Negeri Utara kembali damai semenjak kepergian Kanmaki. Walaupun masih ada anggota perampok yang buron, istana tidak lagi menerima laporan kasus perampokan sejak saat itu. Entah ke mana perginya dua perampok yang sketsanya kini terpajang di seluruh istana. Apakah mereka masih menetap di sini atau sudah keluar kerajaan, tak ada yang tahu.
Sudah seminggu sejak kejadian itu, rumah-rumah yang hancur karena ulah Kanmaki pun sudah selesai dibangun kembali. Selama pemulihan pemukiman itu, warga yang kehilangan tempat tinggal mengungsi di rumah-rumah yang masih utuh.
Di sisi lain, keputusan hukum telah memberi para perampok hukuman penjara sesuai peraturan. Pengadilan empat anggota perampok itu dibuka untuk umum, memperbolehkan para warga yang ingin melihatnya untuk datang. Hobart, Kara, dan Deka mendapat hukuman lima tahun penjara, sementara Felis tiga kali lipatnya.
Catatan kriminal Felis bukan hanya merampok, tapi juga bersekutu dengan Kanmaki. Musuh leluhur itu memang sudah lenyap, tapi pihak istana masih mewaspadai Felis. Pasalnya, dia punya catatan kriminal yang parah di negeri asalnya.
Ash memutuskan untuk menyerahkannya pada Negeri Utara. Dia biarkan Sorie yang memproses Felis secara hukum, bukan dirinya. Meski di awal dia berkata ingin menyelesaikan masalah ayahnya dengan Felis, pada akhirnya dia tak membawanya ke Negeri Selatan.
“Kalau dia kembali ke tanahku, catatan kriminalnya akan mengirimnya pada hukuman mati. Sementara kalian tak akan melakukan itu, kan? Itulah mengapa aku menyerahkannya kembali padamu, mengikuti hukum yang berlaku di sini. Karena dia berhak untuk terus hidup,” tutur Ash ketika Sorie bertanya.
Tentu keputusan itu membuat Felis tercengang tak percaya. Dia ingin sekali bertanya pada raja itu kenapa membebaskannya begitu saja, tapi dirinya sudah keburu dibawa ke penjara.
Para perampok telah ditangkap, markas mereka yang kini kosong pun digeledah. Satu regu pengawal dikirim untuk membawa harta rampokan dari sana. Uang yang terkumpul dalam brankas itu kemudian dibagikan kembali kepada rakyat sesuai jumlah yang dirampok. Setiap ada pengaduan, pihak istana akan meminta nama dan alamat mereka, jadi akan mudah untuk mengembalikan harta para korban itu.
“Hari-hari yang damai... akhirnya kita bisa merasakannya lagi.” Seorang pedagang roti di pinggir jalan menghela napas lega, bicara pada pedagang buah di sebelahnya.
"Saat perampok itu masih ada, kita sampai tak mau membuka kios saking takutnya dirampok.” Pedagang buah tertawa.
“Permisi.”
Seseorang dengan jubah berwarna coklat tua menyela pembicaraan mereka. Wajahnya tertutup tudung, sementara tangannya menunjuk salah satu roti di kios tersebut.
“Ah, seorang pelanggan. Silahkan, silahkan,” sambut pedagang roti dengan ramah.
Pelanggan yang baru datang itu memilih beberapa roti, lalu membayarnya dan pergi sambil membawa roti belanjaannya dalam sebuah keranjang. Si pedagang melambai dan memintanya kembali lain waktu, tapi orang itu tak membalasnya. Dia langsung berbaur dengan kerumunan, pergi ke tempat asalnya.