tertawa kecil, “Yah, aku terlalu naif sebelumnya. Negeri Utara lebih kuat dari yang kukira. Selama ini, aku menganggap kekuatan adalah yang paling penting, tapi ternyata tidak. Seorang sekutu memang diperlukan, seperti katamu, Felis.”

“Semuanya membukakan jalan untuknya, membantunya agar bisa terus maju.” Kanmaki teringat sosok Aleart yang berduel sengit dengannya. “Orang itu... rupanya lebih tangguh dari dugaanku. Dia benar-benar prajurit yang hebat.”

Felis medengar cerita Kanmaki dengan seksama, menyadari apa yang telah terjadi.

“Kau gagal... artinya, aku ma—”

“Tidak, tidak. Mereka membiarkanmu hidup, Felis,” potong Kanmaki, “hanya saja, mereka melenyapkanku.”

“Lenyap.. maksudmu, kau akan...”

"Ya, maafkan aku sekali lagi. Karena tak bisa meraih impian kita.”

"K-kau... sungguhan akan hi—”

Tangan Kanmaki terulur, meminta Felis untuk menjabatnya.

Lihat selengkapnya