"Kita akan bertemu lagi setelah ini, Yuuji.”
Rasanya dia belum lama memejamkan mata, tapi entah kenapa Aleart merasa pegal ketika membukanya. Matanya perlahan terbuka, memperlihatkan langit-langit sebuah ruangan. Pandangannya masih remang-remang pada detik-detik awal, jadi dia tak tahu di mana dia berada.
Hingga pada detik kelima, langit-langit ruangan itu tampak jelas. Aleart menghela napas lega. Rupanya dia berada di ruang perawatan istana.
Aleart langsung terbangun tegak setelahnya dengan mata terbuka lebar. Rasa sakit di punggungnya masih terasa nyeri, tapi bukan itu yang menjadi masalahnya sekarang.
Selama dia tak sadarkan diri, benaknya tak berhenti memperlihatkan sosok Yuuji.
Waktu itu, Aleart mendadak terjatuh dan pingsan di hutan, tanpa sempat menginjakkan kaki di istana. Dia tak tahu apa-apa lagi setelahnya. Bahkan tak sempat melihat Yuuji, orang yang paling ingin dia temui saat itu.
Berapa lama matanya terpejam? Sorie bilang waktu itu Yuuji menunggu, tapi apakah sahabatnya itu masih bertahan hidup sampai sekarang?
Aleart membuka tirai yang ada di sampingnya. Tirai itu membatasi satu pasien dengan pasien lainnya di ruang perawatan. Begitu tirai di kanannya terbuka, Aleart hanya menangkap ranjang kosong. Tak ada siapa pun di sana. Dia pun membuka tirai di samping kirinya juga, berharap ada Yuuji di sana. Namun ternyata, hasilnya sama saja.
“Oh, Aleart! Syukurlah kau sudah sadar!”
Mia yang baru masuk ruangan itu tersenyum senang, bergegas menghampiri Aleart. Raut wajahnya tampak sangat lega.
“Kau tahu, sudah setengah hari kau pingsan dan Yang Mulia Sorie sangat mengkhawatirkanmu—”
“Di mana Yuuji?!” Aleart memotong ucapan Mia dengan wajah penuh kekhawatiran.
Mendengar Aleart menyebut nama itu, Mia terdiam. Dia kemudian menunduk, seolah tak mau mengatakannya. Tentu hal itu membuat Aleart makin panik. Pikirannya sudah kemana-mana.
“Yuuji... ada di sini.” Mia akhirnya beranjak pergi, membawa Aleart bersamanya. Luka di punggungnya kini tak terasa lagi, membuatnya bisa langsung bangkit dan berjalan.
Keduanya berjalan menuju ranjang yang berada di paling pojok. Mia pun membuka tirainya, membiarkan Aleart melihatnya sendiri.
Aleart membulatkan mata. “Raja Sorie?”
Yang pertama dilihat Aleart adalah rajanya yang sedang duduk di sebelah ranjang. Sorie menengok dan tersenyum padanya. Namun, Aleart tahu. Senyum yang terlukis di wajah Sorie tidak seperti biasanya. Aleart bisa melihat perasaan lain di balik senyum itu.
Melihat raut wajah Sorie, meskipun raja itu sedang tersenyum, pikiran Aleart makin tidak karuan. Dia bergerak mendekat, melihat kondisi sahabatnya.
“Raja, bagaimana kondisi Yuu...”
Tubuh Aleart membeku. Langkahnya seketika terhenti. Mata birunya melebar, memantulkan bayangan Yuuji yang tertidur di atas ranjang.
Yuuji terbaring di hadapannya. Matanya terpejam. Dadanya lemas, tak bergerak. Aleart pandangi sekali lagi, takut dia salah lihat. Tapi sekian detik berlalu, hasilnya tetap sama. Dada Yuuji tak lagi naik-turun. Lelaki itu sudah tak lagi bernapas.
Aleart membuka mulutnya yang gemetar, suaranya terdengar parau, “Hei... ini tak mungkin, kan... Yuuji...”
Cowok itu merangsek maju, tak memedulikan Sorie yang ada di dekatnya. Tangannya mencengkeram bahu Yuuji, mengguncangnya pelan. “Hei, Yuuji! Ini aku, Aleart!”
Namun, mau berapa kali pun Aleart mencoba membangunkannya, Yuuji tak akan pernah bangun.
“Aleart.”
Sebuah tangan lembut memegang lengan Aleart. Dia menoleh, mendapati rajanya sedang menatapnya dalam. Sorie tak berkata apa-apa, tapi lewat tatapannya, dia berusaha menguatkan Aleart. Berusaha membuatnya dapat menerima kenyataan, bahwa sahabatnya itu sudah pergi.
Aleart pun melepas tangannya dari bahu Yuuji. Pundaknya melemas, selagi matanya menatap sayu ke arah sahabatnya. Dipandanginya wajah itu, mengingatkannya pada terakhir kali dia melihat Yuuji tersenyum padanya.
Dia sendiri yang berkata pada Yuuji kalau mereka akan bertemu kembali. Tapi takdir berkata lain. Yuuji pergi tanpa melihat Aleart sekali lagi, Aleart pun kehilangannya sebelum sempat menemuinya kembali.
Pertemuan mereka sebelum api teleportasi Sorie memisahkan keduanya... ternyata adalah pertemuan terakhir.
“Waktu itu aku bilang padamu dia menunggu... tapi tak kusangka waktunya tinggal sedikit.” Sorie pun berkata pelan.
“Luka yang Yuuji dapat sangat dalam, sampai membentuk lubang di perutnya. Salah satu ginjalnya tak berfungsi lagi. Beberapa organnya pun mengalami kerusakan,” tutur Mia, matanya berkaca-kaca, “aku sudah berusaha sekeras mungkin, tapi aku tak berhasil....”
Suara Mia tak terdengar lagi. Dibandingkan Aleart, dialah yang merasakan penyesalan luar biasa. Sebagai perawat kerajaan, darahnya dikatakan bisa menyembuhkan apa saja, membuatnya diharapkan banyak orang. Mendapati satu nyawa tak bisa diselamatkan, tentu perasaaan menyesal itu akan terus membekas di hatinya.
"Tak apa, Mia. Kekuatan seorang perawat kerajaan juga punya batas, kan?” jawab Aleart, “kau sudah melakukan yang terbaik. Yuuji pergi memang karena sudah waktunya, bukan karena kegagalanmu.”
“Itu benar, Mia. Kau sudah bekerja keras,” timpal Sorie sambil tersenyum.
Mia terpana mendengarnya, kemudian mengangguk kecil. Ini jelas bukan pertama kalinya Mia gagal menyelamatkan nyawa seseorang. Karena itulah, Aleart maupun Sorie tak ingin membuatnya makin terpuruk dengan hal yang sebenarnya di luar kemampuannya itu.
“Apa Yuuji... mengatakan sesuatu pada Anda?” tanya Aleart. Karena terlalu terkejut dengan kenyataan ini, air matanya tertahan untuk keluar.
Sorie memperlihatkan sesuatu di tangannya. Sebuah lipatan kertas. Diberikannya kertas kecil itu pada Aleart.
“Dia memintaku untuk menuliskannya,” kata Sorie.
Tangan Aleart gemetar ketika menerimanya. Isinya memang tak terlalu banyak sampai berlembar-lembar, tapi perasaannya tak karuan ketika membuka lipatan kertas itu.